Psikolog Ungkap 5 Perilaku Tidak Sehat dalam Mencari Pasangan
– Sebagian orang mungkin saja mencari pasangan untuk menjalin hubungan dengan cara yang tidak sehat secara psikologis.
Bukan karena niat buruk, melainkan karena dorongan emosi tertentu seperti takut sendirian, tekanan sosial, hingga ketidakterhubungan dengan diri sendiri.
Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi., Psikolog menjelaskan, cara seseorang memilih pasangan sering kali mencerminkan kondisi psikologis yang sedang dialaminya.
Ketika proses tersebut tidak dilandasi kesadaran dan pemahaman diri, hubungan yang terjalin berpotensi menimbulkan kekosongan emosional hingga konflik jangka panjang.
5 Perilaku Tidak Sehat dalam Mencari Pasangan
Berikut lima perilaku tidak sehat saat mencari pasangan, menurut Winona.
1. Takut sendiri
Salah satu tanda paling umum adalah memilih pasangan karena takut sendirian, bukan karena kesiapan membangun relasi yang sehat.
“Ketika seseorang memilih pasangan, bukan karena memang dia mau membangun satu hubungan secara sadar, tapi karena adanya ketakutan akan nilai-nilai tertentu,” ujar Winona saat diwawancarai Kompas.com, Senin (5/1/2026).
Ketakutan ini sering kali muncul dalam bentuk kecemasan akan kesepian atau kekhawatiran tidak memenuhi ekspektasi sosial.
“Bisa jadi seseorang takut kesepian, sehingga cepat cari pasangan tanpa cek kesamaan nilai, visi-misi, dan tujuannya sepadan atau tidak,” lanjutnya.
Akibatnya, proses mengenal pasangan dilakukan secara terburu-buru tanpa pertimbangan matang, yang pada akhirnya dapat memicu ketidakcocokan di kemudian hari.
2. Terlihat aman secara sosial
Tanda berikutnya adalah hubungan yang tampak ideal di mata orang lain, tetapi tidak memberikan kepuasan emosional bagi pelakunya.
“Secara sosial hubungannya terlihat baik-baik saja, ideal, dan jadi relationship goals. Padahal kalau ditilik ulang, bisa saja perasaan tidak bisa saling mengisi satu sama lain,” jelas dia.
Dalam kondisi ini, seseorang bisa merasa hubungannya aman karena mendapat pengakuan sosial, namun secara personal justru mengalami kekosongan emosional.
Relasi yang dibangun lebih berfungsi sebagai simbol status daripada ruang saling terhubung secara emosional.
Alhasil, perasaan hampa kerap muncul meski hubungan tersebut terlihat berjalan mulus dari luar.
3. Kompromi berlebihan
Kompromi memang menjadi bagian penting dalam hubungan. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan, hal ini justru menjadi tanda relasi yang tidak sehat.
“Setiap orang pasti punya value dan boundaries masing-masing. Kompromi berlebihan ini muncul akibat rasa takut yang akhirnya membuat seseorang menoleransi apa yang tidak sesuai nilai yang dianut,” kata Winona.
Kondisi ini sering terjadi ketika seseorang sudah menyadari adanya ketidakcocokan nilai, tetapi memilih mengabaikannya demi mempertahankan hubungan.
“Misalnya, kamu melihat pasangan kamu banyak red flags-nya dari value yang ia pegang, tapi karena takut sendirian, maka ditoleransi,” tambahnya.
Winona menegaskan, menormalisasi hal-hal yang sebenarnya dianggap sebagai deal breaker merupakan tanda relasi yang tidak sehat dan berisiko merugikan diri sendiri.
4. Terjebak dalam urgensi palsu
Tekanan sosial juga dapat mendorong seseorang mencari pasangan dengan cara yang tidak sehat, terutama ketika muncul perasaan harus memenuhi target hidup tertentu.
“Kita hidup di dalam masyarakat yang rasanya dikejar-kejar, harus mencapai achievement di usia tertentu. Kalau usia sudah matang harus punya pasangan, menikah, dan lainnya,” tuturnya.
Urgensi semu ini membuat seseorang merasa harus segera memiliki pasangan, tanpa mempertimbangkan kesiapan emosional maupun kualitas relasi.
“Padahal bisa jadi ketika mengejar urgensi tersebut, kita jadi tidak matang dalam mengambil keputusan,” lanjutnya.
Keputusan yang diambil dalam kondisi tertekan sering kali tidak berlandaskan kesadaran, sehingga berpotensi menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
5. Terpisah dari diri sendiri
Tanda terakhir adalah ketidakterhubungan dengan diri sendiri saat memilih pasangan.
Dalam kondisi ini, seseorang lebih fokus pada aspek eksternal dibandingkan perasaan personal.
“Ketika pilih pasangan, kita memilihnya berdasarkan apa yang kita dapatkan secara materi. Tapi, ketika ditanya soal perasaan ke pasangannya, kosong rasanya,” ungkap Winona.
Kekosongan tersebut menandakan bahwa individu belum benar-benar memahami kebutuhan emosionalnya sendiri.
“Hal ini tanda bahwa kamu tidak terhubung dengan diri sendiri, maka bingung dengan apa yang dibutuhkan,” katanya.
Ketika seseorang tidak mengenal dirinya dengan baik, proses memilih pasangan pun menjadi tidak selaras dengan kebutuhan emosional yang sebenarnya.
Mencari pasangan seharusnya menjadi proses yang sadar, reflektif, dan berangkat dari pemahaman diri.
Harapannya, dengan mengenali tanda-tanda di atas dapat membantu seseorang berhenti sejenak, mengevaluasi motivasi, dan membangun relasi yang lebih aman secara emosional.
Tag: #psikolog #ungkap #perilaku #tidak #sehat #dalam #mencari #pasangan