Psikolog Ungkap Alasan Korban Pelecehan Seksual Kerap Menyalahkan Diri
Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama pemilik brand Thanksinsomnia, Mohan Hazian, kembali membuka diskusi publik tentang dampak psikologis yang dialami korban kekerasan seksual.
Peristiwa yang disebut terjadi pada 2025. Dalam kronologi yang beredar, korban merupakan talent untuk pemotretan produk. Setelah sesi photoshoot selesai, korban diajak makan bersama.
Namun, situasi tersebut berubah ketika korban justru dibawa berdua saja dan mengalami dugaan pelecehan seksual.
Pengalaman itu meninggalkan trauma mendalam, hingga korban baru berani mengungkapkan peristiwa tersebut setelah merasa cukup siap secara mental.
Baca juga: Dari Bantahan ke Pengakuan: Mohan Akhirnya Minta Maaf ke Korban
Mohan Hazian pada akhirnya menyampaikan permintaan maaf dan menegaskan menghormati sepenuhnya hak serta langkah yang akan diambil oleh pihak terkait atas peristiwa tersebut.
"Saya menerima tanggung jawab tanpa pembenaran atau pengalihan kesalahan kepada pihak mana pun," kata dia.
Menyalahkan diri sendiri sebagai respons yang valid
Merunut kasus ini, korban justru menyalahkan diri sendiri atas apa yang dialaminya. Ternyata hal itu memang menjadi kecenderungan banyak korban kekerasan seksual.
“Hal ini valid, terutama saat korban mendapatkan perlakuan tadi kekerasan seksual. Biasanya memang muncul respon menyalahkan diri sendiri,” ungkap psikolog klinis Jessica Rosdiana Tobing M.Psi, saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (11/2/2026).
Baca juga: Kasus Dugaan Pelecehan Mohan Hazian, Mengapa Korban Baru Berani Speak Up Setelah Berbulan-bulan?
Ia menuturkan, respons tersebut tidak bisa dilepaskan dari lingkungan sosial yang masih melakukan budaya victim blaming.
Dalam kondisi itu, korban perlahan menyerap narasi yang menyudutkan dirinya sendiri.
“Akhirnya korban pun merasa kekerasan seksual yang dia alami itu terjadi karena tindakan yang ia lakukan juga. Mungkin korban jadi berpikir seharusnya aku tidak berpakaian seperti ini atau menyalahkan tindakannya,” ujarnya.
Padahal, pemikiran tersebut muncul bukan karena korban benar-benar bersalah, melainkan karena tekanan sosial dan trauma yang belum terolah dengan baik.
Ilustrasi korban. Polda Jateng masih belum juga menetapkan tersangka kasus video tidak senonoh hasil AI yang melibatkan alumni SMAN 11 Semarang.
Tidak semua korban bisa melawan
Psikolog klinis Ellyana Dwi Farisandy, M.Psi., menambahkan, banyak korban menyalahkan diri sendiri karena membandingkan respons mereka dengan gambaran ideal yang sering muncul di masyarakat.
“Banyak korban ketika mengalami pelecehan dia bisa fight atau memberi respon menolak. Tapi tidak semua seperti itu, setiap menusia punya respon trauma yang berbeda,” jelas Ellyana yang juga seorang dosen program studi psikologi di Universitas Pembangunan Jaya, ini.
Baca juga: Jangan Salahkan Korban Pelecehan Seksual, Psikolog Jelaskan Mengapa Tak Semua Bisa Teriak
Ketika korban tidak melawan, tidak berteriak, atau tidak langsung pergi, mereka kerap merasa gagal melindungi diri sendiri.
Jessica kembali menegaskan bahwa pola pikir ini sangat manusiawi, meski menyakitkan.
“Yang perlu diingat adalah yang telah terjadi bukanlah salah korban. Dengan berbagai macam konteks tadi sulit tentunya untuk tidak menyalahkan diri sendiri,” kata Jessica.
Menurut kedua psikolog, narasi bahwa korban “seharusnya bisa melakukan sesuatu” justru memperdalam luka dan membuat proses pemulihan semakin berat.
Baca juga: Anak Jadi Korban Pelecehan di Lingkungan Sekolah, Orangtua Harus Apa?
Memulihkan diri tanpa menyangkal luka
Mengubah narasi dari menyalahkan diri sendiri menjadi narasi yang lebih sehat membutuhkan waktu dan dukungan yang tepat.
“Namun dengan mengubah narasi ini, dari yang tadi menyalahkan diri sendiri dan menjadi narasi yang lebih sehat, itu membutuhkan waktu serta mungkin bantuan profesional,” ujar Jessica.
Ellyana menambahkan, menyalahkan diri sendiri secara terus-menerus justru membuat luka trauma semakin dalam.
“Dengan bantuan profesional, korban bisa pulih dan tidak lagi menyalahkan diri sendiri. Ketika korban terus menyalahkan diri, maka rasanya akan semakin sakit dan tak kunjung pulih,” katanya.
Baca juga: 4 Langkah agar Korban Pelecehan Seksual Tidak Merasa Rendah Diri
Ia juga menekankan, korban tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. Memvalidasi perasaan bahwa korban sedang tidak baik-baik saja penting untuk mengolah emosi.
“Tidak apa-apa, diproses pelan-pelan emosinya dan jangan lupa untuk ke professional mental health untuk mendapatkan bantuan yang kamu butuhkan,” pungkasnya.
Kasus dugaan pelecehan Mohan Hazian kembali menegaskan bahwa menyalahkan diri sendiri adalah respons yang manusiawi dan bagian dari proses penerimaan trauma.
Empati, pemahaman, dan dukungan menjadi fondasi penting agar korban dapat pulih tanpa memikul kesalahan yang bukan miliknya.
Baca juga: Pelecehan Seksual Juga Bisa Terjadi dalam Kasus Bullying, Kenapa?
Tag: #psikolog #ungkap #alasan #korban #pelecehan #seksual #kerap #menyalahkan #diri