12 Penyebab Hubungan Cinta Berakhir, Membandingkan Hubungan hingga Tak Melupakan Kesalahan
Ilustrasi putus cinta.(Google Gemini AI)
18:20
8 Februari 2026

12 Penyebab Hubungan Cinta Berakhir, Membandingkan Hubungan hingga Tak Melupakan Kesalahan

- Berakhirnya sebuah hubungan asmara sering kali dianggap sebagai peristiwa traumatis.

Namun, di balik rasa sedih yang muncul, setiap perpisahan biasanya menyimpan alasan-alasan mendasar yang sering kali luput dari perhatian selama hubungan berjalan.

Mulai dari kebiasaan kecil seperti menarik diri saat bertengkar, sampai memiliki masalah kepercayaan, berikut ragam alasan utama mengapa sebuah hubungan asmara bisa gagal, dilansir dari Best Life, Minggu (8/2/2026).

Baca juga: Mengapa Putus Cinta Bisa Membuat Orang Kehilangan Percaya Diri? Psikolog Jelaskan

Penyebab paling umum hubungan berakhir

1. Menarik diri saat bertengkar

Dalam riset tahun 2015 yang dipublikasikan di jurnal Psychological Assessment, profesor psikologi di Baylor UniversityKeith Sanford, PhD, menemukan, pasangan yang mengaku sering menarik diri ketika berdebat cenderung merasa lebih tidak bahagia dan tidak bersemangat terhadap hubungan mereka secara keseluruhan.

“Menarik diri adalah hal yang paling bermasalah dalam hubungan,” kata Sanford dalam sebuah pernyataan.

“Ini adalah taktik bertahan yang digunakan orang ketika merasa diserang, dan ada hubungan langsung antara menarik diri dengan rendahnya kepuasan terhadap hubungan secara keseluruhan.”

Ilustrasi pasangan yang berpisah.Dok. Freepik/jcomp Ilustrasi pasangan yang berpisah.

2. Tidak sepakat soal keputusan besar dalam hidup

Kamu dan pasangan perlu memiliki kesepahaman tentang keputusan mendasar, seperti di mana akan tinggal, kapan atau apakah ingin memiliki anak, dan bagaimana cara menabung dan menggunakan uang.

Baca juga: Berapa Lama Waktu yang Ideal untuk Move On Setelah Putus?

“Sebanyak 67 persen ketidaksepakatan dalam sebuah hubungan tidak pernah benar-benar terselesaikan dan memang tidak harus, tetapi 33 persen sisanya, jika tidak diselesaikan, dapat berujung pada berakhirnya hubungan," ungkap relationship coach Lesli Doares.

Doares menjelaskan, faktor pemutus ini sering kali mencakup keinginan salah satu pasangan agar hubungan menjadi lebih serius, keyakinan dan nilai pribadi, gaya hidup yang ingin dijalani masing-masing orang, dan keinginan untuk memiliki anak.

3. Menuntut pasangan dengan standar yang tidak realistis

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Meskipun pasangan yang suportif akan menyikapi kekeliruan tersebut secara dewasa, tetapi pasangan yang tidak suportif, cenderung menuntut kesempurnaan setiap saat. Pola ini pada akhirnya memicu frustrasi dari kedua belah pihak.

“Ketika pasangan tidak memenuhi sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka setujui, muncul kecenderungan untuk mencoba mengubah mereka tanpa memahami bahwa perilakumu juga berperan besar,” kata Doares.

“Dengan terus memusatkan perhatian pada pasangan, hal itu memberi pembenaran bahwa merekalah sumber masalah," lanjut dia.

Ilustrasi patah hati.Dok. Freepik/solominphoto Ilustrasi patah hati.

4. Takut sendirian

Banyak orang memilih menghindari konflik dan berpura-pura bahwa masalah dalam hubungan tidak ada karena mereka takut harus menjalani hidup sendirian.

Sayangnya, strategi ini justru menjadi bumerang karena konflik yang ditekan akan muncul kembali di kemudian hari, dan sering kali ketika sudah terlambat untuk diperbaiki.

“Takut sendirian, sehingga bersedia menerima hubungan apa pun meski tidak sehat, adalah pola umum lain yang membuat hubungan gagal. Batasan yang sehat perlu ditetapkan dan ditegakkan,” ujar Doares.

5. Mengandalkan bahasa tubuh untuk menyampaikan perasaan

Di awal hubungan, pasangan biasanya terbuka dan jujur dalam mengekspresikan perasaan masing-masing.

Namun, seiring berjalannya waktu, banyak orang justru merusak hubungan dengan berasumsi bahwa pasangannya dapat, dan seharusnya bisa, membaca bahasa tubuh serta memahami isi pikiran mereka.

“Ketika dulu ada percakapan, kini yang tersisa hanyalah keheningan, lirikan mata, atau energi tegang yang memecah belah jika tidak sampai menghancurkan,” jelas pakar hubungan Greg Behrendt dan Amiira Ruotola.

Baca juga: Mengapa Kenangan Indah Justru Sering Muncul Setelah Putus Cinta?

Mereka melanjutkan, salah satu pasangan bisa menjadi terlalu nyaman seiring waktu, terlalu malas, atau bahkan cemas, sehingga berkomunikasi secara penuh perhatian satu sama lain, berhenti.

6. Membuat komentar sarkastik

Ilustrasi putus cinta.FREEPIK/TIRACHARDZ Ilustrasi putus cinta.

