Donor Ginjal di Indonesia Masih Minim, Dokter Ungkap Tantangannya
– Kemajuan layanan transplantasi ginjal di Indonesia dinilai terus berkembang, baik dari sisi teknik operasi maupun penggunaan obat imunosupresan yang makin efektif.
Namun, di balik kemajuan tersebut, ketersediaan donor ginjal masih menjadi tantangan utama.
Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, SpU(K), mengatakan bahwa jumlah donor ginjal di Indonesia masih sangat terbatas dan sebagian besar masih bergantung pada anggota keluarga pasien.
Baca juga: Syarat untuk Jadi Donor Ginjal Hidup di Indonesia, Ini Kriterianya
“Kalau transplant yang ingin banyak, tantangannya donornya yang kurang,” kata Prof. Rasyid saat ditemui setelah acara konferensi pers Keberhasilan Pencapaian 500 Transplantasi Ginjal Siloam Hospitals Asri di Jakarta Selatan, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, tanpa ketersediaan donor yang memadai, perkembangan layanan transplantasi akan sulit meningkat secara signifikan, meski kemampuan medis sudah makin baik.
Masih Bergantung pada Donor Keluarga
Di sisi lain, saat ini transplantasi ginjal di Indonesia umumnya dilakukan dengan donor hidup dari keluarga atau orang terdekat.
Ketergantungan pada lingkaran keluarga ini menjadi tantangan tersendiri karena tidak semua pasien memiliki anggota keluarga yang cocok secara medis maupun siap secara mental untuk mendonorkan ginjalnya.
Prof. Rasyid menilai, Indonesia memerlukan sistem nasional yang secara khusus mengatur pendaftaran donor ginjal, baik donor hidup maupun donor setelah meninggal dunia.
Baca juga: Pentingnya Obat Imunosupresan bagi Pasien Transplantasi Ginjal
“Harusnya ada organisasi donor seperti PMI (Palang Merah Indonesia). Semua orang kalau mau donorin, baik donor hidup atau setelah meninggal, daftar di situ,” jelasnya.
Dengan sistem registry donor ginjal yang terintegrasi, seseorang yang bersedia menjadi donor dapat tercatat secara resmi, misalnya melalui nomor induk kependudukan (NIK).
Ketika suatu saat terjadi kondisi tertentu, seperti kecelakaan atau dinyatakan mati batang otak, data tersebut dapat segera diakses untuk proses pencocokan dengan pasien yang membutuhkan ginjal.
Baca juga: Akses Obat Imunosupresan Jadi Tantangan Pasien Tranplantasi Ginjal
Melihat dari Negara Lain
Dokter Spesialis Urologi, Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K) saat ditemui setelah acara Keberhasilan Pencapaian 500 Transplantasi Ginjal Siloam Hospitals Asri di Jakarta Selatan, Sabtu (14/2/2026).
Prof. Rasyid mencontohkan Korea Selatan sebagai salah satu negara yang berhasil meningkatkan jumlah donor ginjal hidup secara signifikan.
“Tahun 2000 hanya satu orang donor hidup per sejuta penduduk. Dua puluh tahun kemudian hampir 10 orang per sejuta mau jadi donor hidup,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan tersebut terjadi karena edukasi publik yang konsisten bahwa menjadi donor ginjal hidup aman secara medis.
Persepsi masyarakat yang makin positif terhadap keamanan donor hidup dinilai menjadi kunci.
Di negara maju, kata dia, donor ginjal hidup dipahami sebagai tindakan yang diawasi ketat secara medis dan tidak serta-merta membahayakan kesehatan jangka panjang donor.
Baca juga: Penyakit Jantung Bisa Berdampak pada Kesehatan Ginjal, Ini Kata Dokter
Soal Kompensasi dan Perlindungan Donor
Selain edukasi, negara juga memiliki peran dalam memberikan perlindungan kepada donor ginjal hidup.
Menurut Prof. Rasyid, WHO memperbolehkan adanya penggantian biaya kepada donor, selama tidak mengarah pada praktik jual beli organ.
“WHO membolehkan ada penggantian kepada donor. Karena orang sehat disuruh datang ke rumah sakit, dioperasi, tidak bekerja sementara,” terang Prof. Rasyid.
Namun, kompensasi tersebut harus diatur secara hati-hati agar tidak menjadi celah komersialisasi.
“Nilainya tidak boleh terlalu tinggi supaya orang enggak pengin jual organ, tapi juga tidak boleh terlalu rendah sehingga dia dirugikan. Itu bagian negara yang ngatur,” jelasnya.
Baca juga: 5 Kebiasaan yang Dianggap Sehat tapi Bisa Merusak Ginjal Menurut Dokter
Teknologi Maju, Sistem Perlu Mengikuti
Sementara itu, dokter spesialis ginjal dan hipertensi Prof. Dr. dr. Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM, menambahkan bahwa kemajuan teknologi transplantasi ginjal kini memungkinkan keberhasilan operasi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada hubungan genetik.
Ia mencontohkan adanya kasus transplantasi ginjal antara individu yang tidak memiliki hubungan keluarga, dengan hasil klinis yang baik.
“Karena memang kemajuan teknologi obat dan teknik operasi sudah sedemikian majunya, sehingga masalah genetik itu sudah mulai enggak terlalu penting,” tuturnya dalam kesempatan yang sama.
Meski demikian, tanpa sistem donor ginjal nasional yang terorganisasi dan edukasi publik yang berkelanjutan, pengembangan transplantasi ginjal di Indonesia dinilai akan terus menghadapi keterbatasan.
Menurut keduanya, pembentukan registry donor ginjal nasional menjadi langkah penting agar lebih banyak pasien gagal ginjal memiliki peluang mendapatkan transplantasi secara tepat waktu dan aman.
Baca juga: Pria 98 Tahun Diyakini Jadi Donor Organ Tertua di AS
Tag: #donor #ginjal #indonesia #masih #minim #dokter #ungkap #tantangannya