



Amal yang Dijadikan Konten: Mengungkap 6 Kepribadian Orang yang Berbuat Baik Demi Popularitas di Media Sosial
Dewasa ini, mencari validitas dan pengakuan di media sosial semakin marak dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu hal yang cukup ironis yakni, maraknya perbuatan baik dan beramal yang sering kali dijadikan konten. Pada dasarnya, hal ini memang tidak salah, namun pada kenyataanya tidak semua orang yang membagikan aksi kebaikan di media sosial melakukannya dengan tulus. Alih-alih berbagi dan memberikan contoh yang baik, kini makin banyak ditemukan bahwa kegiatan tersebut hanya untuk mencari keuntungan dan mencari popularitas. Meski beberapa orang melakukannya benar-benar dengan hati yang tulus dan ingin menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa.
Namun, penting untuk memahami bahwa niat di balik tindakan adalah aspek yang sangat penting.
Jika kebaikan dilakukan hanya untuk pencitraan atau keuntungan pribadi, maka esensinya berkurang.
Sebaliknya, jika tujuan utamanya adalah untuk memberikan dampak positif, media sosial bisa menjadi alat yang luar biasa untuk menyebarkan energi positif.
Lantas, apakah tindakan tersebut benar-benar membawa manfaat bagi orang lain? Ataukah hanya sekadar ajang pamer?
Dikutip dari laman Geediting, inilah enam ciri utama orang yang melakukan kebaikan dan beramal hanya untuk konten dan mencari popularitas semata.
1. Mereka Sangat Membutuhkan Validasi
Salah satu ciri utama dari orang yang berbuat baik demi popularitas adalah kebutuhan akan validasi. Mereka mencari pengakuan dalam bentuk likes, komentar, dan pujian di media sosial.
Misalnya, seseorang mungkin merekam momen saat mereka memberikan makanan kepada tunawisma, bukan hanya untuk membantu tetapi juga untuk memastikan orang lain melihat dan memuji aksi mereka.
Validasi ini memberikan rasa kepuasan yang mendalam, bahkan lebih dari perbuatan baik itu sendiri.
2. Mereka Cenderung Narcissistic
Kepribadian narsistik sering kali menjadi alasan di balik tindakan kebaikan yang dibuat untuk konsumsi publik.
Orang dengan sifat ini ingin memastikan bahwa mereka selalu terlihat sebagai sosok yang hebat di mata orang lain.
Mereka memanfaatkan aksi kebaikan sebagai alat untuk membangun citra diri. Dalam pandangan mereka, semakin banyak orang yang mengapresiasi, semakin tinggi rasa percaya diri mereka.
Sayangnya, fokus mereka sering kali lebih kepada "bagaimana saya terlihat," daripada dampak nyata dari tindakan tersebut.
3. Mereka Ingin Mendapatkan Keuntungan Pribadi
Perbuatan baik yang terlihat di media sosial sering kali dilakukan dengan motif tersembunyi.
Beberapa individu memanfaatkan kebaikan sebagai strategi untuk mendapatkan keuntungan, baik itu dalam bentuk popularitas, dukungan, atau bahkan peluang bisnis.
Sebagai contoh, seorang influencer mungkin mendonasikan sejumlah uang sambil mempromosikan merek tertentu.
Dengan begitu, mereka tidak hanya tampak dermawan tetapi juga mendapatkan manfaat finansial atau reputasi yang menguntungkan.
4. Mereka Berorientasi pada Citra Publik
Orang-orang yang melakukan perbuatan baik demi popularitas biasanya sangat peduli dengan bagaimana mereka dipersepsikan oleh publik.
Mereka berusaha keras untuk membangun citra sebagai individu yang peduli dan inspiratif.
Hal ini tidak selalu berarti mereka sepenuhnya tidak tulus. Namun, tindakan mereka sering kali lebih berfokus pada penampilan luar daripada esensi kebaikan itu sendiri.
Akibatnya, kebaikan yang mereka lakukan sering terkesan ‘berlebihan’ atau sengaja dipamerkan untuk mendapatkan perhatian.
5. Mereka Memiliki Rasa Tidak Aman (Insecure)
Orang yang merasa tidak aman dengan dirinya sendiri sering kali mencari cara untuk mendapatkan validasi eksternal.
Melakukan perbuatan baik yang dipublikasikan menjadi salah satu cara untuk menutupi rasa tidak aman tersebut.
Dengan mendapatkan pujian dari orang lain, mereka merasa lebih percaya diri. Namun, sayangnya, rasa puas ini biasanya bersifat sementara.
Mereka mungkin merasa perlu terus memposting tindakan serupa untuk mempertahankan citra diri yang telah mereka bangun.
6. Mereka Menyukai Pengakuan sebagai "Orang Baik"
Bagi sebagian orang, label sebagai “orang baik” adalah sesuatu yang sangat diidamkan. Mereka ingin dikenang sebagai individu yang peduli dan inspiratif.
Ketika seseorang secara konsisten mempublikasikan perbuatan baik mereka, motivasinya mungkin adalah untuk memastikan bahwa dunia mengetahui kontribusi mereka.
Mereka sering kali ingin dikenang sebagai pahlawan modern yang menggunakan media sosial sebagai platform untuk menonjolkan "kepedulian" mereka.
***
Tag: #amal #yang #dijadikan #konten #mengungkap #kepribadian #orang #yang #berbuat #baik #demi #popularitas #media #sosial