Finansial Terbatas Saat Menikah, Prioritaskan Pesta atau Beli Rumah?
– Menyusun rencana pernikahan kini bukan hanya soal memilih tanggal dan konsep acara, tetapi juga tentang menentukan prioritas hidup setelah sah menjadi pasangan suami istri.
Di tengah biaya hidup yang semakin tinggi, banyak calon pengantin dihadapkan pada dilema klasik, menggelar pesta besar atau mengamankan tempat tinggal untuk kehidupan setelah menikah.
Perubahan cara pandang ini tidak terlepas dari dinamika pernikahan di Indonesia dalam satu dekade terakhir.
Dari data Badan Pusat Statistik, jumlah pernikahan yang pada 2014 masih berada di kisaran 2,1 juta peristiwa, mengalami penurunan signifikan dalam sepuluh tahun berikutnya. Pada 2024, angkanya menyusut hingga mendekati 1,4 juta.
Baca juga: Biaya Hidup Tinggi, Banyak Pasangan Ragu Menikah
Penurunan ini kerap dikaitkan dengan meningkatnya pertimbangan finansial dan keberanian pasangan untuk menyusun prioritas yang lebih realistis.
Komunikasi jadi pondasi utama
Konsultan keuangan keluarga, Dea Arvina Ermacasnia menilai, kunci utama dalam menentukan prioritas pernikahan terletak pada komunikasi antarpasangan.
“Kuncinya lebih ke komunikasi dan keberanian menentukan batas dari si pasangan yang akan menikah tersebut. Pesta itu cuma sehari, rumah itu untuk bertahun-tahun ke depan,” ungkap Dea, saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (4/2/2026).
Menurut Dea, pernikahan seharusnya dimaknai sebagai awal kehidupan baru, bukan semata-mata acara seremonial.
Baca juga: Mulai Berlaku, Ini Syarat dan Ketentuan Beli Rumah Bebas Pajak di 2026
“Menikah itu kan kayak mulai hidup baru, jadi pasangan perlu sepakat dulu, lalu dikomunikasikan ke keluarga terdekat dengan bahasa yang sopan dan rasional,” ujarnya.
Kesepakatan ini menjadi dasar penting agar pasangan tidak saling menyalahkan ketika harus mengambil keputusan sulit terkait anggaran pernikahan.
Tradisi tetap dihormati, tapi masa depan diamankan
Dea menekankan, menyusun prioritas untuk masa depan bukan berarti mengabaikan nilai budaya atau tradisi keluarga.
“Misalnya, tetap mengundang keluarga besar, tapi konsep disederhanakan. Tradisi tetap dihormati, tapi masa depan juga diamankan,” katanya.
Alternatif lain juga bisa dipertimbangkan sesuai kondisi masing-masing pasangan, seperti dengan hanya menggelar pernikahan yang sederhana tapi tetap menggunakan adat istiadat.
Baca juga: Lapangan Golf Bisa Jadi Alternatif Tempat Pesta Pernikahan yang Intimate
“Selain itu, bisa juga hanya mengundang keluarga inti saja yang satu eyang. Semua sebenarnya kuncinya adalah komunikasi dan batasan,” ucap Dea.
Dengan pendekatan ini, pasangan tetap dapat menjaga hubungan baik dengan keluarga besar tanpa harus mengorbankan kebutuhan jangka panjang setelah menikah.
Membagi anggaran secara realistis
Pandangan serupa disampaikan perencana keuangan profesional, Rista Zwestika Reni. Ia menyebut dilema antara pesta dan tempat tinggal sebagai persoalan yang sangat umum di Indonesia.
“Ini dilema klasik di Indonesia. Prinsipnya sederhana tapi berat dijalani, pesta itu satu hari, tempat tinggal itu bertahun-tahun,” kata Rista.
Baca juga: 11 Tanda Pasangan Saat Ini adalah Jodoh Kamu, Apa Saja?
Menurut Rista, pasangan perlu menyusun strategi anggaran yang jelas sejak awal. Ia menganjurkan untuk memisahkan dana untuk pesta pernikahan dan kehidupan setelah menikah dengan jelas.
“Beberapa strategi realistis, yaitu tentukan batas maksimal biaya pesta. Misalnya 20–30 persen total dana,” ujarnya.
Dengan pembatasan tersebut, pasangan memiliki ruang untuk mempersiapkan kebutuhan setelah menikah.
”Sisanya fokus ke sewa atau DP rumah, Perabot dasar, dan dana darurat setelah nikah,” tutur Rista.
Baca juga: Banyak Pasangan Siapkan Budget Pernikahan Berkisar Rp 250–500 Juta
Pernikahan bukan sekadar panggung
Rista juga menekankan pentingnya cara berkomunikasi dengan keluarga besar terkait keputusan ini.
“Komunikasikan ke keluarga dengan bahasa yang halus tapi tegas. Sampaikan kalau kamu dan pasangan ingin sederhana di pesta, tapi kuat setelah menikah. Nikah itu bukan panggung, tapi pondasi hidup,” katanya.
Di tengah perubahan kondisi ekonomi, menyusun prioritas pernikahan menjadi bentuk kedewasaan pasangan dalam memandang masa depan.
Bagi banyak calon pengantin, keberanian memilih fondasi hidup yang kuat kini dinilai lebih penting daripada kemeriahan satu hari perayaan.
Baca juga: Dari KUA Lanjut Ngopi, Kisah Radya dan Jundi yang Pilih Nikah Tanpa Resepsi
Tag: #finansial #terbatas #saat #menikah #prioritaskan #pesta #atau #beli #rumah