Harga Perak Tembus 85 Dollar AS, Pasar Diproyeksi Defisit
Ilustrasi perak batangan. Harga perak melonjak tajam di tengah proyeksi pasar yang masih defisit. Namun, permintaan industri diperkirakan melemah pada tahun depan.(sahabat.pegadaian.co.id)
11:08
12 Februari 2026

Harga Perak Tembus 85 Dollar AS, Pasar Diproyeksi Defisit

– Harga perak dunia melonjak pada perdagangan Rabu (11/2/2026) waktu setempat atau Kamis (12/2/2026) pagi dan melanjutkan periode volatilitas tinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Mengutip Bloomberg, harga perak sempat naik hingga 6,8 persen. Posisi tersebut membuat harga logam mulia ini sekitar sepertiga lebih tinggi dibandingkan level terendah pekan lalu.

Penguatan harga perak terjadi setelah Silver Institute merilis laporan terbaru yang memproyeksikan pasar masih akan mengalami defisit untuk tahun keenam secara berturut-turut.

Defisit diperkirakan terjadi karena lonjakan permintaan investasi lebih besar dibandingkan penurunan permintaan dari sektor lain.

Baca juga: Harga Emas di Pakistan Bergejolak, Pembeli Beralih ke Perak

Investasi Menguat, Permintaan Industri Melemah

Dalam laporannya, Silver Institute menyebut permintaan industri perak diperkirakan turun tipis pada 2026.

Meski instalasi panel surya fotovoltaik terus meningkat, lembaga itu menegaskan bahwa upaya efisiensi penggunaan yang terus berlangsung serta penggantian perak dengan bahan lain secara langsung akan menyebabkan turunnya permintaan perak di sektor fotovoltaik (PV).

Selain itu, permintaan perak untuk peralatan makan (silverware) diproyeksikan turun 17 persen akibat tingginya harga. Permintaan perhiasan juga diperkirakan melemah 9 persen.

Di sisi lain, arus dana investor justru meningkat tajam. Sepanjang setahun terakhir, harga perak bahkan sempat lebih dari dua kali lipat terdorong gelombang pembelian investor.

Baca juga: Harga Perak Naik 9,9 Persen ke 77,97 Dollar AS Usai Anjlok Tajam

Namun, reli harga logam mulia tersebut terhenti mendadak pada akhir Januari setelah terjadi penurunan harian terbesar dalam sejarah.

Sejak saat itu, harga memang mulai pulih. Meski demikian, volatilitas masih tinggi sehingga sebagian pelaku pasar menyebut perak menjadi sulit diperdagangkan.

BMO: Defisit Perlu Dilihat dari Konsumsi Riil

Pandangan berbeda disampaikan analis BMO Capital Markets. Mereka menilai lonjakan investasi memang dapat menggeser persediaan perak yang ada, tetapi kurang tepat jika kondisi tersebut langsung disebut sebagai “defisit” pasar.

Menurut BMO, ukuran yang lebih relevan adalah membandingkan pasokan dengan konsumsi riil untuk kebutuhan ornamen maupun industri, yakni permintaan yang benar-benar mengeluarkan bullion dari pasar.

BMO juga memperkirakan harga perak dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi lebih murah dibandingkan emas, seiring membaiknya ketersediaan fisik logam tersebut.

Baca juga: Mengapa Harga Emas dan Perak Tiba-Tiba Anjlok?

Permintaan Spekulatif dari China

Sementara itu, permintaan spekulatif terhadap perak dalam beberapa bulan terakhir banyak berasal dari China. Produsen dan pedagang domestik di negara tersebut dilaporkan kesulitan memenuhi tumpukan pesanan.

Kondisi ini mendorong kontrak bulan terdepan di Shanghai Futures Exchange diperdagangkan pada level premi tertinggi sepanjang masa.

Di pasar logam mulia lainnya, harga emas sempat memangkas kenaikan setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) pada Januari melampaui ekspektasi.

Data tersebut memperkuat perkiraan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga dalam waktu dekat.

Pelaku pasar kini sepenuhnya memperkirakan pemangkasan suku bunga pada Juli.

Sebelumnya, sebelum laporan tenaga kerja dirilis, pasar memperkirakan penurunan sudah terjadi pada Juni. Suku bunga yang stabil umumnya menjadi sentimen negatif bagi bullion yang tidak memberikan imbal hasil.

Tag:  #harga #perak #tembus #dollar #pasar #diproyeksi #defisit

KOMENTAR