Standar Hidup Baru ala Media Sosial dan Bagaimana Menyikapinya?
Ilustrasi media sosial dan interaksi dunia digital, literasi media.(SHUTTERSTOCK/RAWPIXEL.COM)
06:55
10 Februari 2026

Standar Hidup Baru ala Media Sosial dan Bagaimana Menyikapinya?

Media sosial kini bukan sekadar ruang berbagi cerita, tetapi juga menjadi etalase "gaya hidup sukses".  Dari outfit harian, perawatan kulit, hingga cara menghabiskan waktu luang, semuanya seolah memiliki standar tak tertulis yang ramai ditiru.

Tanpa disadari, standar ini kerap menimbulkan tekanan, terutama bagi generasi muda yang sedang membangun identitas diri.

Sosiolog Sry Lestari Samosir, M.Sos menilai, fenomena ini sebagai tantangan serius dalam kehidupan sosial masyarakat saat ini.

Menurutnya, paparan konten yang masif membuat banyak orang kesulitan membedakan kebutuhan dan keinginan.

Baca juga: Jangan Terburu-buru, Lakukan Ini Sebelum Anak Memiliki Ponsel dan Media Sosial

Standar media sosial dan ilusi kehidupan ideal

Sry menjelaskan, media sosial, khususnya platform berbasis video singkat, telah melahirkan apa yang ia sebut sebagai “standar TikTok”.

Standar ini sering kali dikaitkan dengan barang mewah, penampilan fisik, dan gaya hidup tertentu yang tampak ideal.

“Tantangan generasi yang mengonsumsi media sosial itu munculnya standar TikTok. Biasanya identik dengan harga outfit, skincare, dan lainnya,” ujar Sry saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (6/2/2026).

Masalahnya, standar tersebut tidak selalu mencerminkan realitas kehidupan mayoritas masyarakat.

Konten yang ditampilkan sering kali terkurasi, dipoles, bahkan tak jarang hanya menampilkan potongan kecil dari kehidupan seseorang.


Baca juga: Mengapa Banyak Orang Lebih Pilih Komplain di Media Sosial? Ini Kata Sosiolog

Ilustrasi flexing. Dok. Unsplash/Chalo Garcia Ilustrasi flexing.

Penjajahan gaya hidup tanpa senjata

Lebih jauh, Sry menilai fenomena ini sebagai bentuk penjajahan gaya hidup di era modern.

Bukan dengan kekuatan fisik, melainkan melalui pengaruh budaya populer yang perlahan membentuk cara pandang dan pola konsumsi masyarakat.

“Ini sebenarnya bentuk penjajahan zaman sekarang, bukan dalam bentuk senjata tapi dari gaya hidup yang membuat banyak orang semakin terbelenggu dan kehilangan arah,” ungkap Sry.

Ia menambahkan, kondisi tersebut mendorong kecenderungan untuk mengejar kesenangan sesaat, mengutamakan kepraktisan, serta budaya pamer yang kian marak di ruang digital.

“Kondisi ini membuat banyak dari kita yang menyenangi hal-hal kesenangan sesaat, serba instan dan flexing di mana-mana,” lanjut dosen di Universitas Negeri Medan ini.

Baca juga: Fenomena Flexing di Media Sosial, Tanda Seseorang Butuh Validasi Orang Lain

Pentingnya pondasi diri dan peran keluarga

Di tengah derasnya tekanan untuk mengikuti standar media sosial, Sry menekankan pentingnya kemampuan individu untuk menyaring informasi.

Menurutnya, kekuatan utama untuk tidak terjebak tetap berasal dari dalam diri masing-masing.

“Hanya diri kita yang bisa memfilternya dengan pondasi diri yang kuat dan tidak mudah terpengaruh. Sayangnya, pemerintah kita belum punya aturan khusus untuk konten-konten yang sesuai budaya sosial kita,” ujarnya.

Oleh karena itu, peran keluarga menjadi krusial. Nilai-nilai sederhana seperti hidup sesuai kemampuan dinilai harus kembali ditekankan sejak dini.

“Jadi masyarakat, khususnya keluarga, yang harus menanamkan prinsip untuk menyesuaikan isi dompet dengan gaya hidup, jangan memaksakan sesuatu yang di luar kemampuan,” kata Sry.

Belajar menjadi diri sendiri

Sry juga mengingatkan pentingnya pendidikan karakter, terutama dari orangtua kepada anak. Media sosial, menurutnya, seharusnya tidak menjadi alat untuk mengukur nilai seseorang.

“Penting bagi para orangtua untuk mengajarkan pada anak untuk menjadi diri sendiri, tidak menilai orang lain berdasarkan pakaiannya, serta nilai luhur bangsa,” ujarnya.

Ia berpesan agar masyarakat tidak menelan mentah-mentah apa yang ditampilkan di media sosial.

“Tidak semua orang yang bermewah-mewahan itu murni hasil keringat kerja kerasnya. Ada banyak hal yang mungkin audiens tidak ketahui di balik itu semua, maka jangan telan mentah-mentah konten di media sosial,” pungkasnya.

Baca juga: Konten Instagram yang Bisa Bikin Remaja Tidak Puas dengan Tubuhnya

Tag:  #standar #hidup #baru #media #sosial #bagaimana #menyikapinya

KOMENTAR