Ikut Negosiasi dengan MSCI, CIO Danantara Buka Isu Free Float hingga Dana Pensiun
CIO Danantara, Pandu Sjahrir, saat ditemui di gedung BEI, Jakarta, Senin (2/2/2026)(KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN)
16:32
2 Februari 2026

Ikut Negosiasi dengan MSCI, CIO Danantara Buka Isu Free Float hingga Dana Pensiun

- Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) ikut terlibat bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rangkaian komunikasi dan negosiasi dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Keterlibatan Danantara hanya sebagai investor pasar modal.

Adapun, jadwal pertemuan dan negosiasi dengan MSCI digelar pada Senin sore (2/2/2026) secara daring.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan pertemuan dengan MSCI difokuskan pada isu dan masukan yang telah disampaikan oleh MSCI sebelumnya, terutama terkait keterbukaan informasi, struktur kepemilikan saham, hingga ketentuan free float saham-saham emiten asal Indonesia.

“Tapi mungkin biar jelas juga ya, nomor satu yang paling penting dari sisi keterbukaan, ini saya sebagai investor juga lah, sebagai market participant, yang paling mudah memang salah satunya adalah soal keterbukaan informasi, soal pemegang saham,” ujar Pandu saat ditemui di gedung BEI, Jakarta.

Baca juga: Bos Danantara Sebut Asing Berpeluang Jadi Pemegang Saham BEI Usai Demutualisasi

Isu lain yang diusul dan berpotensi dibahas adalah perlunya aturan cut loss provision atau ketentuan yang memberi ruang bagi investor institusional, terutama dana pensiun dan manajer investasi jangka panjang, untuk menjual saham pada batas kerugian tertentu sebagai bagian dari pengelolaan risiko.

Menurutnya, keberadaan cut loss provision dalam kerangka Undang-Undang P2SK menjadi faktor penting untuk membuka partisipasi investor institusional, khususnya dana pensiun.

“Dan untuk nantinya juga harus memudahkan untuk dapen-dapen untuk bisa masuk. Jadi seperti cut loss provision itu penting, nanti di undang-undang P2SK itu juga harus terjadi,” paparnya.

Masuknya dana pensiun akan memperkuat sisi permintaan di pasar, sehingga likuiditas meningkat dan valuasi saham cenderung membaik.

Dalam kondisi pasar yang lebih dalam dan seimbang, porsi saham yang beredar di publik juga dapat ditingkatkan.

Saham yang saat ini hanya berada di kisaran 10-12 persen berpeluang dinaikkan menjadi minimal 15 persen atau lebih.

Namun peningkatan tersebut hanya mungkin jika pasar memiliki basis pembeli yang cukup dan mekanisme jual beli berjalan sehat.

“Tentunya dengan sendirinya dapen-dapen masuk ya valuasi akan membaik, nantinya juga kita akan bisa menjual saham-saham tersebut yang nantinya sekarang mungkin ada 10 persen, 11 persen, 12 persen untuk menjadi minimum 15 persen ataupun lebih. Karena itu juga perlukan market buyer dan selling,” beber Pandu.

Kendati begitu, seluruh perbaikan yang sedang dibahas tidak bisa diselesaikan sekaligus, melainkan dijalankan bertahap sesuai urutan prioritas dan kesiapan eksekusi.

Pertemuan dengan MSCI merupakan kelanjutan dari pembahasan yang telah dilakukan BEI dan OJK pada Desember 2025 lalu.

Sehingga pertemuan kali ini difokuskan pada seluruh masukan yang disampaikan oleh penyedia indeks global tersebut.

Pendekatan Konstruktif

Pandu menyebut pendekatan yang diambil bersifat konstruktif, dengan tujuan memperbaiki kualitas pasar modal secara menyeluruh.

Posisi ini sejalan dengan target transformasi pasar modal yang diangkat OJK dan BEI.

Sikap konstruktif dinilai menjadi kunci dalam setiap pembahasan karena tujuan akhirnya adalah memperbaiki kualitas pasar modal secara keseluruhan.

Pasar modal tidak dipandang semata sebagai arena transaksi jangka pendek, melainkan sebagai cerminan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Melalui pasar yang sehat, transparan, dan kredibel, baik investor domestik maupun asing memiliki ruang untuk mengekspresikan keyakinannya dan menempatkan modal secara jangka panjang.

“Yang paling penting kita akan konstruktif karena pada akhirnya yang kita inginkan pasar modal yang lebih baik lagi lah. Dan ini penting karena pada akhirnya pasar modal ini salah satu cara untuk investor baik dalam negeri dan luar negeri untuk bisa mengekspresikan kepercayaan di dalam Indonesia dan bisa untuk berinvestasi secara jangka panjang,” lanjut Pandu.

Danantara Sebagai Investor

Pandu memastikan posisi Danantara dalam rapat negosiasi dengan MSCI hanya sebagai investor.

Posisi itu sejalan dengan rencana Danantara masuk dan menjadi peserta aktif di pasar modal.

Pandu menyebut aksi Danantara didorong oleh keyakinan terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai solid, serta valuasi saham yang masih berada pada level menarik.

Dari perspektif investor, kondisi tersebut menciptakan peluang investasi yang rasional dan berjangka panjang.

“Kami hanya pembeli saham, kami kan ikut membeli saham bagian dari ini karena kami merasa saham-saham di Indonesia itu menarik, karena ekonominya juga bagus dan saya merasa valuasi juga sangat menarik,” katanya.

Ia juga menyoroti kecepatan respons regulator dan bursa dalam menindaklanjuti isu yang berkembang.

Pandu merujuk pada sejumlah laporan broker yang mencatat bahwa langkah-langkah yang diambil otoritas pasar modal tergolong sangat cepat.

Baca juga: Ciri-ciri Saham Gorengan Menurut Bos Danantara

Tag:  #ikut #negosiasi #dengan #msci #danantara #buka #free #float #hingga #dana #pensiun

KOMENTAR