Perminas Teken MoU, Hubungkan Hulu Tanah Jarang Gabon-Indonesia 
CEO Danantara, Rosa Roeslani dalam penandatanganan kesepakatan kerja sama PT Perminas dengan New Energy Metalas Holdings Ltd (NEM) pada Senin (16/2/2026).(Dokumentasi Danantara)
17:12
17 Februari 2026

Perminas Teken MoU, Hubungkan Hulu Tanah Jarang Gabon-Indonesia 

- PT Perusahaan Mineral Nasional atau Perminas (Persero) meneken memorandum of understanding (MoU) dengan New Energy Metals Holdings Ltd (NEM) pada Senin (16/2/2026).

CEO Danantara, Rosan Roeslani mengatakan, MoU itu menyangkut kerja sama strategis sumber daya tambang Maboumine niobium di Gabon, Afrika Tengah dengan hilirisasi logam tanah jarang, rare earth elements (REE) di Indonesia.

Rosan mengatakan, kerja sama ini merupakan wujud komitmen bersama memperkuat hilirisasi dan pembangunan rantai pasok unsur tanah jarang.

Baca juga: Roadmap Logam Tanah Jarang, Kunci Daya Saing RI?

Produksi global logam tanah jarang melonjak tajam pada 2024, mencapai 390.000 ton metrik. Ini daftar 10 negara penghasil logam tanah jarang terbesar Produksi global logam tanah jarang melonjak tajam pada 2024, mencapai 390.000 ton metrik. Ini daftar 10 negara penghasil logam tanah jarang terbesar

Kerja sama mencakup pengembangan sumber daya pengolahan dan pabrik canggih.

Rosan mengatakan, Danantara yang membawahi perusahaan negara berperan penting memastikan kerja sama itu sesuai dengan agenda hilirisasi, penguatan rantai pasok pertambangan, dan pabrik modern melalui investasi bersama Perminas.

Ia menekankan, pertumbuhan industri Indonesia sudah masuk fase pada pengolahan bahan baku menjadi produk berdaya saing global.

“Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral penting yang strategis dan berorientasi masa depan,” kata Rosan dalam keterangan resminya, Selasa (17/2/2026).

Baca juga: Danantara: Perminas Akan Fokus Kembangkan Mineral Tanah Jarang

Fase baru industri mineral kritis

Sementara itu, Kepala Badan Industri Mineral, Brian Yuliarto mengatakan, MoU ini menjadi fase baru masuknya Indonesia dalam industri mineral kritis termasuk unsur tanah jarang.

Menurutnya, kerja sama dengan NEM Ltd mencerminkan industri Indonesia yang terus berkembang dan kepercayaan dunia mitra internasional terhadap potensi mineral Tanah Air.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani ditemui usai rapat tertutup dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Rabu (4/2/2026). KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani ditemui usai rapat tertutup dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

“Melalui kemitraan ini, Indonesia bertujuan untuk memajukan pembangunan industri domestik sekaligus memperkuat partisipasinya di pasar mineral kritis global,” ujar Brian.

Dalam keterangan yang sama, Direktur Utama PT Perminas, Gilarsi Wahyu Setijono menyatakan pihaknya berkomitmen memajukan hilirisasi mineral kritis Indonesia.

Baca juga: Eksplorasi, Kunci Indonesia Masuk Rantai Pasok Logam Tanah Jarang

MoU itu membuka jalan bagi Indonesia untuk menghubungkan sektor hulu dengan pengolahan di tingkat hilir sehingga menciptakan nilai ekonomi lebih.

“Perminas berkomitmen untuk memajukan tujuan strategis Indonesia di bidang mineral kritis dan industrialisasi hilir,” tutur Wahyu.

Kepentingan kerja sama global

Sementara itu, Presiden NEM Ltd, Abduljabbar Alsayegh mengatakan, pihaknya senang bisa menjalin kerja sama dengan Perminas.

Menurutnya, MoU ini bisa memperkuat rantai pasok logam tanah jarang di tingkat global.

Baca juga: AS dan Malaysia Sepakati Kerja Sama Penjualan Logam Tanah Jarang

“Agenda yang semakin penting bagi transisi energi global, kepemimpinan teknologi, dan keamanan pasokan,” tuturnya.

Sebagai informasi, logam tanah jarang merupakan bahan baku penting dalam produksi magnet super kuat, layar elektronik, baterai kendaraan listrik, hingga komponen rudal.

Rantai pasok logam tanah jarang global didominasi China yang mensuplai lebih dari 60 persen bahan baku.

Di sisi lain, lebih dari 90 persen proses pemurnian juga dilakukan di China.

Baca juga: China Tunda Aturan Ekspor Logam Tanah Jarang dan Lanjutkan Impor Kedelai AS

“Permintaan logam tanah jarang diperkirakan tumbuh 50 sampai 60 persen pada 2040 dan akan melampaui pasokan,” ujar Edi Permadi, Tenaga Profesional Lemhannas RI, dikutip Senin (13/10/2025) lalu.

Tag:  #perminas #teken #hubungkan #hulu #tanah #jarang #gabon #indonesia

KOMENTAR