Selain bahasa tubuh, komentar sarkastik kerap menjadi bentuk komunikasi pasif-agresif. Lelucon ringan sesekali memang wajar, tetapi ketika nada sindiran mulai terasa "tajam", hal itu bisa menandakan adanya masalah serius.

“Komentar pasif-agresif atau sarkasme yang sering muncul, menghalangi momen-momen lembut dan rentan dalam pernikahan,” kata konselor kesehatan mental sekaligus salah satu pemilik Mosaic Creative Counseling, Nicole Rainey.

Bergantung pada isi komentarnya, sindiran semacam ini dapat melukai perasaan pasangan dan memicu penumpukan rasa kesal.

Baca juga: Jangan Menyalahkan Diri, Putus Cinta Bukan karena Tak Lagi Berharga

7. Membandingkan hubungan dengan hubungan orang lain

Semakin buruk kondisi hubungan sendiri, semakin tampak sempurna hubungan orang lain. Padahal, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi dalam hubungan tersebut.

Behrendt dan Ruotola menuturkan, membandingkan hubungan yang sedang dijalani dengan hubungan orang lain, bisa "mencuri" kebahagiaan.

“Fokuslah pada hubunganmu sendiri, bukan menginginkan milik orang lain. Rumput akan lebih hijau di tempat yang disiram, dan tidak ada hubungan yang benar-benar sempurna seperti yang terlihat di Instagram," kata mereka.

8. Saling menyalahkan saat bertengkar

Dalam toxic relationship, kesuksesan pasangan adalah ancaman bagi pihak lain. Shutterstock Dalam toxic relationship, kesuksesan pasangan adalah ancaman bagi pihak lain.

Berkrompromi bukan sekadar soal hal-hal kecil seperti memilih restoran, tetapi juga kesiapan berkorban demi kebaikan hubungan, termasuk ketika berkonflik.

Dalam hubungan yang rapuh, sering kali salah satu atau kedua pihak menolak mengakui kesalahan dan justru memposisikan diri sebagai korban.

“Kita semua diajarkan bahasa menyalahkan ketika merasakan emosi yang kuat,” kata self-mastery expert Carey Davidson.

“Jauh lebih mudah menjadi korban dibandingkan memahami emosi sebagai sinyal bahwa kebutuhan dasar kita untuk bertumbuh tidak terpenuhi," lanjut dia.

9. Tidak memaafkan atau melupakan

Menutup pertengkaran hanya demi meredakan suasana tanpa benar-benar menyelesaikan masalah, justru memperparah keadaan.

“Menyimpan dendam adalah cara tercepat untuk menghancurkan cinta. Dendam ibarat karat yang menggerogoti ikatan hubungan,” kata psikoterapis Tina Tessina, PhD.

Jika akar masalah yang memicu kemarahan dan kekecewaan tidak diselesaikan, hubungan perlahan akan terkikis sampai mencapai titik yang tidak bisa diperbaiki.

10. Memandang pasangan sebagai pihak yang lebih rendah

Meremehkan pasangan merupakan salah satu dari empat perilaku yang menurut John Gottman, PhD, peneliti pernikahan, menjadi indikator kuat menuju perceraian.

Ilustrasi putus hubungan.FREEPIK Ilustrasi putus hubungan.

Dalam penelitiannya, Gottman menilai seberapa sering pasangan menunjukkan sikap meremehkan, mengkritik, defensif, dan menghindar.

Ia lalu mengaitkannya dengan tingkat kepuasan hubungan. Hasilnya, perilaku tersebut terbukti lebih dari 90 persen akurat dalam memprediksi perceraian.

Baca juga: 10 Cara Cepat Move On Setelah Putus Cinta, Salah Satunya Lost Contact

Menurut Gottman, memandang pasangan sebagai pihak yang lebih rendah adalah “ciuman kematian” bagi hubungan apa pun.

Hal ini sejalan dengan studi tahun 2010 di Journal of Marriage and Family yang menunjukkan, pasangan yang menunjukkan sikap meremehkan sejak tahun pertama pernikahan lebih berisiko bercerai sebelum ulang tahun pernikahan ke-16.

11. Melampiaskan amarah satu sama lain

Studi tahun 2014 dalam jurnal Current Directions in Psychological Science menemukan, orang yang paling kita cintai justru sering menjadi sasaran pelampiasan amarah. Sebab, merekalah yang paling sering berinteraksi dengan kita.

Temuan lain menunjukkan bahwa “agresi berbahaya bagi individu dan hubungan,” sehingga semakin sering menyakiti orang terdekat, semakin besar risiko mendorong mereka menjauh.

12. Ada masalah kepercayaan

Kepercayaan bukan sesuatu yang mudah dibangun, terutama bagi mereka yang pernah dikhianati.

Namun, jika sebuah hubungan direncanakan untuk jangka panjang, fondasi kepercayaan yang kuat menjadi hal mutlak.

“Ketika kita mempercayai seseorang, kita merasa berada di ruang yang aman. Kita yakin terbebas dari penilaian, tuntutan, dan luka,” ujar David Tzall, PsyD, psikolog berlisensi.

“Hubungan tidak dapat bertahan lama jika karakteristik dasar dari sebuah kemitraan tidak terpenuhi," pungkas dia.

Baca juga: 6 Sikap Zodiak Taurus Saat Putus Cinta, Galau Berkepanjangan

Tag:  #penyebab #hubungan #cinta #berakhir #membandingkan #hubungan #hingga #melupakan #kesalahan

KOMENTAR