Sulit Menentukan Teman yang Cocok? Coba Kenali 'Brunch Table Theory'
Pernahkah Anda merasa ragu saat baru mengenal seseorang?
Di satu sisi, mereka tampak menyenangkan untuk diajak mengobrol, namun di sisi lain, ada perasaan mengganjal yang sulit dijelaskan.
Dalam dinamika sosial yang makin kompleks, menentukan siapa yang layak masuk ke lingkaran terdalam (inner circle) sering kali menjadi tantangan tersendiri.
Baru-baru ini, sebuah konsep bernama "Brunch Table Theory" ramai di media sosial setelah diperkenalkan oleh Harnidh Kaur, seorang penulis dan praktisi bisnis asal India.
Teori ini menawarkan cara sederhana namun mendalam untuk menguji kecocokan hubungan tanpa harus menunggu terjadinya konflik.
Setiap zodiak punya ?vibe? berbeda saat pertama kali bertemu orang. Ada yang tampak hangat, ada juga yang misterius. Kamu termasuk yang mana?
Visualisasi di meja makan
Inti dari teori ini adalah visualisasi mental. Bayangkan Anda sedang duduk di meja makan dalam sebuah acara brunch atau makan siang santai yang hangat.
Di meja tersebut, duduk orang-orang yang paling Anda sayangi dan paling mengenal Anda, bisa jadi orang tua, saudara kandung, atau sahabat masa kecil.
Lalu, coba "tempatkan" orang baru yang sedang Anda nilai ini di kursi kosong di antara mereka. Amati apa yang terjadi dalam imajinasi Anda:
Apakah mereka menyatu atau justru mendominasi? Apakah orang ini tampak rileks dan bisa mengikuti percakapan, atau mereka justru sibuk "tampil" (performing) untuk memukau orang lain?
Apakah Anda merasa tenang? Ini adalah poin krusial. Saat membayangkan mereka di sana, apakah Anda merasa bangga dan tenang, atau Anda justru merasa harus menjadi "penengah" yang sibuk mengatur suasana agar tidak canggung?
Mencari tanda positif lewat kebaikan kecil
Jika banyak tips hubungan berfokus pada deteksi red flags (tanda bahaya), Brunch Table Theory justru mengajak kita mencari green flags (tanda positif) melalui apa yang disebut sebagai micro-kindness.
"Ini lebih tentang mengenali tanda-tanda positif , hal-hal yang benar-benar membuat hubungan awet," ujarnya dikutip dari Bustle, Sabtu (10/1/2026).
Kebaikan mikro adalah tindakan-tindakan kecil yang dilakukan tanpa penonton dan tanpa pengumuman.
Misalnya, secara alami menuangkan air ke gelas teman yang kosong, menawarkan bantuan kecil saat seseorang kesulitan, atau sekadar mengingat detail kecil dari obrolan sebelumnya.
Di "meja makan" kehidupan, orang-orang yang memiliki micro-kindness inilah yang biasanya membuat hubungan terasa berkelanjutan.
Mereka tidak hanya hadir saat ada keriuhan, tetapi tetap nyaman berada di sana saat suasana sedang tenang atau bahkan membosankan.
Membangun hubungan pertemanan yang nyaman
Harnidh Kaur menekankan bahwa intensitas itu mudah, namun kenyamanan adalah bagian yang sulit.
Banyak orang bisa tampil mempesona dan karismatik dalam pertemuan singkat atau pesta besar.
Namun, hubungan jangka panjang tidak dibangun di atas pesta, melainkan di atas hari-hari biasa yang "tidak terpoles."
Jika kehadiran seseorang menuntut Anda untuk selalu tampil sempurna atau membuat Anda lelah secara emosional karena harus terus-menerus "menjaga vibe", itu adalah tanda bahwa mereka mungkin bukan orang yang tepat untuk lingkaran dalam Anda.
Mengapa ini penting?
Menerapkan teori ini bukan berarti kita menjadi eksklusif atau sombong. Ini adalah bentuk perawatan diri (self-care) untuk melindungi energi kita.
Dengan melakukan "cek ombak" mental ini, kita bisa lebih bijak membedakan mana orang yang sekadar menyenangkan untuk teman jalan, dan mana yang benar-benar layak menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.
Sebab pada akhirnya, sahabat sejati adalah mereka yang membuat meja makan kehidupan kita terasa lebih ringan, bukan justru membuatnya terasa lebih berat.
Tag: #sulit #menentukan #teman #yang #cocok #coba #kenali #brunch #table #theory