MSCI dan Moody's Guncang Pasar Saham Tanah Air, Indonesia Perlu Pulihkan Kepercayaan Investor Global
Ilustrasi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
22:27
12 Februari 2026

MSCI dan Moody's Guncang Pasar Saham Tanah Air, Indonesia Perlu Pulihkan Kepercayaan Investor Global

- Pasar saham Indonesia sempat terguncang akibat sorotan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Moody’s. Untuk memulihkan kondisi, pemerintah perlu mengambil sejumlah langkah strategis. Tujuannya tidak lain demi memulihkan kepercayaan investor, termasuk investor global.

Menurut pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) R. Haidar Alwi, sorotan dari MSCI dan Moody’s terhadap Indonesia bukan hanya soal angka, melainkan berkaitan dengan kepercayaan. Dia menyebut, pasar global bekerja berdasarkan ekspektasi yang dibentuk oleh persepsi terhadap stabilitas kebijakan, kredibilitas institusi, serta konsistensi arah ekonomi jangka panjang.

Untuk itu, wakil ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB tersebut mengungkap beberapa langkah yang dapat diambil untuk memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia. Dia menekankan, memulihkan kepercayaan investor global tidak cukup dengan bantahan atau klarifikasi sesaat. Perlu langkah yang secara tegas menunjukkan Indonesia tetap berada pada jalur kebijakan yang dapat diprediksi.

”Langkah pertama yang paling mendasar adalah memperkuat kepastian arah fiskal. Investor global membutuhkan gambaran yang jelas mengenai bagaimana pemerintah mengelola defisit, pembiayaan utang, dan prioritas belanja dalam beberapa tahun ke depan,” kata dia.

Haidar menyebut, roadmap fiskal jangka menengah menjadi penting untuk memberi sinyal bahwa ekspansi belanja negara tetap berada dalam batas yang terukur. Ketika arah fiskal jelas, kata dia, risiko persepsi terhadap stabilitas makro akan menurun, dan biaya risiko yang biasanya dibebankan investor terhadap aset Indonesia dapat ikut mereda.

Namun demikian, stabilitas kebijakan dinilai tidak akan efektif tanpa konsistensi komunikasi. Dalam banyak kasus, Haidar menyebut, reaksi negatif pasar justru muncul bukan karena perubahan kebijakan, melainkan karena perbedaan pesan yang disampaikan oleh pejabat ekonomi. Pada poin itu langkah kedua berupa konsolidasi narasi ekonomi pemerintah dibutuhkan.

”Investor global membaca setiap pernyataan publik sebagai sinyal kebijakan. Karena itu, konsolidasi narasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa komunikasi terkait pasar modal, fiskal, maupun program strategis disampaikan secara teknokratis, berbasis data, dan tidak emosional. Dia mengingatkan, pasar cenderung merespons positif pada pemerintah yang terlihat tenang dan terukur dalam menghadapi tekanan.

Ketiga, dibutuhkan penguatan kredibilitas institusi ekonomi. Sebab, kepercayaan investor sangat ditentukan oleh kredibilitas institusi ekonomi. Bank sentral yang independen, otoritas fiskal yang disiplin, serta regulator pasar yang transparan menjadi pondasi utama persepsi risiko suatu negara.

”Penguatan peran teknokrat dalam komunikasi ekonomi akan membantu menggeser perhatian pasar dari dinamika politik jangka pendek menuju fundamental ekonomi. Transparansi data fiskal dan pembiayaan proyek besar juga penting untuk memastikan bahwa investor memiliki informasi yang cukup dalam menilai risiko secara objektif,” bebernya.

Berikutnya langkah keempat yang terkait dengan kepastian langsung untuk investor global. Haidar menyampaikan bahwa pemulihan kepercayaan juga tidak bisa hanya dilakukan di dalam negeri. Investor global perlu diyakinkan secara langsung melalui engagement yang aktif.

Setelah harus dipastikan berlangsungnya percepatan reformasi struktural, pengelolaan risiko politik dan persepsi pasar, serta berjalannya strategi komunikasi untuk mengubah momentum negatif. Dia menegaskan, memulihkan kepercayaan investor global tidak bisa melalui proses instan.

”Strategi yang paling efektif justru bukan menyangkal sorotan dari lembaga internasional, melainkan meresponsnya secara rasional dan terbuka. Mengakui catatan sebagai bagian dari evaluasi, sekaligus menunjukkan langkah korektif yang terukur, akan memberi sinyal bahwa Indonesia berada dalam fase penyesuaian, bukan dalam kondisi krisis,” jelasnya.

 

Editor: Sabik Aji Taufan

Tag:  #msci #moodys #guncang #pasar #saham #tanah #indonesia #perlu #pulihkan #kepercayaan #investor #global

KOMENTAR