Minta Maaf atas Demonstrasi Berdarah, Presiden Iran: Kami Malu di Hadapan Rakyat
- Presiden Iran, Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada semua pihak atas demonstrasi berdarah yang terjadi awal tahun ini.
Permintaan maaf itu disampaikannya selama pidato pada peringatan Revolusi Islam Iran tahun 1979, Rabu (11/2/2026).
Ia juga turut mengecam propaganda Barat yang tidak disebutkan secara spesifik seputar protes tersebut.
Baca juga: Tolak Desakan Netanyahu, Trump Tegaskan Pembicaraan dengan Iran Harus Lanjut
Pezeshkian memahami kesedihan mendalam yang dirasakan oleh orang-orang dalam protes dan penindakan tersebut, tanpa secara langsung mengakui peran pasukan keamanan Iran dalam pertumpahan darah tersebut.
"Kami malu di hadapan rakyat, dan kami berkewajiban untuk membantu semua pihak yang dirugikan dalam insiden ini,” kata Pezeshkian, dikutip dari Arab News, Rabu.
“Kami tidak mencari konfrontasi dengan rakyat,” sambungnya.
Baca juga: Iran Menolak, Netanyahu Desak AS Tegas soal Kesepakatan Rudal Teheran
Tak akan tunduk pada tuntutan AS
Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menegaskan tidak akan tunduk pada tuntutan berlebihan dari AS.
"Iran kami tidak akan menyerah menghadapi agresi, tetapi kami terus berdialog dengan sekuat tenaga dengan negara-negara tetangga untuk membangun perdamaian dan ketenangan di kawasan ini," katanya, dikutip dari AFP, Rabu.
Ia kembali menegaskan bahwa program atom tersebut sepenuhnya bersifat damai dan Iran siap untuk verifikasi apa pun.
Saat ini, Iran sedang dalam proses negosiasi dengan Amerika Serikat mengenai program nuklirnya.
Baca juga: Tekan Iran, AS Akan Kirim Kapal Induk Kedua ke Timur Tengah
Dalam peringatan ini, ribuan warga memadati alun-alun dan orang-orang di seluruh negeri mengibarkan bendera Iran.
Beberapa warga mengacungkan gambar Trump dengan slogan "kita akan mengecewakan musuh-musuh kita".
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, beberapa wanita yang berpartisipasi dalam demonstrasi tidak mengenakan jilbab.
Bahkan, televisi pemerintah menayangkan wawancara dengan beberapa di antaranya.
Baca juga: Jelang Pertemuan Netanyahu-Trump, Iran Pasang Spanduk Ancaman untuk Israel
Demonstrasi berdarah di Iran
Menurut kelompok yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), 7.002 orang, termasuk 6.506 demonstran tewas selama protes ketika pihak berwenang melancarkan penindakan keras bulan lalu.
Selain itu, setidaknya 52.941 orang telah ditangkap dalam operasi tersebut.
Mereka yang ditangkap baru-baru ini termasuk tokoh-tokoh dalam gerakan reformis di Iran yang mendukung kampanye pemilihan Pezeshkian pada 2024.
Pada Selasa (10/2/2026) malam, saat pihak berwenang menyalakan kembang api untuk menandai acara tersebut, orang-orang naik ke balkon di Teheran untuk meneriakkan slogan-slogan kebencian terhadap Ayatollah Ali Khamenei.
Hal ini tampak rekaman yang dibagikan oleh saluran pemantau protes yang banyak diikuti di Telegram dan X, termasuk Vahid Online dan Mamlekate.
AFP memverifikasi tiga video tersebut yang diunggah oleh Mamlekate.
HRANA menilai, Teriakan slogan-slogan pada Selasa malam menandai kelanjutan protes nasional, meskipun suasana keamanan yang berlaku dan langkah-langkah pengendalian yang meluas.
Tag: #minta #maaf #atas #demonstrasi #berdarah #presiden #iran #kami #malu #hadapan #rakyat