Survei Deloitte: Sukses Karier bagi Gen Z dan Milenial Bukan Naik Jabatan
Ilustrasi karier, karier bagi pegawai milenial dan Gen Z. (FREEPIK/TIRACHARDZ)
16:48
17 Februari 2026

Survei Deloitte: Sukses Karier bagi Gen Z dan Milenial Bukan Naik Jabatan

Kesuksesan karier tidak lagi dimaknai secara tunggal sebagai pencapaian jabatan tinggi atau posisi kepemimpinan.

Bagi generasi milenial dan Gen Z, kesuksesan kini semakin terkait dengan keseimbangan antara keamanan finansial, makna pekerjaan, dan kesejahteraan hidup.

Perubahan cara pandang ini tercermin dalam Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan 23.482 responden dari 44 negara.

Baca juga: Ramalan Shio 2026 Tahun Kuda Api: Peluang Hoki Karier hingga Keuangan

Ilustrasi gen Z dan milenialFREEPIK Ilustrasi gen Z dan milenial

Survei tersebut menunjukkan, generasi milenial (lahir 1983–1994) dan Gen Z (lahir 1995–2006), yang diproyeksikan akan mencakup 74 persen tenaga kerja global pada 2030, membawa nilai, harapan, dan definisi kesuksesan yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Laporan tersebut menyebutkan, generasi ini tetap ambisius, tetapi ambisi mereka tidak selalu identik dengan mengejar jabatan puncak.

Sebaliknya, mereka mencari kombinasi antara pertumbuhan profesional, stabilitas finansial, dan kesejahteraan pribadi.

Kesuksesan karier tak lagi identik dengan naik jabatan

Selama beberapa dekade, kesuksesan karier sering diukur dari seberapa cepat seseorang naik tangga korporasi. Namun, survei Deloitte menunjukkan bahwa pandangan ini mulai berubah.

Baca juga: Feng Shui 2026: Sektor Rumah yang Dikaitkan dengan Peluang Keuangan dan Karier

Hanya 6 persen Gen Z yang menyebut posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama mereka. Meski demikian, hal ini tidak berarti mereka kurang ambisius.

Sebaliknya, mereka sangat fokus pada pembelajaran, pengembangan keterampilan, dan pertumbuhan profesional.

Ilustrasi Gen Zfreepik.com Ilustrasi Gen Z

Seorang responden milenial perempuan dalam survei tersebut menjelaskan perubahan perspektif ini.

“Dulu, bagi saya, pertumbuhan karier berarti menaiki tangga karier yang semakin tinggi. Bukan hanya untuk gelar, tetapi juga prestise dan gaji yang lebih tinggi," kata dia.

Baca juga: Kata CEO Nvidia Jensen Huang, AI Bisa Jadi Mentor Karier Anda

"Saya rasa sekarang, pertumbuhan karier berarti memastikan bahwa saya selalu belajar dan selalu memiliki lebih banyak peluang dalam karier saya, tetapi juga memastikan bahwa saya tetap bersemangat dengan pekerjaan yang saya lakukan," imbuhnya.

Pernyataan ini menggambarkan pergeseran dari orientasi pada jabatan menuju orientasi pada pembelajaran berkelanjutan dan kepuasan kerja.

Data Deloitte menunjukkan, 70 persen Gen Z mengembangkan keterampilan untuk memajukan karier mereka setidaknya sekali dalam seminggu, dibandingkan 59 persen milenial yang melakukan hal serupa.

Banyak di antara mereka bahkan meluangkan waktu untuk belajar di luar jam kerja atau pada hari libur.

Baca juga: Tips Karier untuk Gen Z dari Barack Obama, Jadilah Karyawan Seperti Ini

Hal ini menunjukkan, kesuksesan karier bagi generasi ini lebih terkait dengan pertumbuhan kompetensi daripada sekadar promosi jabatan.

Kesuksesan dibentuk oleh tiga pilar: uang, makna, dan kesejahteraan

Survei Deloitte menemukan bahwa kebahagiaan kerja bagi milenial dan Gen Z bertumpu pada tiga faktor utama, yakni uang (money), makna (meaning), dan kesejahteraan (well-being).

Ketiga faktor ini saling berkaitan erat dan membentuk fondasi kebahagiaan di tempat kerja. Tanpa keamanan finansial, responden cenderung memiliki tingkat kesejahteraan mental yang lebih rendah dan merasa pekerjaan mereka kurang bermakna.

Sebaliknya, responden yang puas dengan penghasilan dan tunjangan mereka lebih cenderung merasa pekerjaan mereka memberikan kontribusi bermakna bagi masyarakat.

Ilustrasi sukses. Freepik Ilustrasi sukses.

Baca juga: Kisah Para Politisi yang Memulai Karier dari Nol

Data survei menunjukkan, tujuan karier utama Gen Z adalah mencapai kemandirian finansial (22 persen), diikuti oleh menjaga keseimbangan kerja dan kehidupan (17 persen), serta stabilitas pekerjaan (14 persen).

Sementara itu, milenial memiliki prioritas yang relatif serupa, dengan fokus pada kemandirian finansial (20 persen), keseimbangan hidup (20 persen), dan stabilitas kerja (14 persen).

Stabilitas finansial tetap menjadi fondasi kesuksesan

Meski makna dan kesejahteraan menjadi faktor penting, stabilitas finansial tetap memainkan peran fundamental dalam definisi kesuksesan karier.

