Tantangan dari Elite Militer Bayangi Suksesi Kim Ju Ae di Korea Utara
- Wacana mengenai Kim Ju Ae sebagai calon penerus Kim Jong Un tak hanya memantik spekulasi politik, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar soal sikap elite militer Korea Utara.
Di negara dengan struktur kekuasaan yang sangat bertumpu pada kekuatan angkatan bersenjata, restu para jenderal menjadi faktor krusial dalam setiap transisi kepemimpinan.
Badan intelijen Korea Selatan (NIS) sebelumnya menyebut Kim Ju Ae telah memasuki tahap 'pewaris resmi' dengan penguatan peran dalam sejumlah agenda kenegaraan. Namun, di balik simbol dan protokol, tantangan sesungguhnya diyakini berada di lingkar dalam militer.
Angkatan Bersenjata Rakyat Korea (KPA) selama ini menjadi pilar utama rezim. Sejak era Kim Il Sung hingga Kim Jong Un, dukungan militer memastikan stabilitas kekuasaan tetap terjaga.
Struktur komando KPA juga didominasi jenderal senior laki-laki yang tumbuh dalam budaya politik patriarkal dan hierarkis.
Dalam konteks tersebut, muncul pertanyaan: apakah elite militer siap menerima pemimpin perempuan?
Melansir outlet media lokal, secara historis, suksesi di Korea Utara selalu diwariskan dari ayah ke anak laki-laki. Tidak ada preseden kepemimpinan perempuan dalam garis utama dinasti Kim.
Jika Kim Ju Ae benar-benar diproyeksikan menjadi penerus, ia berpotensi menghadapi resistensi diam-diam dari kelompok militer yang selama ini menjadi penentu keseimbangan kekuasaan.
Pengamat menilai, untuk mengamankan dukungan, kemungkinan akan ada strategi konsolidasi sejak dini, mulai dari memperkuat citra publiknya di acara militer, menempatkannya dalam simbol-simbol loyalitas tentara, hingga membangun jejaring dengan elite partai dan militer.
Sejauh ini, kemunculan Kim Ju Ae di peringatan militer dan acara strategis negara dinilai sebagai bagian dari proses legitimasi bertahap. Kehadirannya bukan sekadar simbol keluarga pemimpin, melainkan sinyal bahwa ia mulai diperkenalkan kepada struktur kekuasaan utama negara.
Namun, dinamika internal Korea Utara sulit dipastikan karena minimnya informasi terbuka. Dukungan militer terhadap suksesi perempuan akan sangat menentukan stabilitas politik jangka panjang, terutama di tengah tekanan sanksi internasional dan ketegangan geopolitik di Semenanjung Korea.
Jika elite militer memberikan dukungan penuh, maka Kim Ju Ae berpeluang mencatat sejarah sebagai pemimpin perempuan pertama Korea Utara.
Sebaliknya, tanpa konsolidasi kuat di tubuh angkatan bersenjata, proses transisi kekuasaan berpotensi menghadapi tantangan serius di balik layar kekuasaan Pyongyang.
Tag: #tantangan #dari #elite #militer #bayangi #suksesi #korea #utara