



Tren Kabur Aja Dulu jadi Sinyal Krisis Kepercayaan Kepada Pemerintah? Ini Kata Sosiolog Unair Bagong Suyanto
Belakangan ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan tagar Kabur Aja Dulu, yang viral dan memenuhi lini masa media sosial. Kabur yang dimaksud adalah mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.
Menurut Sosiolog Universitas Airlangga, Prof. Bagong Suyanto, tagar Kabur Aja Dulu mencerminkan kecemasan dan ketidakpercayaan publik terhadap masa depan di dalam negeri. Dalam hal ini Indonesia.
Seruan Kabur Aja Dulu hadir sebagai bagian dari gerakan yang berkembang di era digital. Mereka memanfaatkan media sosial untuk membangun kesadaran masyarakat agar peduli terhadap isu-isu politik, ekonomi, dan lainnya.
“Jadi, memang gerakan itu tidak selalu dalam bentuk aksi di jalanan. Karena dampak dan gaungnya seringkali lebih besar dalam bentuk ajakan-ajakan di ruang publik," tuturnya di Surabaya, Selasa (25/2).
Meski begitu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair itu menekankan bahwa bertahan hidup di luar negeri juga tidak bisa dianggap enteng. Perlu persiapan banyak hal, terutama adaptasi bahasa.
Bagong berharap tren Kabur Aja Dulu tidak dipandang semata-mata sebagai dorongan untuk benar-benar meninggalkan Indonesia, melainkan sebagai kritik dan masukan bagi pemerintah.
“Pemerintah harus menerima itu sebagai masukan dan kemudian memperbaiki diri. Ini kan kegundahan, jawabannya tentu dengan counter discourse yang bisa menenangkan hati masyarakat,” tandasnya.
Sebelumnya, tren tagar Kabur Aja Dulu mendapat respons dari beberapa pejabat. Salah satunya oleh Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Christina Aryani.
"Sah-sah saja WNI mencari penghidupan yang lebih baik. Dan tolong jangan dijadikan alasan untuk mencoba-coba berangkat secara ilegal dan berujung pada masalah," kata Christina di Jakarta, Selasa (18/2).
Tag: #tren #kabur #dulu #jadi #sinyal #krisis #kepercayaan #kepada #pemerintah #kata #sosiolog #unair #bagong #suyanto