Survei menunjukkan, 48 persen Gen Z dan 46 persen milenial tidak merasa aman secara finansial. Selain itu, 52 persen responden dari kedua generasi mengatakan mereka hidup dari gaji ke gaji (paycheck to paycheck).

Baca juga: Tips Karier Mantan Wapres AS Kamala Harris: Tak Terima Jawaban Tidak

Keamanan finansial memiliki korelasi kuat dengan kebahagiaan. Sebanyak 60 persen Gen Z yang merasa aman secara finansial mengatakan mereka bahagia, dibandingkan hanya 28 persen di antara mereka yang merasa tidak aman secara finansial.

Pada milenial, angka ini masing-masing sebesar 68 persen dan 31 persen.

Selain itu, biaya hidup menjadi kekhawatiran terbesar bagi generasi ini selama empat tahun berturut-turut.

Lebih dari delapan dari 10 responden juga mengatakan, kondisi keuangan jangka panjang dan keuangan sehari-hari berkontribusi terhadap tingkat stres mereka.

Baca juga: Tips Karier dari Bill Gates untuk Gen Z di Tengah Gempuran AI

Makna pekerjaan menjadi bagian penting kesuksesan

Selain uang, makna pekerjaan menjadi faktor penting dalam menentukan kesuksesan karier bagi milenial dan Gen Z.

Ilustrasi sukses.SHUTTERSTOCK Ilustrasi sukses.

Sebanyak 89 persen Gen Z dan 92 persen milenial mengatakan bahwa memiliki tujuan atau makna dalam pekerjaan penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.

Makna pekerjaan juga memengaruhi keputusan karier. Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial pernah meninggalkan pekerjaan karena merasa pekerjaan tersebut tidak memiliki tujuan atau makna.

Selain itu, sekitar 40 persen responden dari kedua generasi juga pernah menolak pekerjaan karena tidak sesuai dengan nilai atau keyakinan pribadi mereka.

Baca juga: Bias Gender dan Beban Ganda Hambat Karier Perempuan di Sektor Finansial

Kesuksesan juga terkait keseimbangan hidup

Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi faktor penting lainnya dalam definisi kesuksesan karier.

Survei menunjukkan, kesejahteraan mental memiliki hubungan kuat dengan kebahagiaan.

Sebanyak 62 persen Gen Z dan 67 persen milenial yang memiliki kesejahteraan mental baik mengatakan mereka bahagia, dibandingkan hanya 19 persen Gen Z dan 20 persen milenial dengan kesejahteraan mental buruk.

Namun, tekanan kerja dan stres tetap menjadi tantangan. Sebanyak 40 persen Gen Z dan 34 persen milenial mengatakan mereka merasa stres atau cemas hampir sepanjang waktu, dan sekitar sepertiga responden menyebut pekerjaan sebagai sumber utama stres.

Baca juga: Sikap Negatif di Kantor, Red Flag yang Harus Dihindari untuk Karier Cemerlang

Faktor seperti jam kerja panjang, kurangnya pengakuan, dan lingkungan kerja yang tidak sehat menjadi penyebab utama tekanan tersebut.

Kesuksesan juga diukur dari peluang berkembang

Selain gaji dan keseimbangan hidup, peluang untuk berkembang menjadi bagian penting dari definisi kesuksesan karier.

Sebanyak 86 persen Gen Z dan 85 persen milenial mengatakan keterampilan soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, empati, dan networking sangat penting untuk kemajuan karier.

Ilustrasi karierhobo_018/ Getty Images/iStockphoto Ilustrasi karier

Selain itu, 89 persen responden dari kedua generasi mengatakan bahwa pembelajaran langsung di tempat kerja dan pengalaman praktis sangat membantu perkembangan karier mereka.

Fleksibilitas dan mobilitas karier menjadi strategi

Survei juga menemukan, mobilitas karier menjadi bagian dari strategi mencapai kesuksesan.

Baca juga: Gen Z dan Pilihan Karier: Di Antara Passion, Uang, dan Harapan Orangtua

Sebanyak 31 persen Gen Z berencana untuk berganti pekerjaan dalam dua tahun ke depan, sementara 17 persen milenial memiliki rencana serupa.

Pergantian pekerjaan ini tidak semata-mata didorong oleh kurangnya loyalitas, tetapi sebagai cara untuk mencari stabilitas, keseimbangan hidup, makna, dan peluang pengembangan keterampilan.

Alasan utama perubahan karier mencakup kondisi pasar kerja, keseimbangan hidup yang lebih baik, kompensasi yang lebih tinggi, fleksibilitas jam kerja, dan peluang pertumbuhan karier.

Pendidikan tidak lagi satu-satunya jalan menuju kesuksesan

Pandangan tentang pendidikan juga berubah sebagai bagian dari definisi kesuksesan karier.

Baca juga: Kiamat Pekerjaan Kelas Menengah: 5 Karier Ini Akan Diambil Alih AI pada 2030

Sekitar 31 persen Gen Z dan 32 persen milenial memilih tidak melanjutkan pendidikan tinggi. Salah satu alasan utama adalah biaya pendidikan yang tinggi, yang disebut oleh sekitar 40 persen responden sebagai kekhawatiran utama.

Sebagian responden juga meragukan apakah pendidikan formal memberikan pengalaman praktis yang cukup untuk mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja.

Sebaliknya, banyak yang memilih jalur alternatif seperti pelatihan vokasi, magang, atau pembelajaran mandiri untuk memperoleh keterampilan yang relevan.

Tag:  #survei #deloitte #sukses #karier #bagi #milenial #bukan #naik #jabatan

KOMENTAR