Outlook Moody’s Turun, BTN: Penerbitan Surat Utang Bank Bisa Lebih Mahal
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (9/2/2026).(KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU)
08:32
10 Februari 2026

Outlook Moody’s Turun, BTN: Penerbitan Surat Utang Bank Bisa Lebih Mahal

- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mengungkapkan dampak penurunan outlook kredit dari lembaga pemeringkat global, Moody's Ratings terhadap industri perbankan nasional.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, penurunan outlook tersebut berimplikasi langsung pada peringkat kredit korporasi sehingga perubahan outlook atau peringkat kredit Indonesia akan otomatis memengaruhi peringkat kredit bank-bank nasional.

Oleh karenanya, perubahan outlook itu akan berdampak pada akses pinjaman luar negeri dan penerbitan instrumen investasi perbankan.

"Ratingnya semua korporasi paling tinggi sama dengan ratingnya negara. Jadi kalau negara dulunya BBB Menjadi BB misalnya, maka ya pasti corporate rating juga sama," ujarnya saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Lebih lanjut dia menjelaskan, dampak paling nyata dari penurunan outlook tersebut akan terasa pada biaya pendanaan, khususnya saat perbankan menerbitkan surat utang di pasar keuangan.

Sebab dalam kondisi outlook yang lebih rendah, investor cenderung meminta imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi risiko.

"Dampaknya apa? Kalau kita menerbitkan surat utang, maka tawar-menawarnya menjadi lebih mahal lah sedikit," ungkapnya.

Baca juga: BTN Akui Tertarik Akuisisi Asuransi Binagriya Upakara

Sementara itu, Direktur Finance and Strategy BTN Nofry Rony Poetra menjelaskan, rating internasional seperti dari Moody's, menjadi faktor penting bagi bank yang ingin mengakses pendanaan luar negeri.

"Kalau kita mau pinjam uang atau dana dari luar negeri atau kita mau menerbitkan surat utang, maka kita perlu rating internasional. Nah Moody's itu salah satunya rujukan internasional," jelasnya pada kesempatan yang sama.

Kendati demikian, Nofry menegaskan, eksposur BTN terhadap pinjaman luar negeri saat ini sangat terbatas, sehingga dampak langsung dari penurunan outlook oleh Moody's relatif kecil bagi BTN.

"Saat ini exposure BTN terhadap pinjaman luar negeri itu sangat-sangat minimal. Kita cuma punya pinjaman yang kalau gak salah itu sangat kecil, hanya sekitar 9 juta yen dalam mata uangnya dan itu akan jatuh tempo nanti di 2027," ungkapnya.

Terlebih, dengan mempertimbangkan kondisi pasar global dan biaya pendanaan, BTN memastikan tidak akan masuk ke pasar pendanaan luar negeri dalam waktu dekat, setidaknya sepanjang tahun ini.

Perseroan akan kembali mengevaluasi peluang tersebut apabila kondisi pasar global dinilai lebih kondusif dan biaya pendanaan kompetitif dibandingkan pasar domestik.

Sebelumnya, Moody's menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun peringkat kreditnya tetap di level Baa2 pada pengumuman Kamis (5/2/2026).

Keputusan tersebut diikuti dengan penurunan outlook kredit lima bank nasional dari stabil menjadi negatif dengan peringkat kredit yang masih tetap sama, pada pengumuman Jumat (6/2/2026).

Adapun kelima bank itu ialah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).

Tag:  #outlook #moodys #turun #penerbitan #surat #utang #bank #bisa #lebih #mahal

KOMENTAR