Kilang Balongan, Penopang Sunyi Pasokan BBM Jakarta dan Sekitarnya
– Di balik lancarnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Jakarta dan wilayah sekitarnya, terdapat peran penting Kilang Pertamina Refinery Unit (RU) VI Balongan di Indramayu, Jawa Barat.
Fasilitas yang dikelola PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) ini menjadi salah satu simpul utama dalam menjaga keberlanjutan distribusi energi di wilayah dengan tingkat konsumsi tertinggi di Indonesia.
Kilang Balongan menyuplai BBM untuk Jakarta, Banten, dan Jawa Barat melalui rantai pasok yang terintegrasi.
Prosesnya dimulai dari penerimaan minyak mentah (crude oil) hingga pendistribusian produk jadi ke terminal dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Seluruh tahapan tersebut berlangsung dalam satu kawasan, menjadikan Balongan sebagai tulang punggung sektor hilir energi nasional.
Engineer Offsite PT KPI Refinery Unit VI Balongan, Nanda Tri Wibowo, mengatakan peran strategis kilang ini terlihat dari kemampuannya mengelola rantai pasok secara menyeluruh, mulai dari laut hingga darat.
"Untuk yang Balongan sendiri, itu mensuplay sebagian besar di daerah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat," kata Nanda dalam site visit di Kilang Pertamina RU VI Balongan, Indramayu, Kamis (29/1/2026).
Baca juga: Kilang Balongan Pertamina Perkuat Keselamatan dengan Teknologi dan Filosofi Jawa
Kilang Balongan, dari Minyak Mentah ke BBM Siap Pakai
Kilang Balongan Pertamina kini dilengkapi empat tangki baru berkapasitas 29 ribu m3.Kilang RU VI Balongan mulai beroperasi pada 1994 dengan kapasitas pengolahan mencapai 150 ribu barrel per hari. Dari sisi kompleksitas, kilang ini mencatatkan Nelson Complexity Index (NCI) sebesar 11,9, tertinggi di antara seluruh kilang Pertamina.
Tingginya indeks tersebut mencerminkan kemampuan kilang dalam mengolah crude oil menjadi produk bernilai tambah tinggi dengan efisiensi yang lebih baik.
Kontribusi Balongan mencapai sekitar 14,2 persen dari total kapasitas kilang Pertamina. Minyak mentah yang diolah berasal dari produksi domestik sekitar 60 persen dan impor sekitar 35 persen.
Dari proses pengolahan tersebut, sekitar 82 persen produk yang dihasilkan berupa BBM, sementara sisanya merupakan produk non-fuel dan produk lainnya.
Produk BBM dari Balongan didominasi oleh gasoline dengan porsi sekitar 53 persen. Jenisnya meliputi Pertalite, Pertamax, dan Pertamax Turbo. Selain itu, kilang ini juga menghasilkan solar series, avtur, LPG, serta propilena yang digunakan untuk kebutuhan industri.
“Untuk yang Balongan sendiri, itu mensuplay sebagian besar di daerah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat,” lanjut Nanda.
Baca juga: Kilang Pertamina Tambah 4 Tangki Baru di Balongan
Proses pengolahan dimulai saat crude oil diterima melalui kapal di fasilitas Single Point Mooring (SPM) atau dermaga. Minyak mentah kemudian disimpan di tangki sebelum masuk ke unit-unit pengolahan, seperti Crude Distillation Unit (CDU), Residual Catalytic Cracking (RCC), hingga kompleks nafta.
Setelah melalui unit proses utama, produk hasil pengolahan tidak langsung didistribusikan. Seluruh produk terlebih dahulu menjalani proses pencampuran atau blending untuk memastikan spesifikasi kualitasnya sesuai dengan ketentuan pemerintah.
Tahap ini menjadi krusial dalam menjaga mutu BBM sebelum digunakan oleh masyarakat.
Distribusi BBM dari Balongan sebagian besar ditujukan untuk wilayah Ibu Kota dan Jawa Barat. Produk dialirkan melalui jaringan pipa menuju Integrated Terminal Balongan, lalu diteruskan ke berbagai daerah, seperti Depok, Cikampek, Plumpang, dan Bandung.
Selain jalur darat, sebagian produk juga dikirim melalui jalur laut ke wilayah luar Jawa, menyesuaikan kebutuhan dan jadwal pengapalan.
“Untuk menghasilkan BBM siap distribusi, termasuk tahapan blending dan analisis mutu, dibutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari," lanjut Nanda.
Baca juga: KPI Balongan Gagas Taman Kehati, Program Tanam Pohon untuk Reduksi Karbon
Distribusi ke Jakarta dan Wilayah Sekitar
Salah satu kilang minyak adalah Kilang Balongan.Nanda menegaskan, seluruh proses produksi di Kilang Balongan berada dalam pengawasan kualitas yang ketat.
Mulai dari penerimaan crude oil, pengolahan, hingga distribusi, setiap tahap diawasi untuk memastikan BBM yang sampai ke konsumen memenuhi standar yang ditetapkan.
Menurut dia, untuk menghasilkan BBM yang siap didistribusikan, termasuk melalui tahapan blending dan analisis mutu, dibutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari.
Proses tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan pasokan energi di tengah tingginya konsumsi domestik.
Dengan peran tersebut, Kilang RU VI Balongan tidak hanya menjadi pusat produksi BBM, tetapi juga penyangga ketahanan energi nasional.
Keberadaan kilang terintegrasi ini memastikan pasokan energi tetap terjaga dari hulu hingga ke SPBU, khususnya di wilayah dengan kebutuhan energi terbesar di Indonesia.
Tag: #kilang #balongan #penopang #sunyi #pasokan #jakarta #sekitarnya