Foto Jenazah Lula Lahfah Tersebar, Psikiater Ingatkan Kematian Bukan Konten Digital
Kematian selebgram Lula Lahfah tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga memicu gelombang kritik publik setelah foto jenazahnya tersebar luas di media sosial, hingga muncul seruan “Death is Not Content” sebagai pengingat etika digital.
Seruan tersebut ramai dibagikan warganet sebagai respons atas maraknya unggahan visual sensitif yang dinilai melampaui batas kepantasan, terutama ketika menyangkut kematian seseorang yang belum lama terjadi.
Dari perspektif psikologi, fenomena ini menunjukkan adanya benturan antara dorongan emosional pengguna media sosial dan kemampuan empati yang belum sepenuhnya matang di ruang digital.
Reaksi emosional tinggi membuat orang lupa batas etika
Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa penyebaran konten kematian kerap dipicu oleh respons emosional yang spontan, bukan semata niat buruk.
“Ketika seseorang melihat peristiwa yang mengejutkan, otak bisa masuk ke mode urgensi, merasa informasi itu penting dan harus segera disampaikan,” ujar Lahargo kepada Kompas.com, Minggu (25/1/2026).
Dalam kondisi emosi tinggi seperti kaget, takut, atau ngeri, kemampuan berpikir etis bisa menurun, sehingga refleks berbagi sering kali lebih cepat dibandingkan pertimbangan dampaknya.
Antara rasa ingin tahu dan konsumsi tragedi
Reza Arap dan ayah Lula Lahfah, Feroz di TPU Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur, Sabtu (24/1/2026). Psikiater menilai dorongan menyebarkan foto jenazah Lula Lahfah lebih sering dipicu emosi, rasa ingin tahu, dan kurangnya literasi empati digital.
Menurut Lahargo, manusia secara alami memiliki ketertarikan pada hal-hal ekstrem, termasuk tragedi dan kematian, yang dalam psikologi dikenal sebagai morbid interest.
Masalah muncul ketika rasa ingin tahu tersebut berubah menjadi konsumsi massal, lalu didistribusikan ulang tanpa mempertimbangkan nilai kemanusiaan di balik peristiwa itu.
“Di media sosial, batas antara berita dan penderitaan manusia sering kali menjadi kabur,” kata Lahargo.
Ia menambahkan, paparan berulang terhadap konten kekerasan dan kematian juga dapat menyebabkan desensitisasi emosional, yakni kondisi ketika empati perlahan menumpul karena terlalu sering terpapar hal serupa.
Rasionalisasi moral yang menenangkan rasa bersalah
Banyak orang, lanjut Lahargo, membenarkan tindakannya dengan alasan edukasi atau kesadaran publik, seperti menyebut konten tersebut sebagai “pelajaran” atau “fakta yang perlu diketahui”.
Padahal, menurutnya, edukasi tidak memerlukan visual jenazah, dan pembenaran semacam itu merupakan bentuk moral disengagement, yakni cara otak meredam rasa bersalah atas tindakan yang sebenarnya bermasalah.
“Ini bukan soal niatnya jahat atau tidak, tapi soal dampak yang bisa sangat melukai keluarga korban dan orang-orang yang rentan secara psikologis,” ujarnya.
“Death is not content” sebagai alarm empati digital
Seruan “Death Is Not Content” dinilai Lahargo sebagai refleksi kesadaran kolektif bahwa ruang digital membutuhkan empati yang dilatih, bukan diasumsikan muncul dengan sendirinya.
Banyak pengguna media sosial, kata dia, belum memahami bahwa foto atau video sensitif bisa memicu trauma, memperparah duka keluarga, dan menimbulkan efek psikologis lanjutan pada publik.
“Di era digital, empati juga butuh literasi,” tegas Lahargo.
Ia menekankan bahwa tidak semua orang yang menyebarkan konten duka ingin mencari sensasi, tetapi setiap orang tetap memiliki tanggung jawab atas dampak dari apa yang dibagikannya.
“Niat boleh biasa, tapi dampaknya bisa luar biasa,” kata Lahargo.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah kecepatan arus informasi, nilai kemanusiaan tetap perlu menjadi penuntun utama dalam bermedia sosial, terutama ketika menyangkut kematian seseorang.
Tag: #foto #jenazah #lula #lahfah #tersebar #psikiater #ingatkan #kematian #bukan #konten #digital