WHO Tetapkan Wabah Ebola sebagai Darurat Global, Apa Risikonya bagi Indonesia?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Uganda dan Kongo sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia.
Meski begitu, kondisi ini belum berarti dunia menghadapi pandemi global seperti Covid-19.
Para ahli menilai risiko penyebaran Ebola secara luas masih lebih rendah karena karakter penularannya berbeda.
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dr. Dicky Budiman, PhD, mengatakan Indonesia tidak perlu panik, tetapi harus meningkatkan kewaspadaan.
“Situasi ini tentu serius, tetapi bukan berarti pandemi global. Yang penting adalah kesiapsiagaan dan respons cepat,” ujar Dicky dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Senin (18/5/2026).
Risiko Ebola ke Indonesia masih rendah-menengah
Menurut Dicky, risiko Ebola masuk ke Indonesia saat ini tergolong rendah hingga menengah, tetapi tetap nyata karena tingginya mobilitas internasional.
Ia menjelaskan, Ebola berbeda dengan Covid-19 karena tidak menular melalui udara bebas seperti SARS-CoV-2.
Virus menyebar melalui kontak erat dengan cairan tubuh penderita, seperti darah, muntahan, air liur, atau cairan tubuh lainnya.
“Transmisinya relatif lebih lambat dan membutuhkan kontak intens,” katanya.
Meski demikian, ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko penyebaran lintas negara, seperti: mobilitas internasional yang tinggi, urbanisasi di Afrika, konflik bersenjata yang menghambat pengendalian wabah, serta adanya kasus lintas negara.
Selain itu, jalur masuk yang perlu diwaspadai adalah penerbangan internasional, pekerja migran, pelaut, maupun pelaku perjalanan bisnis dari wilayah terdampak.
Baca juga: Tak Perlu Panik Virus Hanta, Ini Cara Kurangi Risiko Infeksinya
Indonesia perlu perkuat pengawasan pintu masuk
Dicky mengatakan pemerintah Indonesia tidak perlu menutup total perbatasan, tetapi perlu memperketat pengawasan di pintu masuk internasional.
Penguatan surveillance epidemiologi di bandara, pelabuhan laut, serta jalur migrasi internasional dinilai penting dilakukan sejak sekarang.
Menurut dia, skrining berbasis risiko perlu difokuskan pada riwayat perjalanan dalam 21 hari terakhir, terutama bagi pelaku perjalanan yang mengalami gejala demam akut, perdarahan, atau memiliki kontak dengan pasien Ebola.
Selain itu, kesiapan sistem kesehatan juga harus diperkuat, mulai dari laboratorium, kemampuan diagnostik PCR filovirus, hingga sistem transportasi spesimen biohazard.
Rumah sakit rujukan juga perlu memastikan kesiapan ruang isolasi tekanan negatif, alat pelindung diri (APD), serta pelatihan tenaga kesehatan.
“Banyak pelajaran dari pandemi sebelumnya. Negara gagal bukan karena virus terlalu kuat, tetapi karena sistem kesehatan terlambat bereaksi,” ujarnya.
Pentingnya pendekatan One Health
Dalam penanganan Ebola, Dicky menekankan pentingnya pendekatan One Health, yakni konsep yang melihat kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan.
Menurut dia, wabah Ebola tidak hanya berkaitan dengan manusia, tetapi juga dipengaruhi oleh deforestasi, perdagangan satwa liar, perubahan iklim, hingga eksploitasi hutan tropis.
Karena itu, penanganan penyakit menular tidak cukup hanya melibatkan Kementerian Kesehatan, tetapi juga kementerian lain seperti lingkungan hidup, pertanian, karantina, hingga sektor satwa liar dan kebencanaan.
“Ancaman kesehatan masa depan bukan lagi sekadar masalah medis, tetapi gabungan antara krisis ekologi, perubahan iklim, mobilitas global, dan keamanan manusia,” kata Dicky.
Masyarakat tak perlu panik
Dicky juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik ataupun memberi stigma terhadap warga Afrika.
Ia mengimbau masyarakat meningkatkan literasi kesehatan dengan mengikuti informasi resmi dari Kementerian Kesehatan maupun sumber ilmiah yang kredibel.
Selain itu, perilaku hidup bersih dan sehat serta menghindari konsumsi satwa liar berisiko juga penting dilakukan untuk mencegah penyakit zoonosis.
Baca juga: 3 Penumpang Kapal Pesiar Meninggal karena Virus Hanta, Gejalanya Sering Dikira Flu
Ada kekhawatiran subvarian baru Ebola
Dalam perkembangan terbaru, muncul kekhawatiran adanya sublineage atau subvarian baru dari Bundibugyo Ebola virus (BDBV) yang diduga menjadi pemicu outbreak di Uganda dan Kongo.
Namun, Dicky menegaskan temuan tersebut masih bersifat awal dan belum mendapat konfirmasi penuh dari WHO maupun publikasi ilmiah peer review.
“Mutasi tidak otomatis membuat virus lebih mematikan atau lebih menular. Ini masih perlu penelitian lebih lanjut,” ujarnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar saat ini bukan hanya virusnya, tetapi juga kondisi sosial dan ekologis di wilayah wabah, seperti konflik bersenjata, lemahnya sistem kesehatan, rendahnya kepercayaan publik, dan tingginya mobilitas penduduk.
Menurut Dicky, kondisi tersebut membuat wabah lebih mudah meluas ke wilayah perkotaan dan pusat transportasi.
“Dunia sekarang memasuki era di mana wabah lokal lebih mudah menjadi regional bahkan lintas benua karena konektivitas manusia semakin tinggi,” ungkapnya.
Tag: #tetapkan #wabah #ebola #sebagai #darurat #global #risikonya #bagi #indonesia