8 Ciri-Ciri Mental Miskin, Diam-Diam Bisa Merusak Masa Depan
Ilustrasi memiliki mental miskin. (Freepik.com/gpointstudio)
16:13
2 Februari 2026

8 Ciri-Ciri Mental Miskin, Diam-Diam Bisa Merusak Masa Depan

Baca 10 detik
  • Mental miskin berbeda dengan kondisi kemiskinan ekonomi.
  • Mental miskin lebih kepada pola pikir, yang bisa menghambat kesuksesan.
  • Ketahui apakah Anda memiliki mental miskin lewat artikel ini.

Istilah "mental miskin" atau poverty mindset kerap menjadi perbincangan hangat di dunia pengembangan diri.

Secara psikologis, mental miskin adalah pola pikir yang berbasis pada kelangkaan (scarcity mindset) dan rasa takut yang berlebihan.

Orang dengan mentalitas ini selalu merasa tidak pernah cukup, fokus pada hal-hal yang hilang, dan merasa bahwa sumber daya di dunia ini sangat terbatas sehingga mereka harus terus-menerus merasa terancam.

Penting untuk digarisbawahi bahwa mental miskin tidak sama dengan kondisi kemiskinan secara ekonomi. Mental miskin adalah pola pikir yang bisa menjangkiti siapa saja, termasuk mereka yang secara materi sudah berkecukupan.

Ciri-Ciri Seseorang Memiliki Mental Miskin

Mengenali ciri-ciri mental miskin sangat penting agar kita tidak terjebak dalam pola hidup yang stagnan. Perlu digarisbawahi bahwa mental miskin bukan tentang berapa banyak uang yang Anda miliki, melainkan bagaimana Anda memandang peluang dan tantangan.

Berdasarkan literatur dari para pakar seperti Sendhil Mullainathan, Carol Dweck, hingga Robert Kiyosaki, berikut adalah ciri-ciri mendalam orang yang memiliki mental miskin:

1. Terjebak dalam "Tunneling" (Fokus Jangka Pendek)

Merujuk pada buku Scarcity: Why Having Too Little Means So Much karya Mullainathan dan Shafir, ciri utama mental miskin adalah efek "terowongan" (tunneling). Seseorang hanya fokus pada masalah yang mendesak saat ini dan mengabaikan masa depan.

Contoh: Lebih memilih menghabiskan gaji untuk belanja impulsif demi kesenangan sesaat (gratifikasi instan) daripada menyisihkannya untuk dana darurat atau investasi yang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Ilustrasi kemiskinan. [Freepik] PerbesarIlustrasi mental miskin. [Freepik]

2. Memiliki Mentalitas Korban (Victim Mentality)

Menurut Stephen Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People, menyebut orang dengan pola pikir ini cenderung reaktif. Mereka merasa hidup mereka ditentukan oleh faktor luar yang tidak bisa mereka kendalikan.

Ciri-cirinya: Sering menyalahkan pemerintah, orang tua, atasan, atau ekonomi atas kegagalan mereka. Mereka merasa dunia "berhutang" pada mereka, sehingga mereka jarang mengambil tanggung jawab penuh untuk mengubah nasib sendiri.

3. Membeli Liabilitas untuk Terlihat Kaya

Dalam buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki menjelaskan perbedaan mencolok antara cara orang bermental kaya dan bermental miskin dalam mengelola uang.

Ciri-cirinya: Orang bermental miskin sering menggunakan uangnya untuk membeli "liabilitas", yakni barang yang nilainya turun dan menguras uang, seperti gadget terbaru atau gaya hidup mewah namun menganggapnya sebagai prestasi.

Tujuannya adalah demi gengsi dan agar diakui oleh lingkungan sosial, meski kondisi keuangan sebenarnya terengah-engah.

4. Merasa Kesuksesan Orang Lain Adalah Ancaman

Ini adalah ciri dari Scarcity Mindset atau pola pikir kelangkaan. Mereka percaya bahwa "kue" kesuksesan di dunia ini terbatas.

Ciri-cirinya: Jika melihat teman atau rekan kerja sukses, mereka akan merasa iri atau merasa "jatah" sukses mereka berkurang. Mereka memandang hidup sebagai kompetisi. Sebaliknya, mental berkelimpahan akan merasa terinspirasi dan percaya bahwa semua orang bisa sukses bersama.

Ilustrasi seseorang yang menolak (Unsplash.com/Nadine E) PerbesarIlustrasi seseorang memiliki menal miskin. (Unsplash.com/Nadine E)

5. Takut Mengambil Risiko dan Menghindari Tantangan

Carol Dweck menyebut ini sebagai bagian dari Fixed Mindset. Orang dengan mental miskin menganggap kegagalan sebagai tanda bahwa mereka tidak kompeten, sehingga mereka lebih memilih berada di zona nyaman.

Ciri-cirinya: Mereka sering berkata, "Ah, itu tidak mungkin buat saya," atau "Saya memang tidak punya bakat di situ." Mereka takut mencoba hal baru karena takut rugi atau takut ditertawakan, padahal risiko adalah bagian dari pertumbuhan.

6. Fokus pada Menabung untuk "Disimpan", Bukan untuk "Diputar"

Meskipun menabung itu baik, orang bermental miskin seringkali terlalu takut kehilangan uang sehingga mereka menyimpannya di tempat yang nilainya tergerus inflasi.

Ciri-cirinya: Mereka tidak mau belajar tentang instrumen investasi karena menganggap investasi adalah judi atau penipuan. Mereka lebih fokus pada cara "memotong pengeluaran kecil" secara ekstrem daripada mencari cara untuk "meningkatkan pendapatan".

7. Sering Mengeluh Namun Tidak Bertindak

Keluhan adalah "makanan" harian bagi pemilik mental miskin. Mereka sangat fasih menjelaskan apa yang salah dengan dunia ini, tetapi tidak punya rencana untuk memperbaikinya.

Ciri-cirinya: Fokus pada masalah (problem-oriented) daripada solusi (solution-oriented). Mereka menghabiskan lebih banyak energi untuk membicarakan hambatan daripada mengeksekusi ide.

8. Enggan Berinvestasi pada Diri Sendiri

Bagi orang bermental miskin, membeli buku seharga 100 ribu atau mengikuti kursus seharga 500 ribu dianggap mahal, tetapi mengeluarkan uang yang sama untuk makan malam mewah atau hiburan dianggap biasa.

Ciri-cirinya: Mereka menganggap sekolah atau belajar berhenti setelah lulus formal. Mereka tidak melihat bahwa keterampilan dan pengetahuan adalah aset terbesar yang bisa menghasilkan uang lebih banyak di masa depan.

Itulah sejumlah ciri-ciri mental miskin yang bisa menghambat kesuksesan. Mental miskin merupakan pola pikir dan perilaku yang terbentuk dari kebiasaan dan cara pandang terhadap sumber daya. Jadi, pola pikir ini sangatlah bisa diubah, asal ada niat dan konsistensi. 

Editor: Yasinta Rahmawati

Tag:  #ciri #ciri #mental #miskin #diam #diam #bisa #merusak #masa #depan

KOMENTAR