Rasa Takut Sendiri Membuat Perempuan Sulit Lepas dari Hubungan Tak Sehat
Ilustrasi perempuan sedang menyendiri(Shutterstock)
17:50
10 Januari 2026

Rasa Takut Sendiri Membuat Perempuan Sulit Lepas dari Hubungan Tak Sehat

– Rasa takut sendirian kerap menjadi emosi yang diam-diam memengaruhi keputusan seseorang dalam menjalin hubungan.

Bagi sebagian perempuan, ketakutan ini bahkan bisa membuat mereka bertahan dalam relasi yang tidak lagi memenuhi kebutuhan emosional, bahkan cenderung merugikan diri sendiri.

Psikolog Klinis Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., Psikolog mengungkapkan, ketika rasa takut kesepian lebih dominan daripada kesadaran akan kualitas relasi, seseorang berisiko terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

“Sebenarnya cukup sering terjadi, ketika seseorang memilih pasangan karena takut kesepian,” kata Ayu saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (7/1/2026).

Menurut psikolog yang berpraktik di Bali ini, ketakutan tersebut tidak selalu muncul secara eksplisit.

Banyak perempuan yang tidak menyadari bahwa keputusan bertahan dalam hubungan tertentu didorong oleh rasa takut sendirian, bukan karena relasi itu benar-benar memberi rasa aman dan bahagia.

Bertahan meski kebutuhan emosional tak perpenuhi

Salah satu indikator utama dari hubungan yang didasari rasa takut kesepian adalah bertahannya seseorang dalam relasi meskipun kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi.

Dalam kondisi ini, relasi tidak lagi menjadi ruang aman untuk tumbuh bersama, melainkan sekadar alat untuk menghindari rasa sepi.

“Untuk beberapa indikatornya yang sering muncul itu biasanya ketika seseorang itu bertahan dalam hubungan meski kebutuhan emosionalnya itu tidak terpenuhi dalam hubungan itu,” jelas Ayu.

Kebutuhan emosional yang dimaksud dapat berupa rasa dihargai, didengarkan, atau didukung secara psikologis.

Ketika hal-hal tersebut tidak terpenuhi, namun hubungan tetap dipertahankan, ada kemungkinan besar bahwa ketakutan akan kesepian menjadi alasan utama di baliknya.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengikis kepercayaan diri dan membuat individu semakin sulit mengenali apa yang sebenarnya dibutuhkan dari sebuah hubungan.

Lingkungan sosial ikut memberi tekanan pada perempuan

Selain faktor internal, tekanan sosial juga kerap memperparah ketakutan akan kesepian.

Norma masyarakat yang masih memandang status hubungan sebagai ukuran keberhasilan hidup dapat membuat perempuan merasa harus memiliki pasangan, apa pun kondisinya.

“Bisa juga membuat keputusan relasi karena tekanan sosial daripada keinginan pribadi,” kata Ayu.

Tekanan ini bisa datang dari lingkungan keluarga, pertemanan, maupun ekspektasi sosial yang menganggap kesendirian sebagai sesuatu yang perlu dihindari.

Dalam situasi tersebut, keputusan menjalin atau mempertahankan hubungan sering kali tidak sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan dan keinginan pribadi.

Relasi sehat berangkat dari pilihan sadar

Ayu menegaskan, hubungan yang sehat seharusnya dibangun atas dasar kesadaran, bukan ketakutan.

Relasi ideal adalah relasi yang dipilih secara sadar karena memberi rasa aman, dukungan, dan ruang untuk berkembang, bukan sekadar menjadi pelarian dari rasa sepi.

“Padahal, relasi yang sehat itu umumnya dibangun atas dasar pilihan yang sadar. Bukan semata untuk menghindari kesepian atau lari dari rasa takut,” tegasnya.

Kesadaran ini mencakup kemampuan mengenali kebutuhan diri sendiri, memahami batasan pribadi, serta berani mengevaluasi apakah suatu hubungan benar-benar memberikan dampak positif.

Dengan kesadaran tersebut, perempuan diharapkan dapat membuat keputusan relasi yang lebih sehat dan berdaya.

Ketakutan akan kesepian adalah emosi yang manusiawi. Namun, ketika rasa takut itu menjadi dasar utama dalam memilih atau mempertahankan pasangan, risiko terjebak dalam hubungan yang tidak sehat pun semakin besar.

Oleh karenanya, memahami motivasi di balik keputusan relasi menjadi langkah penting untuk membangun hubungan yang lebih aman dan bermakna.

Tag:  #rasa #takut #sendiri #membuat #perempuan #sulit #lepas #dari #hubungan #sehat

KOMENTAR