The Washington Post Goyah di Tangan Jeff Bezos, Lima Koran Regional AS Justru Menemukan Jalan Bertahan
Halaman depan The Washington Post menampilkan pengumuman akuisisi surat kabar oleh Jeff Bezos dari keluarga Graham (The Conversation)
15:57
17 Februari 2026

The Washington Post Goyah di Tangan Jeff Bezos, Lima Koran Regional AS Justru Menemukan Jalan Bertahan

Restrukturisasi besar-besaran yang dilakukan pendiri Amazon, Jeff Bezos di tubuh The Washington Post menjadi penanda fase baru krisis media arus utama Amerika Serikat (AS). Pada 4 Februari 2026, sedikitnya 300 dari sekitar 800 jurnalis dipangkas, memangkas liputan internasional, lokal, dan olahraga, serta menghapus departemen foto dan rubrik ulasan buku yang berdiri sendiri.

Langkah itu mengikuti keputusan strategis yang memicu kontroversi, termasuk pembatalan dukungan terhadap kandidat presiden Partai Demokrat Kamala Harris menjelang Pemilu 2024 serta penetapan bahwa halaman editorial akan difokuskan pada "kebebasan individu dan pasar bebas." Kebijakan tersebut dilaporkan membuat ratusan ribu pelanggan menghentikan langganan digital.

Dilansir dari The Conversation, Selasa (17/2/2026), apa yang terjadi di Post "sebenarnya tidak harus terjadi." Media itu sempat bertumbuh dan mencetak laba ketika mengusung slogan "Democracy Dies in Darkness", yang berarti demokrasi akan mati ketika kekuasaan tidak diawasi dan publik kehilangan akses terhadap informasi yang transparan. 

Namun, dalam analisis tersebut disebutkan bahwa momentum itu hilang ketika strategi bisnis tidak berkembang secepat pesaing, sementara Bezos dinilai lebih mengutamakan stabilitas politik dibanding memperkuat kembali peran jurnalisme pengawasan yang dulu menjadi fondasi pertumbuhan media tersebut.

Dalam konteks itulah, kontras mulai terlihat. Di tengah kemunduran yang dialami Post, lima surat kabar metropolitan regional di Amerika Serikat justru menunjukkan pendekatan berbeda dengan membangun model bisnis yang relatif lebih stabil dan berorientasi pada pelayanan publik di tengah tekanan industri yang terus berlanjut.

The Boston Globe dan The Minnesota Star Tribune

Kedua media ini memperluas jangkauan geografis liputan. Globe merambah Rhode Island dan New Hampshire, sekaligus mematok harga langganan digital premium hingga 36 dolar AS per bulan atau sekitar Rp 606.240 dengan kurs Rp 16.840 per dolar AS. Meski sirkulasi digital berbayar stagnan di kisaran 260.000 pelanggan, angka tersebut tetap kuat untuk kelas regional.

The Seattle Times

Dimiliki keluarga Blethen sejak 1896, The Seattle Times memperkuat independensi setelah membeli kembali 49,5 persen saham dari Chatham Asset Management pada 2024. Model ini mempertahankan kepemilikan keluarga sekaligus memanfaatkan unit nirlaba terpisah untuk mendukung proyek jurnalisme tertentu, pendekatan yang pertama kali dipelopori The Seattle Times sebelum diikuti media lain.

The Philadelphia Inquirer

Sejak 2016, setelah disumbangkan kepada Lenfest Institute, The Philadelphia Inquirer beroperasi sebagai perusahaan manfaat publik yang didukung yayasan nirlaba. Penerbit Elizabeth Hughes menulis bahwa model tersebut membuka kemungkinan replikasi di kota lain, termasuk untuk menghidupkan kembali media yang terancam tutup. Skema ini memberi ruang redaksi fokus pada pelayanan publik tanpa tekanan laba maksimal.

The Salt Lake Tribune

Pada 2019, di bawah kepemilikan Paul Huntsman, The Salt Lake Tribune menjadi surat kabar metropolitan pertama yang sepenuhnya berstatus nirlaba. Editor eksekutif Lauren Gustus menyatakan ruang redaksi justru berekspansi. Dalam pernyataannya, dia menegaskan bahwa pendekatan tanpa sistem pembatasan akses berbayar "memberi kesempatan bagi lebih banyak warga untuk mengakses informasi publik," dengan pendanaan melalui kontribusi sukarela, menyerupai model radio publik.

Selain itu, laporan State of Local News dari Medill School, Northwestern University, mencatat bahwa lebih dari 3.500 surat kabar di Amerika Serikat tutup dalam dua dekade terakhir. Dalam lanskap industri yang demikian tertekan, perombakan besar-besaran di The Washington Post menempatkan Jeff Bezos sebagai simbol kemunduran media yang sebelumnya sempat dibangun dan dikembangkan di bawah kepemilikannya.

Meski demikian, pengalaman lima koran regional itu menunjukkan bahwa keberlanjutan masih mungkin dicapai melalui inovasi model bisnis, kedekatan dengan komunitas, dan konsistensi pada fungsi pengawasan publik. Di tengah tekanan ekonomi dan politik, arah masa depan media tidak semata ditentukan besarnya modal, melainkan strategi dan komitmen terhadap kepentingan publik.

Editor: Candra Mega Sari

Tag:  #washington #post #goyah #tangan #jeff #bezos #lima #koran #regional #justru #menemukan #jalan #bertahan

KOMENTAR