Penelitian Ungkap Perasaan Ilfeel Tak Selalu karena Kesalahan Pasangan
()
22:05
10 Januari 2026

Penelitian Ungkap Perasaan Ilfeel Tak Selalu karena Kesalahan Pasangan

- Pernah merasa tiba-tiba kehilangan rasa tertarik pada pasangan hanya karena hal sepele? Misalnya cara ia mengunyah makanan, gaya berpakaian yang dianggap aneh, atau kebiasaan kecil yang sebelumnya tidak terasa mengganggu. 

Dalam istilah populer, kondisi ini sering disebut sebagai ilfeel atau the ick. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rasa ilfeel tidak selalu tentang kesalahan pasangan. Bisa jadi, perasaan itu justru mencerminkan sisi kepribadian kita sendiri.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences mengungkap hubungan menarik antara sensitivitas terhadap rasa ilfeel, sifat narsistik, perfeksionisme, dan kecenderungan mengalami ilfeel dalam hubungan romantis. 

Penelitian ini sekaligus memberi sudut pandang baru bahwa perasaan ilfeel terhadap pasangan bukan selalu pertanda ketidakcocokan, melainkan juga bisa menjadi refleksi psikologis diri sendiri.

Apa itu ilfeel dalam hubungan?

Istilah the ick merujuk pada perasaan ilfeel yang muncul secara spontan terhadap perilaku, kebiasaan, atau manner tertentu dari pasangan. 

Perasaan ini bersifat visceral, artinya muncul dari reaksi emosional yang kuat, sering kali sulit dijelaskan secara logis.

Penulis studi, Eliana Saunders, mahasiswa pascasarjana di Azusa Pacific University, menjelaskan bahwa fenomena ini sebenarnya bukan hal baru.

“Fenomena the ick telah menjadi topik yang semakin sering dibahas selama beberapa dekade terakhir. Kami menemukan rujukan tentang fenomena ini di media sosial dan acara televisi sejak pertengahan tahun 90-an,” ujar Saunders kepada.

Dengan kata lain, meski istilahnya terdengar modern, pengalaman merasa ilfeel terhadap pasangan sudah lama menjadi bagian dari dinamika hubungan romantis.

Perempuan lebih sering mengalami Iifeel

Penelitian ini juga menemukan perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan. Sebanyak 75 persen perempuan mengaku pernah mengalami ilfeel, sementara pada laki-laki angkanya berada di 57 persen.

Hasil ini menunjukkan bahwa perempuan cenderung lebih sensitif terhadap perilaku tertentu yang memicu rasa tidak nyaman atau ilfeel dalam hubungan. 

Namun, para peneliti menekankan bahwa hal ini tidak berarti perempuan lebih pemilih secara negatif, melainkan bisa berkaitan dengan cara otak memproses ancaman emosional atau sosial dalam hubungan.

Gambaran umum hasil penelitian

Dalam penelitian tersebut, para partisipan diminta mengisi kuesioner daring tentang pengalaman mereka terkait ilfeel saat berkencan. 

Mereka juga diminta menilai seberapa besar kemungkinan mereka merasa ilfeel terhadap perilaku tertentu, dengan skala 1 (tidak mungkin) hingga 5 (sangat mungkin).

Perilaku-perilaku itu dikelompokkan ke dalam delapan kategori, yakni:

  •  Penampilan fisik
  • Kesalahan fashion
    Terlalu bergantung pada dunia digital
  • Terlalu feminin
    Sikap misoginis
  • Cara bicara yang mengganggu
  • Perilaku memalukan di depan umum
  • Terlalu mengikuti tren
  • Hasilnya cukup mencolok:

64 persen partisipan mengaku pernah mengalami ilfeel.

