AS Siapkan Serangan Berminggu-minggu ke Iran, Tinggal Tunggu Perintah
- Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan sedang menyiapkan skenario operasi militer selama berminggu-minggu terhadap Iran, sebagai langkah antisipasi apabila Presiden AS Donald Trump memerintahkan penyerangan.
Reuters pada Minggu (15/2/2026) melaporkan, dua pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa rencana tersebut memiliki risiko sangat tinggi di tengah diplomasi Washington dan Teheran yang masih berlangsung.
Perencanaan kali ini disebut jauh lebih kompleks dibandingkan operasi “Midnight Hammer” pada Juni tahun lalu, ketika bomber siluman AS melancarkan satu kali serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
Baca juga: Cara Rumit AS Serang Iran: Kasih Umpan Palsu, Bomber B-2 Kejutkan dengan 14 Rudal
Serangan tersebut saat itu dibalas secara terbatas oleh Teheran dengan menyasar pangkalan AS di Qatar.
Dalam skenario terbaru, pejabat AS menyebut sasaran militer tidak hanya terbatas pada infrastruktur nuklir, tetapi juga fasilitas negara dan keamanan Iran.
Langkah itu dinilai berisiko besar karena Iran memiliki gudang rudal yang tangguh, berpotensi memicu serangan balasan yang dapat menyeret kawasan ke perang lebih luas.
"AS sepenuhnya memperkirakan Iran akan membalas, yang akan menyebabkan serangan balasan dari waktu ke waktu," ujar salah satu pejabat tersebut.
Garda Revolusi Iran sebelumnya memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap wilayah mereka akan dibalas dengan serangan ke pangkalan militer AS di kawasan.
Pangkalan militer AS saat ini tersebar di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Turkiye.
Baca juga: Daftar Pangkalan Militer AS di Timteng, Bisa Jadi Target Iran jika Diserang
Utusan khusus Amerika Serikat untuk perang Rusia-Ukraina, Steve Witkoff (kanan), dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner (kiri), bersama utusan perekonomian Kremlin Kirill Dmitriev (belakang), menjelang pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskwa, 2 Desember 2025.Di tengah ketegangan tersebut, jalur diplomasi masih dibuka meski dalam situasi rapuh.
Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan menggelar negosiasi dengan Iran di Jenewa, Swiss, pada Selasa (17/2/2026) dengan bantuan mediator dari Oman.
Harapan tercapainya hasil positif dalam perundingan itu dibayangi peringatan dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Pada Sabtu (14/2/2026), Rubio menegaskan bahwa meskipun Trump lebih memilih kesepakatan damai dengan Teheran, hal itu tetap sangat sulit untuk dilakukan.
Sementara itu, Trump terus memperkuat kehadiran militer AS di Timur Tengah.
Kementerian Pertahanan AS pada Jumat (13/2/2026) mengonfirmasi pengerahan kapal induk tambahan ke kawasan tersebut, lengkap dengan ribuan tentara, jet tempur, serta kapal perusak rudal pemandu yang siap untuk operasi serangan maupun pertahanan.
Seusai menghadiri acara militer di Fort Bragg, North Carolina, Trump secara terbuka menyinggung kemungkinan perubahan pemerintahan di Iran.
"Tampaknya itu (perubahan rezim) akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi," kata Trump.
Trump tidak menyebutkan siapa yang diinginkannya untuk memimpin Iran, tetapi menyatakan bahwa sosok tersebut sudah ada.
Ia juga mengungkapkan frustrasinya terhadap proses diplomasi yang telah berlangsung lama dengan Teheran.
"Selama 47 tahun, mereka terus berbicara, berbicara, dan berbicara," ucap Trump.
Baca juga: Lokasi Pasti USS Abraham Lincoln Terungkap, Berjarak 700 Km dari Iran
Semua opsi masih terbuka
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara kepada awak media di pesawat kepresidenan Air Force One, dalam tujuan ke Palm Beach, Florida, 31 Januari 2026.Meski demikian, Trump menunjukkan sikap skeptis terhadap opsi pengiriman pasukan darat, sehingga kemungkinan serangan akan bertumpu pada kekuatan udara dan laut.
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan bahwa seluruh opsi tetap terbuka.
"Presiden Trump memiliki semua opsi di atas meja terkait Iran. Beliau mendengarkan berbagai perspektif tentang masalah apa pun, tetapi keputusan akhir diambil berdasarkan apa yang terbaik bagi negara dan keamanan nasional kita," tegas Kelly.
Di sisi lain, tokoh oposisi Iran Reza Pahlavi justru mendorong Washington agar tidak terlalu lama bernegosiasi.
Putra mendiang Shah Iran itu menilai serangan militer AS dapat mempercepat runtuhnya pemerintahan di Teheran.
"Kami berharap serangan ini akan mempercepat proses tersebut sehingga rakyat akhirnya bisa kembali ke jalanan dan membawanya hingga kejatuhan rezim yang terakhir," ujar Pahlavi dalam wawancara dengan Reuters.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang bertemu Trump di Washington pada Rabu (11/2/2026) menekankan, kesepakatan apa pun dengan Iran harus menguntungkan keamanan Israel.
"Jika kesepakatan dengan Iran tercapai, itu harus mencakup elemen-elemen yang vital bagi Israel," kata Netanyahu.
Hingga kini, Iran menyatakan siap membahas pembatasan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi, tetapi tetap menolak merundingkan program rudal mereka.
Baca juga: 7 Skenario yang Terjadi Jika AS Benar-benar Serang Iran
Sumber: Kompas.com/Danur Lambang Pristiandaru
Tag: #siapkan #serangan #berminggu #minggu #iran #tinggal #tunggu #perintah