Terapi Penunda Pubertas pada Anak, Aman atau Berisiko Menurut Dokter?
Terapi penunda pubertas adalah salah satu langkah medis yang sering dipertimbangkan ketika anak mengalami pubertas dini, namun banyak orangtua yang masih ragu mengenai keamanannya.
Profesor Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus ahli endokrinologi anak, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.), menjelaskan bahwa terapi ini dapat membantu mengontrol proses pubertas dini yang terjadi terlalu cepat, tetapi harus dilakukan dengan pengawasan medis yang ketat.
Apa itu terapi penunda pubertas?
Terapi penunda pubertas dilakukan dengan memberikan obat yang bertujuan untuk menunda kematangan seksual anak, sehingga proses pubertas tidak terjadi terlalu dini.
“Terapi ini menggunakan hormon untuk menunda pubertas dan memberikan waktu lebih banyak bagi anak untuk berkembang secara fisik dan mental,” ujarnya saat diwawancarai Kompas.com pada Selasa (6/1/2026).
Obat yang biasa digunakan dalam terapi penunda pubertas adalah agonis GnRH (Gonadotropin-Releasing Hormone), yang berfungsi untuk menghambat produksi hormon seks.
Apakah terapi penunda pubertas aman?
Ilustrasi tes MMPI. Terapi penunda pubertas dapat menjadi solusi untuk pubertas dini, namun penting untuk mengetahui manfaat, risiko, dan pemantauan medis yang diperlukan
Prof. Aman Pulungan menjelaskan bahwa terapi penunda pubertas yang dilakukan secara ilmiah dan sesuai pedoman medis sangat aman bagi anak.
“Semua terapi hormonal atau penunda hormonal yang direkomendasikan secara saintifik ini aman, asalkan dilakukan dengan benar,” katanya.
Namun, ia juga menekankan pentingnya pemantauan secara rutin selama terapi untuk memastikan tidak ada efek samping yang muncul.
Potensi efek samping yang perlu diketahui
Meskipun terapi ini dianggap aman, Prof. Aman Pulungan mengingatkan bahwa ada potensi efek samping yang perlu diwaspadai, meskipun efek tersebut jarang terjadi.
“Efek samping yang paling umum adalah penurunan kepadatan tulang atau osteoporosis, meskipun ini bisa diatasi dengan suplemen kalsium dan vitamin D,” jelasnya.
Selain itu, terapi penunda pubertas juga dapat mempengaruhi emosi anak, karena proses pubertas yang tertunda bisa memengaruhi perasaan dan perkembangan psikologis mereka.
Kapan terapi penunda pubertas diperlukan?
Prof. Aman Pulungan menjelaskan bahwa terapi penunda pubertas diperlukan apabila pubertas dini sudah mengarah pada masalah kesehatan atau psikologis yang signifikan.
“Jika pubertas dini mengganggu perkembangan anak atau menyebabkan dampak fisik seperti pertumbuhan tinggi badan yang terhambat, terapi ini bisa menjadi pilihan,” katanya.
Terapi ini juga dapat membantu anak mendapatkan waktu lebih lama untuk mencapai kedewasaan fisik dan mental sebelum mengalami perubahan besar seperti menstruasi atau suara yang dalam.
Menurut Prof. Aman Pulungan, keputusan untuk memberikan terapi penunda pubertas harus dilakukan oleh dokter spesialis endokrinologi anak berdasarkan hasil pemeriksaan medis yang komprehensif.
“Dokter akan mengevaluasi kondisi anak, termasuk usia, tingkat perkembangan pubertas, dan dampaknya terhadap kesehatan secara keseluruhan,” ujarnya.
Proses evaluasi yang teliti membantu memastikan terapi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan medis anak.
Prof. Aman mengingatkan bahwa orangtua perlu memahami dengan baik mengenai terapi penunda pubertas sebelum mengambil keputusan.
“Penting bagi orangtua untuk memahami manfaat dan risiko terapi ini, serta mengikuti semua anjuran medis untuk memastikan terapi dilakukan dengan aman,” katanya.
Dengan pemahaman yang tepat, orangtua dapat bekerja sama dengan dokter untuk memilih langkah terbaik bagi kesehatan dan perkembangan anak mereka.
Tag: #terapi #penunda #pubertas #pada #anak #aman #atau #berisiko #menurut #dokter