IHSG Anjlok, CIO Danantara Sebut Ada Rotasi ke Saham Fundamental
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,88 persen pada penutupan perdagangan Senin (2/2/2026). Meski koreksi berlangsung tajam, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menilai pergerakan pasar masih sejalan dengan logika fundamental.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan koreksi pasar terutama terjadi pada saham-saham yang sebelumnya dinilai kurang layak investasi karena valuasinya sudah terlalu tinggi.
Saham-saham inilah yang banyak dilepas oleh investor ritel sehingga mengalami penurunan lebih dalam dibanding saham lain.
Di lain sisi, pelemahan pasar modal juga terjadi pada hari pertama perdagangan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sementara rebalancing atau evaluasi saham-saham Indonesia dalam indeks, yang secara rutin mereka lakukan tiga bulan sekali mulai Februari.
Sejauh ini, ada 18 saham Indonesia yang masuk ke basis indeks MSCI untuk digunakan pelaku pasar global untuk acuan investasi.
Kebijakan tersebut berdampak negatif pada pasar saham nasional.
Sepanjang perdagangan Rabu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 7,35 persen ke level 8.320.
Pada pukul 13.45 WIB, pelemahan menyentuh 8 persen sehingga penghentian sementara (trading halt) dilakukan selama 30 menit.
Tekanan berlanjut pada Kamis (29/1/2026) ketika IHSG kembali ditutup melemah 1,06 persen atau 88,35 poin ke level 8.232,20.
Tak lama setelah pembukaan perdagangan, BEI kembali mengaktifkan trading halt setelah IHSG anjlok 835,20 poin atau setara 10,04 persen ke level 7.485,35.
Pada perdagangan Jumat (30/1/2026), IHSG akhirnya ditutup di level 8.329,60, meski sebelumnya sempat menyentuh level psikologis 7.400.
Secara akumulatif, IHSG terkoreksi 6,94 persen sepanjang pekan terakhir Januari.
Merespon kondisi itu, lanjut Pandu, koreksi pasar kali ini tidak bersifat merata.
Saham-saham yang sebelumnya masuk kategori berharga mahal atau uninvestable justru mengalami tekanan paling dalam, sementara saham-saham dengan fundamental kuat menunjukkan pergerakan yang lebih sehat.
Dari pengamatan transaksi harian, saham-saham dengan valuasi tinggi banyak dilepas oleh investor ritel.
Sebaliknya, saham-saham berfundamental solid justru mencatatkan aksi beli bersih, terutama oleh investor institusi.
“Jadi ini kan hari pertama trading setelah pengumuman yang terjadi akhir pekan ini. Menurut saya dari sisi trading ini memang agak menurun, tapi yang mungkin positif juga kita melihat net foreign buy, paruh pertama. Yang kedua memang banyak ritel, melihat nih banyak saham-saham yang kemarin saya bilang uninvestable atau saham-saham yang memang dengan valuasi yang sangat tinggi mengalami koreksi,” ujar Pandu saat ditemui di gedung BEI, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Dari daftar saham yang paling banyak dibeli dan dijual, Pandu menyebut saham-saham dengan fundamental kuat justru menjadi incaran pembeli, sementara saham yang sebelumnya diperdagangkan dengan valuasi terlalu tinggi mengalami tekanan dan koreksi.
“Jadi banyak sekali kalau melihat observasi awal dari sisi ritel, melihat saham-saham yang memiliki valuasi yang mungkin amat tinggi atau bahasanya uninvestable itu yang mengalami koreksi, mungkin akan mengalami koreksi alami,” paparnya.
“Sedangkan yang saham-saham yang memiliki fundamental baik, yang positif kebanyakan malah institusi yang membeli. Jadi ini juga mungkin salah satu yang perlu dilakukan dalam beberapa hari ke depan kita akan melihat tren ini,” beber Pandu.
Ia menilai kondisi ini sebagai koreksi alami yang mencerminkan proses penyesuaian pasar.
Ia menegaskan, pelemahan IHSG tidak serta-merta mencerminkan memburuknya prospek pasar modal Indonesia secara keseluruhan.
Lebih jauh, Pandu mengingatkan bahwa investor agar tidak terjebak pada fluktuasi jangka pendek.
Menurutnya, investasi saham seharusnya dilihat dalam horizon menengah hingga panjang, terutama pada saham-saham dengan fundamental kuat, arus kas sehat, dan likuiditas memadai.
“Jadi saya sih melihatnya sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. Kita harus lihat balik ke fundamental, ke valuasi, kita harus membeli juga melihat saham-saham. Ini bagus juga untuk pemikiran buat teman-teman, jangan hanya melihat jangka pendek,” ucapnya.
IHSG Ditutup Anjlok 4,88 Persen
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,88 persen ke level 7.922,73, turun 406,87 poin saat penutupan perdagangan Senin sore ini.
Sejak pembukaan di level 8.306,16, IHSG langsung bergerak melemah dan tidak mampu keluar dari zona merah hingga penutupan.
Tekanan jual terlihat dominan sepanjang sesi.
IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian di 8.313,06, sebelum terkoreksi lebih dalam dan mencapai posisi terendah di 7.820,23.
Aktivitas transaksi tetap tinggi di tengah koreksi tajam.
Volume perdagangan tercatat mencapai 49,69 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 28,36 triliun dan frekuensi hampir 2,95 juta kali.
Namun, breadth pasar menunjukkan kondisi yang sangat negatif, dengan 720 saham melemah, hanya 58 saham menguat, dan 36 saham stagnan.
Adapun kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut menjadi sekitar Rp 14.268,67 triliun.
Tag: #ihsg #anjlok #danantara #sebut #rotasi #saham #fundamental