Gejolak Ekonomi di Balik Angka Pertumbuhan 5,11 Persen
TOL YOGYAKARTA-BAWEN: Foto udara proyek pembangunan Jalan Tol Yogyakarta-Bawen Seksi 6 di Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (7/4/2026). Kementerian PU mencatat per Desember 2025 pembangunan proyek jalan tol akses Yogyakarta-Bawen seksi 6 sepanjang 4,98 km di Kabupaten Semarang yang merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) itu telah mencapai 88,018 persen dan ditargetkan beroperasi secara fungsional pada Maret 2026 atau bertepatan dengan arus mudik dan balik Idu
08:16
10 Februari 2026

Gejolak Ekonomi di Balik Angka Pertumbuhan 5,11 Persen

PEREKONOMIAN makro Indonesia pada tahun 2025 mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,11 persen (c-to-c). Hasil yang oleh banyak pihak dipandang solid dalam lanskap global yang masih penuh ketidakpastian.

Angka ini tidak hanya melampaui capaian 2024 sebesar 5,03 persen, tetapi juga berada dalam kisaran proyeksi berbagai lembaga internasional dan domestik.

Misalnya, Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2025 di rentang 4,7-4,8 persen, sedangkan proyeksi Bank Indonesia tumbuh dikisaran 4,6-5,4 persen.

Namun, jika dibedah secara makro-strategis, angka headline tersebut menyembunyikan persoalan mendasar yang kini berimbas pada dinamika pasar modal, terutama penurunan kepercayaan investor global terhadap pasar saham Indonesia.

Kontribusi sektor pengeluaran konsumsi

Pertumbuhan nasional sebesar 5,11 persen pada 2025 banyak ditopang oleh elemen-elemen yang sifatnya bersifat agregat ke permintaan domestik.

Pertama, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penyangga utama pertumbuhan sebesar 4,98 persen dan kontribusi 53,88 persen.

Kedua, akselerasi belanja pemerintah melalui program perlindungan sosial dan stimulus permintaan turut menjaga daya beli.

Baca juga: Korupsi Pajak dan Bea Cukai: Memutus “Clique”, Mengganti Seluruh Pejabat

Meski stabil, model pertumbuhan ini lebih bersandar pada stimulus permintaan daripada peningkatan produktivitas atau transformasi struktural ekonomi.

Dengan kata lain, konsumsi yang tinggi belum sepenuhnya mencerminkan perluasan basis ekonomi berkelanjutan, terutama jika pembiayaan konsumsi masih bergantung pada kebijakan fiskal ekspansif atau transfer sosial seperti bantuan sosial.

Belanja bantuan sosial tunai meningkat sangat signifikan pada triwulan IV-2025, tumbuh 66,88 persen (yoy), seiring dengan kebijakan penambahan alokasi bansos yang mencapai Rp 7,1 triliun pada pertengahan tahun (Juni–Juli) dan kembali diperbesar hingga Rp 29,9 triliun pada periode Oktober-Desember 2025.

Investasi yang tercermin oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada sektor pengeluaran, menunjukkan pertumbuhan positif 5,09 persen dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 28,77 persen.

Namun, belum secara signifikan mencerminkan lonjakan investasi produktif baru yang menumbuhkan kapasitas ekonomi jangka panjang.

Data Kementerian Perindustrian mencatat ada lebih dari 1.200 perusahaan manufaktur siap berproduksi pada 2026.

Namun, pertumbuhan investasi riil tetap belum cukup untuk menghapus kekhawatiran tentang kapasitas riil dan basis manufaktur yang lemah.

Tanpa peningkatan investasi produktif yang signifikan, secara strategis ekonomi Indonesia berisiko terjebak dalam pertumbuhan tanpa transformasi. Dampaknya pada daya saing global dan potensi pertumbuhan jangka panjang.

Kinerja ekspor mencatat pertumbuhan 7,03 persen, didukung oleh peningkatan nilai ekspor barang nonmigas dan jasa.

Namun, akselerasi tersebut lebih merefleksikan pola percepatan pengapalan (front-loading) menjelang pemberlakuan tarif resiprokal Amerika Serikat pada Agustus-September 2025, alih-alih menunjukkan perbaikan daya saing ekspor yang bersifat struktural.

Ketergantungan pada komoditas berdampak kerentanan terhadap fluktuasi harga global. Tanpa diversifikasi ekspor kategori nilai tambah tinggi, arus eksternal bisa cepat terkoreksi ketika harga komoditas melemah.

Gangguan kepercayaan pasar saham 2026

Dinamika pasar modal Indonesia sepanjang awal 2026 diwarnai oleh peristiwa yang mengguncang kepercayaan investor global.

