Cerita Christopher dan Kezia Pacaran 11 Tahun, Sadar Menikah Bukan Sekadar Ucap Janji
Hubungan yang berjalan lebih dari satu dekade kerap dianggap sebagai penanda kesiapan menuju pernikahan.
Namun, bagi Christopher (29) dan Kezia (29), lamanya waktu berpacaran tidak serta-merta membuat langkah menuju pelaminan terasa mudah.
Setelah 11 tahun menjalin hubungan, pasangan ini masih menimbang banyak hal sebelum memutuskan menikah, mulai dari keinginan menjalankan tradisi adat hingga kondisi finansial yang belum stabil.
Baca juga: Tantangan Generasi Sandwich Menabung untuk Menikah di Tengah Biaya Hidup Tinggi
Christopher, seorang pegawai swasta, menceritakan bahwa keputusan menunda pernikahan bukan diambil tanpa pertimbangan matang.
Bersama Kezia, ia justru semakin sadar bahwa pernikahan bukan sekadar soal kesiapan emosional, melainkan juga kesiapan hidup secara menyeluruh.
Ketika rencana menikah bertemu realitas biaya
Christopher bercerita, pada tahun lalu, ia dan Kezia sempat berada di fase paling serius membicarakan pernikahan.
Mereka mulai menghitung kebutuhan, menimbang kemungkinan, bahkan sepakat menabung bersama. Namun, perhitungan itu justru membuka mata mereka tentang besarnya biaya yang harus dipersiapkan.
“Tahun kemarin itu kami sempat analisa kasar soal biaya pernikahan, bahkan nabung bareng untuk menikah. Tapi memang biayanya enggak murah ya untuk menggelar pesta nikah,” kata Christopher, saat diwawancarai Kompas.com, Sabtu (7/2/2026).
Sebagai pasangan yang sama-sama berasal dari suku Batak, pernikahan tak bisa dilepaskan dari adat.
Prosesi adat menjadi simbol penting yang sarat makna, tetapi juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Saya dan pasangan juga sama-sama Orang Batak, jadi butuh pesta adat dan itu biayanya enggak kecil. Meskipun bisa juga menikah dulu, kemudian pesta adat menyusul,” ujarnya.
Baca juga: Pasangan Muda Tak Lagi Percaya Ungkapan Rejeki Menyusul Setelah Menikah
Namun, opsi tersebut bukan tanpa kekhawatiran. Orangtua mereka cemas jika setelah menikah, prioritas hidup pasangan muda itu berubah dan pesta adat tak lagi menjadi hal utama.
“Tapi orangtua kami khawatir nanti prioritasnya sudah berbeda ketika menikah. Takutnya pesta adatnya enggak diselenggarakan juga,” tutur Christopher.
Pekerjaan yang belum stabil jadi pertimbangan
Di tengah persiapan itu, ujian lain datang. Pada tahun yang sama, Christopher dan Kezia sama-sama kehilangan pekerjaan.
Meski bekerja di perusahaan yang berbeda, keduanya mengalami pemutusan kerja dalam waktu yang hampir bersamaan.
“Faktor pekerjaan juga, kami berdua terkena cut dari perusahaan di tahun 2025 lalu. Meskipun perusahaan kami berbeda, tapi di waktu yang bersamaan kami diputus kerja,” ujarnya.
Saat ini, Christopher sudah kembali bekerja. Namun, statusnya masih sebagai karyawan kontrak. Sementara Kezia belum mendapatkan pekerjaan baru.
Kondisi tersebut membuat Christopher merasa belum memiliki pijakan yang cukup kuat untuk membangun keluarga.
“Saya mikir juga, dengan status kontrak gini tidak pasti rasanya. Kalau saya menikah dan punya keluarga, mau dikasih makan apa keluarga saya kalau pekerjaan saya belum stabil?” katanya.
Baca juga: Cerita Elsa dan Kevin Memilih Tak Buru-buru Menikah meski Telah Pacaran Hampir 6 Tahun
Pertanyaan itu terus terngiang, menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan hanya soal cinta, tetapi juga tanggung jawab jangka panjang.
Makna siap menikah bagi mereka
Bagi Christopher dan Kezia, kesiapan menikah memiliki definisi yang jelas. Bukan sekadar siap mengucap janji, melainkan siap secara finansial dan mental.
“Siap menikah itu artinya siap finansial. Sudah punya tabungan yang cukup, penghasilan bulanannya sudah pasti ada. Uang itu bukan cuma buat gelar pesta, tapi buat kehidupan setelah menikah juga,” imbuh Christopher.
Baca juga: Tantangan Generasi Sandwich Menabung untuk Menikah di Tengah Biaya Hidup Tinggi
Keduanya juga sepakat untuk hidup mandiri setelah menikah. Tinggal terpisah dari orangtua menjadi pilihan yang mereka anggap lebih sehat bagi hubungan.
“Apalagi, saya dan pasangan sepakat untuk tinggal mandiri setelah menikah. Kami enggak mau di rumah orangtua, ini untuk hidup mandiri dan menghindari kemungkinan konflik,” katanya.
Selain itu, kesiapan mental juga menjadi hal penting. Christopher menyadari, kehidupan pernikahan akan mempertemukan banyak perbedaan yang mungkin belum sepenuhnya terlihat saat pacaran.
“Butuh kesiapan mental juga sih. Misalnya, setelah menikah kami menghadapi berbagai perbedaan, ada sifat saya atau pasangan yang berbeda ketika masih pacaran,” ujarnya.
Menyimpan target dan harapan menikah di tahun depan
Meski belum menikah, Christopher menegaskan, hubungan mereka tidak berjalan tanpa arah. Target pernikahan tetap ada, dan harapan itu terus dirawat bersama.
“Kami sudah pacaran dari SMK, sudah lama, jadi target itu sudah pasti ada. Kami sedang konsisten untuk nabung bersama dan berdoa bareng supaya diberi kemudahan dalam proses ini,” tutupnya.
Bagi Christopher dan Kezia, menunggu bukan berarti ragu. Justru, penantian itu menjadi cara mereka memastikan, bahwa pernikahan kelak dijalani dengan kesiapan, bukan keterpaksaan.
Baca juga: Cerita Elsa dan Kevin Memilih Tak Buru-buru Menikah meski Telah Pacaran Hampir 6 Tahun
Tag: #cerita #christopher #kezia #pacaran #tahun #sadar #menikah #bukan #sekadar #ucap #janji