3 Langkah Mencegah Rasa Bersalah Ibu agar Tidak Berkepanjangan, Menurut Psikolog
– Rasa bersalah dalam pengasuhan atau mom guilt menjadi pengalaman emosional yang umum dialami banyak ibu.
Jika dibiarkan tanpa pengelolaan yang tepat, mom guilt dapat berkembang menjadi tekanan psikologis yang berkepanjangan.
Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Farraas Afiefah Muhdiar mengatakan, mom guilt bukanlah tanda kegagalan seorang ibu.
Namun, perasaan tersebut perlu disadari dan diolah dengan cara yang sehat agar tidak berlarut-larut dan memengaruhi kesehatan mental maupun kualitas pengasuhan.
Berikut tiga langkah penting yang dapat dilakukan ibu untuk mencegah mom guilt berkepanjangan.
1. Bedakan fakta dan judgment terhadap diri sendiri
Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Farraas Afiefah Muhdiar saat diwawancarai Kompas.com di Jakarta Selatan, (10/12/2025).
Langkah pertama yang penting dilakukan adalah membedakan antara fakta dan penilaian negatif terhadap diri sendiri.
Menurut Farraas, ibu sering kali terlalu keras dalam menilai dirinya, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya masih berada dalam batas wajar.
“Coba diganti kalimatnya denga yang lebih netral, walaupun susah untuk sampai ke tahap positif. Dari pada bilang ‘Aku payah banget jadi ibu’, coba fokus ke fakta yang ada,” jelas Farraas saat diwawancarai Kompas.com di Jakarta Selatan, (10/12/2025).
Alih-alih langsung menyimpulkan diri sebagai ibu yang buruk, ibu perlu melihat apa yang benar-benar terjadi hari itu. Fakta sering kali tidak seburuk penilaian yang muncul di kepala.
“Sebagai contoh, faktanya ternyata hari ini aku enggak sering marah ke anakku, yang mungkin saja biasanya lebih dari ini. Harus hati-hati membedakan fakta dan judgment terhadap diri sendiri,” lanjut Farraas.
Dengan fokus pada fakta, ibu dapat menilai situasi secara lebih objektif. Cara ini membantu menurunkan pikiran negatif berulang yang menjadi salah satu pemicu utama mom guilt.
2. Buat ekspektasi yang lebih realistis
Selain penilaian diri yang terlalu keras, mom guilt juga sering dipicu oleh ekspektasi yang tidak realistis.
Farraas menilai banyak ibu memiliki gambaran ideal tentang peran keibuan yang sulit dicapai dalam kehidupan sehari-hari.
“Buatlah ekspektasinya lebih realistis dengan situasi kehidupan yang dijalani. Kalau masih terlalu jauh ekspektasinya nanti akan stres sendiri,” ujarnya.
Ekspektasi yang terlalu tinggi, terutama yang tidak sebanding dengan sumber daya, waktu, dan kondisi emosional ibu, justru akan menjadi sumber tekanan baru.
Hal ini membuat ibu merasa terus-menerus gagal, meski sebenarnya telah berusaha semaksimal mungkin.
“Jangan langsung targetnya jadi ibu yang sempurna kayak ibu peri. Tapi coba bua target dalam seminggu ini mau lebih sabar menghadapi anak,” kata Farraas.
Target yang sederhana dan realistis membantu ibu merasa lebih mampu dan terkendali. Dari pencapaian kecil inilah kepercayaan diri perlahan dapat tumbuh dan mom guilt pun berkurang.
3. Jangan lupa mengapresiasi diri sendiri
Langkah ketiga yang tak kalah penting adalah membiasakan diri untuk mengapresiasi usaha sendiri.
Ia mengungkap, ibu sering kali lupa memberi pengakuan atas hal-hal baik yang telah dilakukan karena tidak adanya standar yang jelas dalam peran pengasuhan.
“Jangan lupa untuk mengapresiasi diri, karena jadi ibu itu enggak seperti di sekolah yang ada rapotnya, tidak ada standar patokan yang jelas,” ungkapnya.
Ketiadaan tolok ukur ini membuat ibu mudah merasa gagal, bahkan untuk hal-hal kecil yang sebenarnya sudah dilakukan dengan baik.
“Maka tak heran mengapa ibu bisa sangat rentan untuk merasa gagal setiap hari. Penting untuk coba berpikir setiap hari ketika sebelum tidur, apa satu hal yang berhasil dilakukan dengan baik di hari itu,” jelas Farraas.
Kebiasaan sederhana ini dapat membantu ibu melihat sisi positif dari hari yang telah dilalui.
Dengan mengakui satu keberhasilan kecil setiap hari, ibu akan lebih mudah membangun rasa cukup dan mengurangi rasa bersalah yang tidak perlu.
Mengelola mom guilt demi kesehatan mental ibu
Farraas menekankan, mom guilt adalah perasaan yang wajar, namun perlu dikelola agar tidak berkembang menjadi tekanan emosional yang berkepanjangan.
Dengan membedakan fakta dan penilaian diri, menetapkan ekspektasi yang realistis, serta rutin mengapresiasi diri, ibu dapat menjaga kesehatan mentalnya dengan lebih baik.
Ibu yang lebih tenang dan percaya diri akan lebih mampu hadir secara utuh dalam pengasuhan. Upaya menjaga diri sendiri juga merupakan bagian penting dari merawat dan membesarkan anak.
Tag: #langkah #mencegah #rasa #bersalah #agar #tidak #berkepanjangan #menurut #psikolog