IHSG Anjlok, OJK: Indeks di Regional Juga Minus
Ilustrasi pasar saham.(PIXABAY/PETE LINFORTH)
19:40
2 Februari 2026

IHSG Anjlok, OJK: Indeks di Regional Juga Minus

- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa tekanan pasar modal tidak hanya terjadi di Indonesia saja, namun koreksi juga terjadi hampir merata di kawasan Asia.

Pejabat Sementara Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, menyebut mayoritas indeks saham di Asia bergerak di zona negatif.

Bahkan, tekanan di sejumlah bursa regional tercatat lebih dalam dibandingkan Indonesia.

Friderica mencontohkan indeks saham Korea Selatan, Korea Composite Stock Price Index, terkoreksi lebih dari 5 persen.

Baca juga: OJK: Setelah 4 Hari Asing Net Sell, Hari Ini Asing Net Buy Rp 654,9 M

Kondisi senada juga terjadi di bursa di Hong Kong, India, Singapura, dan Tiongkok.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin dengan pelemahan tajam.

Indeks anjlok 4,88 persen atau turun 406,87 poin ke level 7.922,73, di tengah tekanan jual yang masih mendominasi pasar saham domestik.

“Kemudian kalau kita lihat teman-teman ya, secara regional, indeks-indeks di regional juga minus ya. Kalau kita lihat di Korea Composite Stock Price Index, itu minusnya bahkan jauh lebih dalam, 5 persen lebih ya, 5,4 persen,” ujar Friderica saat konferensi pers di gedung BEI, Jakarta, Senin (2/2/2026).

“Kemudian di Hongkong, kemudian India, Singapura, dan Tiongkok juga secara regional melemah,” paparnya.

Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga merembet ke aset global lain seperti emas.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar saat ini bersifat global dan tidak spesifik terhadap pasar domestik saja.

“Juga emas juga melemah pada hari ini. Jadi kita melihatnya ini juga untuk perspektif yang lebih luas dan lebih global begitu ya,” beber wanita yang akrab disapa Kiki.

IHSG Tertekan Imbas Rebalancing Portofolio Investor

Friderica memandang terdapat sinyal positif di tengah tekanan pasar modal Tanah Air.

Hal ini karena investor masih memberikan respons terhadap kualitas fundamental emiten.

Saham-saham dengan kinerja dan prospek bisnis yang dinilai kuat tetap mampu mencatatkan kenaikan, meskipun terbatas, sementara tekanan justru terjadi pada saham-saham yang sebelumnya telah mengalami kenaikan harga terlalu tinggi.

Kondisi tersebut mencerminkan adanya penyesuaian portofolio, bukan perubahan mendasar pada arah pasar.

“Jadi market kita hari ini walaupun turun tapi ada hal-hal baik yang bisa kita lihat. Dan kalau kita lihat hari ini saham-saham yang turun adalah saham-saham yang selama ini memang harganya sudah tinggi. Jadi kalau kita melihat investor melakukan rebalancing portfolio mereka,” pungkasnya.

IHSG Anjlok, Asing Net Buy Rp 654,9 Miliar

Friderica menilai di balik pelemahan IHSG hari ini terdapat sinyal positif, yakni kembalinya aksi beli investor asing, setelah empat hari sebelumnya mencatatkan penjualan bersih.

Di mana investor asing membukukan net buy sebesar Rp 654,9 miliar.

“Bagaimana market kita pada hari ini ditutup turun 4,88 persen. Jadi indeks di 7.922,73. Namun dibalik angka penurunan tersebut, tentu ada hal lain yang harus kita lihat juga dan ini hal yang sangat baik. Ternyata setelah 4 hari asing net sell, pada hari ini asing mencatatkan net buy sebesar Rp 654,9 miliar,” ungkapnya.

Meskipun IHSG ditutup melemah, data Bursa Efek Indonesia mencatat transaksi memperlihatkan adanya pembelian bersih asing yang terkonsentrasi pada saham perbankan, telekomunikasi, energi, hingga pertambangan.

Beberapa saham dengan nilai pembelian bersih asing terbesar tercatat pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Investor asing membukukan net buy sekitar Rp 439,50 miliar, dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp 2,45 triliun dan volume sekitar 3,27 juta saham.

Posisi berikutnya ditempati PT XL Axiata Tbk (EXCL) yang mencatatkan pembelian bersih asing sebesar Rp 158,04 miliar, dengan nilai transaksi sekitar Rp 308,74 miliar.

Dari sektor energi dan pertambangan, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) masuk dalam daftar saham yang paling banyak dikoleksi asing hari ini, dengan net buy Rp 123,71 miliar.

Disusul PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang membukukan pembelian bersih asing Rp 94,53 miliar, serta PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dengan net buy sekitar Rp 85,91 miliar.

Minat asing juga terlihat pada saham energi lain, yakni PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang dibeli bersih sekitar Rp 77,11 miliar, serta PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan net buy sekitar Rp 56,42 miliar.

Kemudian, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dibeli bersih asing sekitar Rp 71,77 miliar, sedangkan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) masing-masing mencatatkan net foreign buy sebesar Rp 67,86 miliar dan Rp 66,63 miliar.

Baca juga: IHSG Anjlok, CIO Danantara Sebut Ada Rotasi ke Saham Fundamental

Tag:  #ihsg #anjlok #indeks #regional #juga #minus

KOMENTAR