  • Rata-rata seseorang mengalami ilfeel sebanyak 9,71 kali.
    26 persen langsung mengakhiri hubungan karena ilfeel.
    42 persen mengakhiri hubungan di kemudian hari setelah mengalami ilfeel.
  • 32 persen tetap melanjutkan hubungan meski pernah merasa ilfeel.
  • 80 persen mengaku lebih sering mengeluhkan ilfeel mereka kepada teman.
  • Hanya 28 persen yang membicarakan ilfeel tersebut langsung dengan pasangan.

Temuan ini menunjukkan bahwa ilfeel sering kali menjadi topik pembicaraan dengan lingkungan sosial, tetapi jarang dikomunikasikan secara terbuka kepada pasangan.

Sensitivitas ilfeel dan kepribadian narsistik

Bagian paling menarik dari studi ini adalah kaitannya dengan kepribadian. 

Peneliti menemukan bahwa semakin tinggi sensitivitas seseorang terhadap rasa jijik, semakin besar kemungkinan dan frekuensi ia mengalami ilfeel.

Dalam laporan penelitian disebutkan bahwa temuan ini menunjukkan bahwa keengganan yang tinggi terhadap isyarat kecil dari pasangan dapat membentuk ambang batas penolakan dalam memilih pasangan.

Selain itu, sifat narsistik juga berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan mengalami ilfeel.

Para peneliti menulis bahwa hal ini menunjukkan bahwa individu dengan sifat narsistik cenderung menolak pasangan secara selektif berdasarkan kekurangan yang mereka anggap penting.

Seseorang dengan kecenderungan narsistik bisa jadi lebih mudah merasa ilfeel karena memiliki standar tinggi terhadap pasangan dan fokus pada kekurangan kecil.

Perfeksionisme dan standar yang terlalu tinggi

Faktor lain yang berpengaruh adalah perfeksionisme, khususnya perfeksionisme yang diarahkan kepada orang lain.

“Sejauh mana individu menetapkan standar tinggi terhadap orang-orang terdekatnya, sehingga relevan untuk memahami sifat-sifat yang dapat meningkatkan reaksi negatif dalam konteks hubungan romantis,” tulis peneliti.

Hasilnya, semakin tinggi tingkat perfeksionis seseorang, maka semakin sering ia mengalami ilfeel. 

Hal ini menunjukkan bahwa standar yang terlalu kaku dapat membuat hubungan menjadi rapuh, karena pasangan terus-menerus dinilai berdasarkan ekspektasi yang sulit dipenuhi.

Ilfeel: alarm ketidakcocokan atau cermin diri?

Saunders menekankan bahwa ilfeel tidak selalu harus ditafsirkan sebagai tanda mutlak bahwa hubungan harus diakhiri.

“Perasaan ilfeel ini bisa menjadi penanda ketidakcocokan, tetapi juga bisa merupakan gejala dari sensitivitas yang tinggi, sifat narsistik, atau perfeksionisme terhadap orang lain,” jelasnya.

Ilfeel bisa menjadi sinyal bahaya, tetapi juga bisa menjadi refleksi dari kecenderungan psikologis kita sendiri.

Penelitian ini mengajak kita untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan besar hanya karena satu rasa ilfeel.

Sebelum memutuskan hubungan hanya karena hal kecil, kita sebaiknya berpikir kritis tentang alasan munculnya perasaan itu. 

“Tanyakan pada diri sendiri, apakah ini benar-benar tidak bisa saya terima, atau saya terlalu kritis? Apakah ini kesalahan pasangan, atau justru masalah saya sendiri?” tutup Saunders.

Ilfeel bukanlah sesuatu yang harus selalu ditakuti atau diikuti secara membabi buta. Dalam banyak kasus, ia bisa menjadi pintu masuk untuk mengenali kebutuhan, batasan, serta kecenderungan psikologis diri sendiri. 

Alih-alih langsung mengakhiri hubungan, ilfeel justru bisa menjadi momen refleksi, tentang pasangan, dan tentang diri kita sendiri.

 

Tag:  #penelitian #ungkap #perasaan #ilfeel #selalu #karena #kesalahan #pasangan

KOMENTAR