Pahmi Perubahan Pola Asuh Orangtua Hadapi Anak Mulai Dewasa
Ilustrasi keluarga.(Google Gemini AI)
10:05
10 Februari 2026

Pahmi Perubahan Pola Asuh Orangtua Hadapi Anak Mulai Dewasa

- Memasuki usia dewasa, relasi antara orangtua dan anak kerap mengalami perubahan yang tidak selalu mudah.

Anak mulai mandiri dan punya cara pandang sendiri, sedangkan orangtua tetap membawa naluri melindungi yang kuat. Sering kali sikap mereka masih terlalu mengatur.

Ketika anak mulai angkat bicara, sering kali orangtua langsung berkata, ‘Kamu tuh masih kecil di mata orangtua walau sudah gede!’. Orangtua sakit hati, sedangkan anak menjauh karena sikap yang terlalu mengontrol.

Jika orangtua tidak ingin anak menjauh, mereka perlu membedakan antara sikap peduli dengan mengontrol anak.

“Perbedaan mendasarnya adalah, kalau orangtua peduli atau sehat perhatiannya, prinsipnya adalah mereka menghargai otonomi anak. Menawarkan bukan memaksa,” tutur psikiater dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ, MSc, saat diwawancarai beberapa waktu lalu.

Baca juga: Penggunaan Gawai Dikaitkan dengan Memburuknya Kesehatan Mental Remaja

Tips menjaga hubungan dengan anak yang sudah dewasa

1. Menawarkan bantuan, bukan menentukan pilihan

Ilustrasi keluarga.Google Gemini AI Ilustrasi keluarga.

Orangtua boleh hadir, boleh peduli, bahkan boleh punya pandangan berbeda, tetapi tetap memberi ruang bagi anak untuk menentukan pilihannya sendiri.

Menurut dr. Leonita, perhatian bisa ditunjukkan dengan bertanya terlebih dulu apa yang dibutuhkan anak.

Bahkan, ketika orangtua ingin menyampaikan pendapat, seharusnya hal itu disampaikan sebagai sudut pandang, bukan instruksi.

Baca juga: 10 Pilar Penting dalam Pernikahan agar Hubungan Tetap Harmonis, Termasuk Komunikasi

“Misalnya, bertanya dulu butuh bantuan apa. Kalau punya pendapat pun tidak memaksakan anak untuk setuju sama perspektifnya,” jelas dr. Leonita.

Sebaliknya, sikap mengontrol adalah ketika orangtua merasa berhak menentukan apa yang terbaik tanpa mempertimbangkan posisi anak.

Orangtua cenderung memberi arahan tanpa diminta, menetapkan standar, bahkan ingin mengetahui semua detail kehidupan anak.

“Kalau mengontrol, orangtua terlalu mencampuri, ‘kayaknya harus begini deh’. Jadinya memaksa. Jadi prinsipnya, kalau benar peduli, enggak memaksa, tapi menawarkan,” tutur dr. Leonita.

Baca juga: Seperti Brooklyn Beckham, Ini Alasan Anak Putus Hubungan dengan Orangtua

2. Menghargai jarak dalam komunikasi

Bentuk perhatian yang sehat juga terlihat dari cara orangtua menyikapi respons anak.  Menginjak usia dewasa, anak memiliki ritme hidup sendiri, termasuk dalam merespons pesan atau panggilan.

Ketika mereka tidak langsung membalas pesan atau mengangkat telepon, orangtua sebaiknya tidak buru-buru menekan atau mengejar. Sikap tersebut justru bisa membuat anak merasa diawasi secara berlebihan.

Menghormati jarak penting agar hubungan tidak terasa melekat secara tidak sehat. Anak yang merasa dipercaya, akan lebih mudah membuka diri dan menjalin kedekatan emosional dengan orangtua secara alami.

Baca juga: Jangan Asal Bersikap, Pola Asuh Orangtua Pengaruhi Hubungan Kakak Adik

3. Tidak memaksakan tradisi

Dalam konteks keluarga Indonesia, dr. Leonita melihat bahwa konflik sering muncul ketika orangtua membawa tradisi atau kebiasaan lama ke dalam kehidupan anak yang sudah menikah dan berkeluarga.

"Sebagai orangtua, kita cuma bisa bilang, ‘oh dulu tradisinya kayak begini’, tapi enggak memaksa. Atau kita bisa menawarkan bantuan, dan melakukan sesuai apa yang diminta anak,” tutur dia.

Pendekatan semacam ini membantu membangun kepercayaan jangka panjang. Anak akan merasa dihargai dan tidak dikontrol, sehingga relasi menjadi lebih sehat.

Ilustrasi keluarga.Google Gemini AI Ilustrasi keluarga.

4. Anak berhak atas hidupnya sendiri

Meskipun masih berstatus “anak”, anak yang sudah dewasa tetap berhak atas hidupnya sendiri.

Psikolog dari Indopsycare, Clement Eko Prasetio, M.Psi., menyoroti pentingnya kesadaran orangtua akan hal itu.

Seiring bertambahnya usia, anak akan membuat keputusan yang belum tentu sejalan dengan nilai atau harapan orangtua.

Dalam situasi seperti ini, peran orangtua bukan lagi sebagai pengarah utama, tetapi pendamping yang mau mendengarkan. Keterlibatan yang berlebihan justru berdampak buruk pada harga diri anak.

Baca juga: 9 Sikap Orangtua yang Bisa Merusak Hubungan dengan Anak, Menurut Psikolog

“Kalau orangtua terlalu terlibat atau terlalu mengatur anak yang sudah dewasa, apalagi sudah menikah, itu malah membuat anak semakin tidak dihargai,” jelas Clement saat dihubungi beberapa waktu lalu.

“Itu membuat anak semakin merasa, ‘kok aku masih kayak anak kecil ya diatur-atur terus?’. Jadilah kehilangan otonomi atas diri sendiri. Itu jadi jelek sebenarnya,” sambung dia.

5. Diskusi terbuka dan empati

Clement menekankan bahwa kunci relasi yang sehat antara orangtua dan anak dewasa adalah diskusi terbuka. Orangtua perlu memahami alasan di balik pilihan anak, bukan langsung menilai benar atau salah.

Baca juga: Brooklyn Beckham Beberkan Alasan Menjauh, Tuding Orangtua Rusak Hubungannya

Ia juga menyoroti cara pandang sebagian orangtua yang melihat anak sebagai perpanjangan diri.

“Ada beberapa orangtua merasa bahwa anak adalah perpanjangan diri mereka. Jadi, ketika anak jelek, maka dia jelek, dan dia harus memastikan anaknya ‘bagus’. Itu cara pandang yang kurang tepat,” terang Clement.

Tanda perhatian sudah berlebihan

Clement mengakui tidak ada rumus pasti untuk membedakan perhatian yang sehat dan yang berlebihan. Namun, ada beberapa indikator emosional yang bisa diperhatikan orangtua.

Salah satunya adalah ketika komunikasi dengan anak selalu berujung pada ketegangan.

“Ketika percakapan sudah mentok, dalam arti jadi bersitegang, sama-sama keras kepala dan enggak mau saling dengar, itu salah satu bentuk bahwa orangtua sudah terlalu mencampuri urusan anak,” ucap dia.

Baca juga: Pentingnya Orangtua Beri Batasan Sehat untuk Anak

Tag:  #pahmi #perubahan #pola #asuh #orangtua #hadapi #anak #mulai #dewasa

KOMENTAR