Benarkah Bantal Ketinggian Jadi Penyebab Saraf Terjepit? Simak Kata Dokter
Banyak orang menganggap menggunakan bantal yang bertumpuk atau terlalu tinggi saat tidur akan memberikan kenyamanan ekstra.
Namun, di balik rasa empuk tersebut, terselip risiko kesehatan yang sering kali diabaikan.
Alih-alih bangun dengan tubuh segar, salah memilih bantal justru bisa memicu nyeri leher berkepanjangan yang berujung pada kondisi saraf terjepit.
"Sebenarnya, penggunaan bantal yang terlalu tinggi tidak dianjurkan. Saat tidur, bantal yang terlalu tinggi dapat membuat leher tertekuk sehingga menimbulkan tekanan berlebih pada saraf," ujar Dokter Spesialis Orthopedi dan Traumatologi dari RS Fatmawati, Dr. dr. Didik Librianto, Sp.OT, Subsp. O.T.B (K), dikutip dari siaran langsung radio kesehatan Kemenkes, Kamis (15/1/2026).
"Karena itu, sebaiknya gunakan satu bantal dengan tinggi yang tidak berlebihan, kecuali pada kondisi tertentu yang memang mengharuskan seseorang tidur dengan bantal lebih tinggi," imbuhnya.
Kondisi saraf terjepit di leher, atau secara medis dikenal sebagai cervical nerve entrapment, bukanlah masalah sepele.
Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan medis serius yang berdampak pada tulang belakang dan menghambat aktivitas sehari-hari.
Dr. Didik menjelaskan bahwa posisi leher saat tidur memegang peranan krusial dalam kesehatan saraf tulang belakang.
Menurutnya, penggunaan bantal yang tidak tepat merupakan salah satu faktor risiko eksternal yang paling umum.
Mengapa Bantal Tinggi Berbahaya?
Secara anatomi, tulang belakang leher memiliki lengkungan alami yang harus dijaga, bahkan saat kita sedang tertidur.
Dr. Didik menekankan bahwa bantal yang terlalu tinggi memaksa leher berada dalam posisi yang tidak alami dalam waktu yang lama.
Saat leher dalam posisi menekuk (fleksi) selama berjam-jam, tekanan pada cakram atau bantalan tulang belakang (disk) akan meningkat.
Jika tekanan ini terjadi terus-menerus, bantalan tersebut bisa menonjol dan menjepit saraf di sekitarnya.
Inilah yang menyebabkan penderita sering kali merasakan keluhan yang lebih berat justru saat bangun tidur.
Mengenali Gejala yang Muncul
Saraf terjepit di leher sering kali diawali dengan gejala yang ringan sehingga banyak orang yang menganggapnya hanya sebagai "salah bantal" biasa.
Dr. Didik menyebutkan bahwa rasa tidak enak di kepala, nyeri di leher, hingga pundak adalah indikasi awal.
"Pasien sering merasa ingin menggerak-gerakkan lehernya seperti melakukan stretching karena merasa tidak nyaman. Gejala ini bisa berlanjut menjadi nyeri yang menjalar ke tangan, rasa semutan yang tidak hilang, hingga kelemahan otot," jelasnya.
Pada kasus yang lebih parah, jepitan saraf di leher bahkan bisa berdampak hingga ke anggota gerak bawah.
Dr. Didik mengingatkan bahwa penekanan saraf di leher dapat mengganggu hantaran saraf ke bawah yang menyebabkan jalan menjadi sulit, lemas, hingga kaki terasa limbung.
Tips Memilih Bantal dan Posisi Tidur
Untuk menghindari risiko ini, dr. Didik menyarankan masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih perlengkapan tidur.
Prinsip utamanya adalah menjaga posisi tulang belakang tetap tegak (upright) dan sejajar, baik saat duduk maupun berbaring.
"Sebaiknya bantal itu satu saja dan tidak tinggi. Tujuannya agar posisi leher tetap tegak dan tidak tertekuk. Posisi tidur yang salah hanya akan memperberat keluhan yang sudah ada," tambahnya.
Selain faktor bantal, dr. Didik juga menyoroti pentingnya pola hidup bersih dan sehat dalam menjaga kekuatan tulang belakang.
Menjaga berat badan ideal agar tidak overweight dan rutin berolahraga sangat membantu mengurangi peluang terkena saraf terjepit.
Namun, ia mengingatkan agar olahraga dilakukan dengan teknik yang benar untuk menghindari cedera leher.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika Anda merasakan nyeri leher yang tidak kunjung membaik dalam satu atau dua hari setelah beristirahat atau menggunakan pengobatan sederhana seperti koyo dan balsam, dr. Didik menyarankan untuk segera mencari bantuan profesional.
"Jangan sampai menjadi lebih berat. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, dan jika keluhan sudah berlangsung lama atau di atas 2-3 minggu, pemeriksaan lebih lanjut seperti MRI mungkin diperlukan untuk melihat stadium penjepitannya," kata dr. Didik.
Penanganan saraf terjepit tidak selalu berakhir di meja operasi.
Banyak kasus yang bisa diselesaikan dengan fisioterapi, pemberian obat anti-inflamasi, hingga terapi suportif seperti akupunktur yang efektif untuk manajemen nyeri.
Namun, deteksi dini tetap menjadi kunci utama agar kualitas hidup pasien tetap terjaga tanpa harus mengalami komplikasi permanen seperti kelumpuhan.
Tag: #benarkah #bantal #ketinggian #jadi #penyebab #saraf #terjepit #simak #kata #dokter