Salat Tarawih Minimal Berapa Rakaat? Ini Penjelasan Lengkapnya
Di bulan suci Ramadan, umat muslim di seluruh dunia berlomba-lomba dalam melaksanakan ibadah terbaik, termasuk salat tarawih.
Salat tarawih merupakan ibadah sunah yang dilakukan setiap malam di bulan Ramadan, biasanya setelah Isya sebelum salat Witir. Ibadah Sunnah Muakad ini sebagai bentuk kedekatan kepada Allah SWT dan banyak keutamannya.
Salat Tarawih sangat dianjurkan dilakukan selama bulan puasa, bahkan Nabi Muhammad SAW dulu sangat rutin melakukannya sebagaimana terekam daam sebuah riwayat hadist yang berbunyi:
َامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: "Barang siapa melakukan ibadah di bulan Ramadan dengan beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau." (HR Bukhari, Muslim)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa, setiap ibadah yang dilakukan dengan keimanan dan keihklasan tinggi akan mendapatkan ampunan Allah SWT.
Nabi Muhammad pertama kali melaksanakan ibadah tarawih pada tahun kedua hijriah, dilakukan di secara berjamaah di masjid sebanyak 11 rakaat.
Namun pada perkembangannya, salat Tarawih bisa dilakukan sebanyak 8, 20, dan 36 rakaat. Hingga muncul pertanyaan penting di kalangan orang awam: Salat Tarawih minimal berapa rakaat?
Sebelum mengetahui berapa minimal rakaat salat Tarawih, lebih baik ketahui dulu sejarah tarawih serta hadis yang menyertainya. Berikut uraian singkatnya.
Sejarah Salat Tarawih
Perbesar
Umat Islam melaksanakan ibadah Salat Tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (18/2/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Muhammad SAW pertama kali melaksanakan tarawih pada tahun kedua hijriah, tepatnya tanggal 23 Ramadan.
Saat melakukan ibadah tersebut, Rasulullah SAW tidak selalu mengerjakan di masjid, namun juga melakukannya di rumah.
Hal tersebut pernah diceritakan Sayyidah Aisyah RA, tercantum dalam hadis riwayat Bukhari.
عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي المَسْجِدh، فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ القَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: «قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ
Artinya: "Dari urwah bin zubair dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin radliyallahu ‘anha, sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam shalat di masjid, lalu banyak sahabat shalat mengikuti beliau. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul tapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, 'Sungguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila shalat ini diwajibkan pada kalian'. Sayyidah ‘Aisyah berkata, 'Hal itu terjadi pada bulan Ramadan'." (HR Bukhari)
Ketika masa Nabi, istilah yang dipakai berupa qiyamul lail bukan disebut sebagai tarawih. Sedangkan kata tarawih sendiri mulai diperkenalkan pada masa khalifah Umar bin Khattab.
Dari situlah awal mula kebiasaan tarawih berjamaah dilakukan sampai sekarang. Sedangkan kata tarawih sendiri berasal dari adanya jeda istirahat (tarwihah) setiap dua kali salam saat pelaksanaannya.
Salat Tarawih Minimal Berapa Rakaat?
Ibadah tarawaih merupakan salat sunah yang dilaksanakan pada malam hari di bulan Ramadan, dengan jumlah rakaat 8, 20 dan 36 rakaat.
Jadi minimal jumlah rakaatnya adalah 8 sesuai hadis berikut:
أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً
Artinya: "Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadan dan tidak pula pada bulan selain Ramadan dari 11 rakaat. Beliau shalat empat rakaat sekali salam, maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat empat rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir tiga rakaat." (HR Muslim)
Pembagian rakaat Tarawih umumnya dilakukan kelipatan 2 rakaat salam. Namun, ada juga yang menggunakan sistem 4 rakaat satu salam.
Salat Tawarih 4 rakaat tetap sah dilakukan, sebagaimana Rasulullah SAW juga pernah mengerjakannya. Ketentuan tersebut terdapat dalam penjelasan hadis sebelumnya.
Rasulullah SAW juga pernah melaksanakan tarawih lebih dari 4 rakaat lalu salam, sebagaimana tercantum dalam hadis berikut ini.
كُناَّ نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ، فَيَـبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ أَنْ يَـبْعَثَهُ مِنَ الَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يُصَلِى تِسْعَ رَكْعَةٍ لاَ يَـجْلِسُ فِيْهَا إِلاَّ ف الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعْناَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ
Artinya: ”Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudu untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas kehendak Allah dia selalu bangun malam hari, juga tatkala dia bangun tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Kemudian dia melakukan salat malam atau Tarawih 9 rakaat yang dia tidak duduk kecuali pada rakaat yang kemudian membaca pujian kepada Allah dan shalawat dan melakukan dan tidak salam, kemudian bangkit berdiri untuk rakaat yang kemudian duduk tahiyat akhir dengan membaca dzikir, kepada Allah, shalawat dan berdoa terus salam dengan suara yang didengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan salat lagi dua rakaat dalam keadaan duduk.” (HR. Muslim 1233 marfu', mutawatir).
Kontributor : Damayanti Kahyangan
Tag: #salat #tarawih #minimal #berapa #rakaat #penjelasan #lengkapnya