Puji Kepemipinannya Sendiri, Trump: Ini Zaman Keemasan AS
- Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pidato kenegaraan yang penuh rasa percaya diri di hadapan Kongres pada Selasa (24/2/2026).
Ia pun membuka pidatonya dengan memuji pencapaian AS di bawah kepemimpinannya.
"Ini zaman keemasan Amerika Serikat," kata Trump, dikutip dari Le Monde, Rabu (25/2/2026).
Trump sesumbar telah membawa transformasi besar yang belum pernah terjadi sebelumnya, sekaligus menjadikan AS sebagai negara yang jauh lebih kuat.
Pidato ini menjadi upaya Trump untuk meyakinkan konstituennya menjelang pemilihan mendatang.
"Malam ini, setelah hanya satu tahun, saya dapat mengatakan dengan bermartabat dan bangga bahwa kita telah mencapai transformasi yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya, dan sebuah perubahan besar yang akan dikenang sepanjang masa," ujarnya.
Baca juga: Trump Tuding Iran Kembangkan Rudal yang Bisa Menjangkau AS
Klaim sukses operasi di Venezuela
Salah satu poin utama yang disoroti Trump adalah hasil dari kebijakan luar negerinya di Amerika Latin.
Ia mengeklaim bahwa Washington telah menerima lebih dari 80 juta barel minyak dari Venezuela menyusul operasi penggulingan Nicolas Maduro.
"Kami baru saja menerima lebih dari 80 juta barel minyak dari teman dan mitra baru kami, Venezuela," jelas dia.
"Produksi minyak AS meningkat lebih dari 600.000 barel per hari," sambungnya.
Sebagai informasi, Trump memerintahkan penangkapan pemimpin sosialis Maduro pada Januari atas tuduhan perdagangan narkoba dan kejahatan lainnya.
Sejak itu, AS telah melonggarkan sanksi minyak terhadap negara tersebut dalam upaya untuk meningkatkan produksi.
Baca juga: Jenderal AS Ketar-ketir Lihat Rencana Trump Serang Iran
Serukan pengesahan RUU identitas pemilih
Trump juga memerintahkan Kongres untuk mengesahkan undang-undang yang memberlakukan persyaratan identitas tambahan bagi warga AS untuk memilih.
Para penentang rancangan undang-undang tersebut mengatakan, persyaratan yang lebih ketat untuk dokumen-dokumen tambahan akan mengakibatkan sejumlah besar pemilih sah tidak dapat memberikan suara.
Perdebatan mengenai hak pilih ini terjadi ketika Partai Republik berupaya menghindari kehilangan mayoritas tipis mereka di Dewan Perwakilan Rakyat dan berpotensi juga di Senat.
Jajak pendapat Washington Post-ABC News-Ipsos yang diterbitkan pada Minggu (22/2/2026) menunjukkan peringkat persetujuan Trump hanya sebesar 39 persen.
Hanya 41 persen yang menyetujui penanganannya terhadap perekonomian secara keseluruhan dan hanya 32 persen yang menyetujui inflasi.
Trump telah dihantam oleh serangkaian pukulan, yang terbaru adalah putusan Mahkamah Agung yang membatalkan penggunaan tarif perdagangan paksa terhadap berbagai negara di seluruh dunia.