Morgan Stanley Capital International, penyedia indeks pasar global, memperingatkan akan kemungkinan menurunkan status pasar Indonesia dari emerging menjadi frontier jika tidak ada perbaikan dalam aspek transparansi data dan struktur free float saham.

Baca juga: Kemiskinan yang Tersembunyi

Ancaman tersebut menyebabkan penurunan drastis IHSG, termasuk koreksi mingguan hingga hampir 7 persen.

Sentimen negatif kemudian diperkuat oleh penurunan outlook rating utang Indonesia oleh Moody’s Ratings menjadi negatif, menambah tekanan pada indeks dan rupiah.

Kombinasi ini memunculkan reaksi risk-off investor, terutama asing yang mengurangi eksposur pada aset risiko Indonesia, baik saham maupun obligasi.

Permasalahan utama yang diidentifikasi oleh lembaga internasional terutama MSCI berkaitan dengan guidance pasar modal Indonesia.

Pertama, perlunya peningkatan transparansi struktur kepemilikan saham, terutama dalam memastikan free float yang sebenarnya dapat diperdagangkan tanpa manipulasi harga.

Kedua, perbaikan tata kelola perusahaan publik agar sesuai dengan standar global investor institusional, terutama terkait laporan kepemilikan.

Ketiga, persepsi risiko kebijakan domestik, termasuk intervensi politik yang memicu pergantian pejabat kunci dan menimbulkan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Intinya, pasar modal bukan hanya soal valuasi fundamental perusahaan, tetapi juga soal kepercayaan terhadap kerangka institusional yang mendukungnya.

Hubungan antara kualitas pertumbuhan ekonomi dan dinamika pasar saham tidak bisa dipandang terpisah.

Jika pertumbuhan lebih banyak ditopang oleh konsumsi dan belanja pemerintah, tanpa dukungan peningkatan produktivitas dan investasi sektor riil, prospek earnings perusahaan bisa stagnan, sehingga memengaruhi valuasi saham.

Ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran global terhadap tata kelola meningkat secara langsung memengaruhi akses modal global bagi perusahaan Indonesia.

Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi yang tidak berakar kuat secara struktural memberi ruang risk premium yang jauh lebih tinggi bagi investor, menekan indeks seperti IHSG dan menghambat arus masuk modal asing.

Meningkatkan kualitas pertumbuhan

Langkah strategis yang dapat dilakukan, yaitu pertama, perbaikan iklim investasi dan tata kelola pasar modal melalui reformasi struktural dengan memperkuat transparansi data kepemilikan saham dan free float.

Konkretnya dengan menetapkan peraturan yang mempermudah masuknya modal institusional, termasuk dana pensiun dan asuransi, tanpa memicu manipulasi pasar.

Baca juga: Wacana Prabowo Dua Periode dan Kabinet yang Masuk Mode Elektoral

Reformasi ini adalah prasyarat fundamental untuk menjaga status pasar Indonesia dan menarik investor global dalam jangka panjang.

Strategi kedua, yaitu memperkuat basis produktivitas ekonomi dengan fokus pada peningkatan investasi sektor manufaktur dan industri berteknologi tinggi, melalui insentif yang terukur dan dukungan infrastruktur.

Kebijakan pajak progresif yang mendorong reinvestasi laba perusahaan untuk perluasan kapasitas produktif.

Langkah ini bertujuan menggeser model pertumbuhan dari konsumsi dominan ke investasi produktif, yang menciptakan output lebih tahan terhadap siklus global.

Ketiga, strategi diimplementasikan dengan penguatan kerangka perdagangan internasional. Optimalisasi strategi ekspor non-migas dengan diversifikasi pasar dan produk bernilai tambah tinggi.

Penting untuk mempertimbangkan negosiasi rantai pasok strategis untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas yang volatil.

Angka pertumbuhan 5,11 persen pada 2025 menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia. Namun, makna sesungguhnya terletak pada kualitas di balik angka tersebut, apakah pertumbuhan itu berkelanjutan, produktif, dan berdaya saing global.

Ketika pasar modal menunjukkan respons terhadap isu tata kelola dan transparansi, kualitas pertumbuhan menjadi sinyal penting bagi investor.

Tanpa fondasi struktural yang kuat, kepercayaan global akan terus rapuh, menghambat arus investasi jangka panjang.

Indonesia membutuhkan bukan sekadar angka pertumbuhan yang tinggi, tetapi pertumbuhan berkualitas yang mampu menarik modal, menciptakan kesempatan, dan meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.

Tag:  #gejolak #ekonomi #balik #angka #pertumbuhan #persen

KOMENTAR