Per Tahun Puluhan Ribu Bayi Lahir dengan PJB, Skrining Penting Dilakukan Sejak Dini
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin. (IST)
14:48
18 Februari 2026

Per Tahun Puluhan Ribu Bayi Lahir dengan PJB, Skrining Penting Dilakukan Sejak Dini

 

Penyakit Jantung Bawaan (PJB) masih menjadi salah satu kondisi kesehatan yang perlu dideteksi sejak dini. Dikatakan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, setiap tahun puluhan ribu bayi di Indonesia lahir dengan PJB. Banyak di antaranya berada dalam kondisi berat (severe).

Untuk itu diperlukan adanya deteksi dini atau skrining untuk mengetahui PJB. Diungkapkan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, pemerintah telah memberikan perhatian serius terhadap isu PJB. Misalnya, per 2025 telah dilaksanakan pelaksanaan skrining terhadap hampir 1,7 juta bayi.

Hasilnya menunjukkan banyak sekali yang belum tertangani dengan baik. “Ke depan, kita harus lebih agresif lagi dalam upaya penyelamatan nyawa mereka, termasuk dengan memperkuat kapasitas layanan serta menambah jumlah spesialis jantung anak dan bedah jantung anak sehingga bisa melakukan intervensi non bedah dan intervensi bedah jantung anak lebih banyak lagi,” ungkap Menkes Budi pada Malam Puncak CHD Awareness Week di RS Harapan Kita.

Sejalan dengan upaya pemerintah, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) melalui Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan menyelenggarakan program edukasi PJB bagi masyarakat awam serta skrining PJB gratis bagi anak usia di bawah 18 tahun.

Program ini dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia selama periode 24 Januari 2026 hingga 14 Februari 2026. Selain bertujuan menjaring kasus PJB pada anak usia di bawah 18 tahun dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai PJB, kegiatan deteksi dini ini juga diharapkan dapat menghasilkan gambaran prevalensi PJB nasional serta menjadi langkah awal pengumpulan data registri PJB nasional.

Data yang dihasilkan dari program skrining ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai permasalahan PJB di Indonesia dan menjadi salah satu acuan penting dalam perumusan program nasional untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.

Program skrining PJB berskala nasional ini juga mencatatkan prestasi dengan meraih rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori ‘Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan (PJB) secara Serentak kepada Anak Terbanyak’.

Sementara itu, dr. Ade Median Ambari SpJP(K), PhD, FIHA, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), menjelaskan penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian anak di dunia maupun di Indonesia.

Data Asia Tenggara menunjukkan prevalensi PJB sebesar 9-10 per seribu kelahiran hidup. Setiap 100 bayi lahir, ada 1 yang menderita PJB. Data yang ada menunjukkan sekurangnya 45 ribu bayi per tahun dengan PJB. Data Murni, dkk (2021) menyebutkan adanya keterlambatan deteksi Penyakit Jantung Bawaan di Indonesia sebesar 60,8 persen.

Namun sayangnya, dikatakan, dr. Oktavia Lilyasari, M. Kes, SpJP(K), FIHA, Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, saat ini belum ada data nasional tentang angka prevalensi PJB di Indonesia. Sehingga, program skrining PJB tidak hanya berupaya menjaring kasus PJB lebih dini, mengkoordinasikan tindak lanjut rujukan pada anak-anak yang ditemukan PJB, tetapi juga mengumpulkan data awal registri PJB nasional.

Dari hasil skrining tersebut, ditemukan 53 kasus penyakit jantung bawaan (PJB) dengan prevalensi sebesar 2,14 persen. Angka ini tercatat lebih tinggi dibandingkan prevalensi PJB di tingkat global maupun di kawasan Asia Tenggara.

“Terdapat kecenderungan kasus PJB lebih banyak ditemukan di daerah dengan populasi anak-anak dengan berat badan rendah, stunting, anak-anak dengan faktor risiko, dan anak dengan kebutuhan khusus,” ujar dr. Oktavia.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah

Tag:  #tahun #puluhan #ribu #bayi #lahir #dengan #skrining #penting #dilakukan #sejak #dini

KOMENTAR