7 Tips Olahraga untuk Penyandang Disabilitas agar Tetap Aktif dan Sehat secara Aman serta Menyenangkan
Ilustrasi penyandang disabilitas berolahraga (Freepik)
21:24
2 Desember 2024

7 Tips Olahraga untuk Penyandang Disabilitas agar Tetap Aktif dan Sehat secara Aman serta Menyenangkan

– Cedera atau disabilitas tidak harus menjadi penghalang untuk tetap aktif. Dengan pendekatan yang tepat, aktivitas fisik tetap bisa dilakukan untuk mendukung kesehatan tubuh dan mental.

Olahraga adaptif mengacu pada aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kebutuhan atau keterbatasan individu. Fokusnya adalah memberikan manfaat kesehatan tanpa memperburuk kondisi tubuh.

Melakukan aktivitas fisik secara teratur membantu menjaga kesehatan jantung, memperkuat otot, dan meningkatkan suasana hati. Hal ini juga dapat mempercepat pemulihan cedera serta meningkatkan kualitas hidup.

Berikut tujuh tips olahraga untuk penyandang disabilitas agar tetap aktif dan sehat secara aman serta menyenangkan dilansir dari laman Helpguide oleh JawaPos.com, Senin (2/12):

1. Jenis Latihan untuk Cedera Tubuh Bagian Atas

Saat mengalami cedera tubuh bagian atas, aktivitas fisik tetap dapat dilakukan dengan memanfaatkan anggota tubuh bagian bawah. Berjalan atau menggunakan mesin elips dapat menjaga kebugaran kardiovaskular tanpa memberikan tekanan pada cedera.

Bagi yang memiliki akses ke kolam renang, berenang dengan alat bantu mengapung menjadi pilihan yang aman. Sepeda statis, baik tegak maupun rebahan, efektif meningkatkan detak jantung dan membakar kalori.

Dalam latihan kekuatan, alat seperti resistance band atau mesin beban dapat digunakan untuk melatih otot tubuh bagian bawah. Konsultasi dengan dokter atau terapis fisik penting untuk memastikan latihan dilakukan dengan aman sesuai kondisi cedera.

2. Latihan Isometrik

Latihan isometrik membantu mempertahankan kekuatan otot tanpa menggerakkan sendi. Teknik ini melibatkan tekanan konstan pada objek yang tidak bergerak, seperti mendorong dinding atau menggenggam benda diam.

Aktivitas ini cocok untuk mereka yang memiliki masalah pada sendi akibat cedera atau kondisi seperti radang sendi. Karena tidak ada perubahan panjang otot, risiko cedera lebih lanjut dapat diminimalkan.

Latihan ini sering direkomendasikan oleh terapis fisik sebagai bagian dari pemulihan atau perawatan jangka panjang. Dengan latihan yang teratur, otot tetap aktif dan fungsi tubuh dapat terjaga.

3. Stimulasi Otot Elektronik

Stimulasi otot elektronik menggunakan arus listrik rendah untuk mengkontraksi otot secara perlahan. Teknik ini dirancang untuk meningkatkan sirkulasi darah, mencegah atrofi otot, dan memperbaiki rentang gerak.

Elektroda ditempatkan di kulit untuk mengalirkan arus, sehingga otot berkontraksi tanpa gerakan aktif dari individu. Metode ini sering digunakan dalam rehabilitasi bagi mereka yang mengalami cedera atau imobilisasi jangka panjang.

Hasilnya, fungsi otot dapat dipertahankan atau diperbaiki secara bertahap. Penggunaan teknologi ini harus dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis untuk memastikan keamanannya.

4. Latihan di Kursi atau Kursi Roda

Berolahraga di kursi atau kursi roda memberikan alternatif yang nyaman bagi mereka dengan keterbatasan mobilitas. Latihan seperti aerobik kursi membantu meningkatkan detak jantung sambil membakar kalori.

Resistance band yang digunakan sambil duduk dapat memperkuat otot tubuh bagian atas dan menjaga fleksibilitas. Postur tubuh yang tegak selama latihan penting untuk mendapatkan manfaat maksimal dan mencegah cedera tambahan.

Jika memiliki kondisi medis tertentu seperti diabetes, pemeriksaan gula darah sebelum dan sesudah latihan sangat dianjurkan. Aktivitas fisik di air juga menjadi pilihan untuk mengurangi tekanan pada sendi dan memberikan kebugaran menyeluruh.

5. Latihan Kekuatan di Posisi Duduk

Latihan kekuatan di posisi duduk efektif meningkatkan kekuatan tubuh bagian atas. Dumbel ringan atau resistance band dapat digunakan untuk latihan seperti shoulder press, bicep curl, dan tricep extension.

Repetisi rendah dengan beban yang sesuai membantu mencegah ketegangan otot. Penambahan intensitas latihan secara bertahap penting untuk mendukung peningkatan kekuatan.

Resistance band dapat dipasang pada kursi atau gagang pintu untuk menambah variasi gerakan. Melakukan dua hingga tiga set dengan repetisi terukur memberikan hasil optimal tanpa membebani tubuh.

6. Peregangan untuk Fleksibilitas

Peregangan rutin meringankan rasa nyeri akibat duduk terlalu lama. Posisi berbaring atau duduk dapat digunakan untuk peregangan yang menargetkan otot-otot utama.

Yoga dan tai chi menjadi pilihan populer yang dapat disesuaikan untuk mereka dengan keterbatasan fisik. Aktivitas ini membantu meningkatkan fleksibilitas dan memperbaiki rentang gerak tubuh.

Peregangan yang konsisten juga mendukung postur tubuh yang lebih baik dan mengurangi resiko cedera. Memastikan teknik peregangan yang benar melalui kelas atau panduan daring dapat meningkatkan efektivitas latihan.

7. Aktivitas Air untuk Kebugaran

Latihan di air menjadi pilihan yang efektif karena sifatnya yang mendukung tubuh. Aerobik air dapat meningkatkan kebugaran kardiovaskular sekaligus melindungi sendi dari tekanan berlebih.

Berenang dengan alat bantu mengapung memungkinkan tubuh tetap aktif tanpa membebani cedera. Banyak pusat kebugaran menyediakan kelas khusus terapi air untuk pengguna kursi roda atau mereka yang mengalami keterbatasan gerak.

Aktivitas air juga membantu meningkatkan fleksibilitas dan memperkuat otot secara keseluruhan. Dengan dukungan pelatih profesional, latihan ini dapat dilakukan dengan aman. Pilihan ini cocok untuk individu dari berbagai tingkat kemampuan fisik.

Menerapkan aktivitas fisik yang sesuai membantu menjaga kesehatan tubuh dan mental. Pilihan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing dapat menciptakan pengalaman olahraga yang aman dan menyenangkan.

Editor: Setyo Adi Nugroho

Tag:  #tips #olahraga #untuk #penyandang #disabilitas #agar #tetap #aktif #sehat #secara #aman #serta #menyenangkan

KOMENTAR