Industri Baja Nasional Didorong Mandiri di Tengah Badai Global
Ilustrasi industri baja.(SHUTTERSTOCK/NORDRODEN)
21:16
12 Februari 2026

Industri Baja Nasional Didorong Mandiri di Tengah Badai Global

Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) menyelenggarakan Musyawarah Nasional (MUNAS) IISIA 2026 pada Rabu (11/2/2026) di Jakarta.

Mengusung tema Peluang Strategis Industri Baja Indonesia dalam Membangun Kedaulatan Ekosistem Industri Baja Nasional, forum ini membahas arah kebijakan, tantangan global, serta langkah konkret dalam memperkuat ekosistem industri baja nasional.

Chairman IISIA Akbar Djohan menekankan, industri baja nasional saat ini menghadapi tekanan besar dari dinamika global.

Baca juga: Silmy Karim Sebut Industri Baja Nasional Sudah Lama Sengsara

“Kita berada di tengah badai global. Oversupply melanda pasar dunia, harga bahan baku berfluktuasi, dan tekanan produk impor terus mengancam pasar domestik,” ujar Akbar.

Ia menyebut, di tengah tantangan tersebut Indonesia memiliki potensi yang besar, antara lain dari proyek infrastruktur yang terus berjalan, hilirisasi yang semakin masif, serta pertumbuhan sektor manufaktur.

Namun, menurut dia, tanpa fondasi yang kuat, peningkatan permintaan baja berpotensi hanya menjadi pintu masuk bagi produk luar negeri.

“Hari ini kita berjanji: Baja nasional harus berdaulat. Kita harus mandiri, kompetitif, dan menjadi tuan rumah yang tangguh di negeri sendiri,” tegas Akbar.

Baca juga: Silmy Karim: Asal Fair, Industri Baja RI Bisa Menang Lawan China

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan industri besi dan baja merupakan tulang punggung perekonomian nasional.

“Pemerintah terus mendorong sinergi antara pelaku usaha, asosiasi, dan regulator untuk meningkatkan daya saing, memperkuat kapasitas produksi, serta mempercepat transformasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Diskusi difokuskan pada sejumlah isu strategis, antara lain pengendalian impor dan trade remedies, kebijakan P3DN dan standardisasi, energi dan bahan baku, roadmap industri baja nasional, hilirisasi, serta keberlanjutan lingkungan.

Ilustrasi industri baja, produk baja. Trump Naikkan Tarif Impor Baja Jadi 50 Persen, Uni Eropa Siap MembalasWIKIMEDIA COMMONS/ANTONIOROSSET Ilustrasi industri baja, produk baja. Trump Naikkan Tarif Impor Baja Jadi 50 Persen, Uni Eropa Siap Membalas

Salah satu poin penting yang dibahas dalam MUNAS IISIA 2026 adalah penguatan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk seluruh produk baja, termasuk baja impor.

Baca juga: Pajak Sektor Baja Diduga Bocor Rp 4 T Per Tahun

IISIA menekankan bahwa semua baja yang beredar di Indonesia, baik produksi lokal maupun impor, wajib memenuhi SNI sebagai jaminan keamanan, keselamatan, dan kualitas produk.

Standar tersebut dinilai krusial untuk melindungi konsumen, memastikan keandalan konstruksi infrastruktur, serta menciptakan persaingan yang adil dan sehat di pasar domestik .

IISIA juga mendorong pemerintah untuk memperkuat pengawasan di perbatasan (border control) dan pascaperbatasan (post-border monitoring) guna memastikan tidak ada produk baja yang tidak memenuhi standar beredar di pasaran.

IISIA menegaskan bahwa masa depan baja nasional tidak dapat hanya bergantung pada mekanisme pasar, melainkan membutuhkan kehadiran negara melalui kebijakan yang tegas.

Baca juga: Galangan Kapal Dalam Negeri Jadi Harapan Baru Industri Baja Nasional

“Masa depan baja nasional ditentukan oleh keberanian negara dalam mengambil pilihan kebijakan. Kita membutuhkan pengelolaan impor yang ketat, pengendalian investasi pada sektor yang sudah jenuh, penegakan standardisasi SNI yang konsisten, serta perlindungan kapasitas strategis di tengah dinamika perdagangan global,” jelas Akbar.

IISIA merupakan asosiasi yang mewadahi pelaku industri besi dan baja nasional.

Organisasi ini berperan sebagai mitra strategis pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang mendukung pertumbuhan, daya saing, dan keberlanjutan industri baja nasional.

Tag:  #industri #baja #nasional #didorong #mandiri #tengah #badai #global

KOMENTAR