9 Sikap Orangtua yang Bisa Merusak Hubungan dengan Anak, Menurut Psikolog
Ilustrasi orangtua overprotective.(Freepik)
13:35
8 Januari 2026

9 Sikap Orangtua yang Bisa Merusak Hubungan dengan Anak, Menurut Psikolog

- Tanpa disadari, sikap orangtua sehari-hari dapat merusak hubungan dengan anak. Bukan karena niat buruk, melainkan karena respons emosional, pola komunikasi, atau cara menghadapi konflik yang keliru.

Menurut psikolog Danielle Budash Newkam, hubungan orangtua dan anak tidak rusak hanya karena satu kejadian besar, tetapi karena akumulasi sikap yang membuat anak merasa tidak didengar, tidak dipahami, atau tidak aman secara emosional.

“Relasi antara orangtua dan anak itu rumit. Banyak faktor yang memengaruhi kekuatan serta kedekatan hubungan, termasuk sejauh mana luka atau kerusakan bisa terjadi ketika hubungan tersebut mengalami retakan,” ujar Newkam dikutip dari HuffPost, Kamis (8/1/2026).

Ia mengatakan, orangtua terkadang melukai anak secara emosional tanpa sengaja, terutama ketika emosi tidak terkendali.

Namun, Newkam juga menekankan, sering kali keretakan dalam hubungan tersebut tetap dapat diperbaiki.

9 sikap yang bisa merusak hubungan dengan anak

1. Tidak mendengarkan cerita anak

Saat anak berbicara, orangtua sering tergoda untuk langsung bertanya atau memberi solusi. Padahal, respons ini bisa membuat anak merasa tidak didengar.

“Pertanyaan dan saran dapat menyebabkan anak menjadi tertutup dan merasa tidak didengarkan,” kata psikolog anak Ariana Hoet.

Sebaliknya, orangtua bisa memvalidasi pengalaman anak dengan mengatakan “kedengarannya sangat menakutkan” atau “kamu pasti merasa takut saat itu”, saran Hoet.

Psikolog anak Louise Lockhart juga menyarankan agar orangtua mendorong anak untuk menguraikan lebih lanjut tentang apa yang sedang mereka ceritakan.

2. Menyepelekan emosi anak

Ucapan seperti “jangan cengeng” atau “itu bukan masalah besar”, memberi pesan bahwa emosi anak tidak valid.

“Hal ini dapat memengaruhi rasa percaya diri dan harga diri mereka,” kata Lockhart.

Menurutnya, anak yang terbiasa ditekan emosinya cenderung memendam perasaan hingga dewasa.

3. Memberi silent treatment

Mengambil waktu untuk menenangkan diri boleh saja dilakukan, tetapi mendiamkan anak tanpa penjelasan bisa melukai secara emosional.

“Orangtua bisa berkata, ‘Aku butuh lima menit untuk menenangkan diri, nanti kita bicara lagi,’ bukan menghilang begitu saja,” kata psikolog anak Jessica Glass Kendorski.

Ia menekankan bahwa anak tetap membutuhkan kepastian koneksi, bahkan saat orangtua sedang marah.

4. Mengabaikan ajakan untuk terhubung

Ajakan sederhana seperti “lihat aku” adalah upaya anak membangun kedekatan.

“Jika anak berusaha terhubung, penting bagi orangtua untuk mengakui usaha itu, meskipun belum bisa langsung merespons penuh,” ujar Kendorski.

Pengabaian berulang dapat membuat anak berhenti mencoba terhubung. Orangtua bisa menggunakan pernyataan afirmatif tentang apa yang harus anak lakukan, bukan apa yang tidak boleh dilakukan.

5. Mempermalukan anak

Memarahi perilaku berbeda dengan mempermalukan pribadi anak.

“Konsep rasa malu membuat anak menginternalisasi bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya, bukan hanya dengan perilakunya,” kata Kendorski.

Ia mengingatkan agar kritik selalu diarahkan pada tindakan, bukan identitas anak.

6. Membandingkan anak dengan saudara

Perbandingan antaranak bisa melukai harga diri dan menciptakan rasa tidak cukup.

“Kalimat seperti ‘kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?’ sangat merusak hubungan orangtua dengan anak,” ujar Kendorski.

Menurutnya, anak butuh merasa diterima sebagai individu, bukan dinilai lewat standar orang lain.

7. Membebani anak dengan masalah orang dewasa

Menceritakan konflik rumah tangga atau menjelekkan orangtua lain di depan anak termasuk kesalahan serius.

“Orangtua sebaiknya tidak membicarakan hal-hal yang belum siap dipahami anak sesuai usianya,” kata terapis keluarga Erin Pash.

Anak bisa merasa cemas dan memikul tanggung jawab emosional yang bukan miliknya.

8. Mengkhianati kepercayaan anak

Saat anak berbagi rahasia, lalu orangtua menyebarkannya, kepercayaan anak kepada orangtua bisa runtuh.

Jika orangtua membocorkan kepercayaan anak, kemungkinan besar anak tidak akan datang lagi saat ada masalah yang lebih besar.

Pengecualian hanya berlaku jika menyangkut keselamatan anak atau orang lain.

9. Memberi hukuman berlebihan

Hukuman keras tanpa pembelajaran justru memberi dampak negatif pada anak.

“Dengan hukuman berlebihan, anak belajar berbohong, menyembunyikan kesalahan, dan mengabaikan kebutuhan emosinya sendiri,” kata Lockhart.

Menurutnya, disiplin seharusnya mengajarkan keterampilan baru, bukan sekadar memberi efek jera.

Tag:  #sikap #orangtua #yang #bisa #merusak #hubungan #dengan #anak #menurut #psikolog

KOMENTAR