Ibunda Raisa Meninggal Dunia karena Kanker Paru, Pakar Ingatkan Pentingnya Skrining Dini
Ibunda Raisa, Ria Mariaty diunggah Raisa di Instagram story-nya. (Tangkapan layar Instagram Raisa).(DOK. Tangkapan layar Instagram story Raisa)
12:06
29 November 2025

Ibunda Raisa Meninggal Dunia karena Kanker Paru, Pakar Ingatkan Pentingnya Skrining Dini

- Kabar duka datang dari keluarga penyanyi Raisa Andriana. Sang ibunda, Ria Mariaty, wafat pada Sabtu (29/11/2025) pagi di Rumah Sakit Dharmais pada usia 65 tahun.

Diketahui, ibunda Raisa sempat berjuang melawan kanker paru. Melalui unggahan di Instagram Story, Raisa menyampaikan kabar yang duka tersebut.

“Dengan penuh duka cita, kami keluarga besar menyampaikan bahwa Ibu/Almarhumah Ria Mariaty binti Rachmat Ardiwinangoen telah berpulang ke Rahmatullah,” tulis Raisa, dilansir dari unggahan tersebut, Sabtu (29/11/2025).

Kepergian ibunda Raisa membuka kembali percakapan publik mengenai kanker paru, salah satu penyakit mematikan yang sering terdiagnosis pada tahap lanjut.

Padahal, para ahli menekankan pentingnya skrining dini sebagai langkah pencegahan dan deteksi awal.

Ancaman kanker paru dan minimnya kesadaran skrining

Menurut American College of Surgeons (ACS), kanker paru menjadi penyebab sekitar 1 dari 4 kematian akibat kanker di Amerika Serikat, menjadikannya jenis kanker paling mematikan.

Namun, para ahli menyebut kini ada era harapan baru berkat kemajuan skrining, pembedahan, dan terapi yang semakin personal.

Salah satu terobosan penting adalah penggunaan CT scan dosis rendah untuk skrining kanker paru. Langkah ini terbukti dapat menggeser diagnosis ke stadium awal sehingga peluang keberhasilan pengobatan meningkat signifikan.

National Cancer Institute mencatat bahwa skrining dapat menurunkan angka kematian hingga 20 persen.

Meski demikian, pemanfaatannya masih sangat rendah. Pada 2022, hanya 16 persen dari orang-orang yang memenuhi syarat yang menjalani skrining.

“Skrining kanker paru adalah alat paling ampuh untuk mengurangi kematian akibat kanker paru sepanjang hidup saya,” ujar Daniel J. Boffa, MD, MBA, FACS, Wakil Ketua Komisi Kanker ACS dan Kepala Divisi Bedah Toraks di Fakultas Kedokteran Yale, dilansir dari situs resmi American College of Surgeons (ACS).

Ia menambahkan, CT scan hanya membutuhkan beberapa menit, tetapi dapat menemukan kanker pada stadium awal ketika pengobatan lebih mudah serta peluang kesembuhan lebih besar.

Siapa yang disarankan melakukan skrining?

Pedoman kesehatan internasional merekomendasikan skrining tahunan bagi orang dewasa usia 50 tahun ke atas yang saat ini merokok atau pernah memiliki riwayat merokok signifikan.

Namun, Boffa menegaskan bahwa kanker paru tidak hanya menyerang perokok dan usia lanjut.

“Penting untuk mengetahui risiko dan gejala kanker paru-paru. Waspadai batuk yang terus-menerus, disertai nyeri dada, atau batuk berdarah,” terang Boffa.

Ia juga menjelaskan, sekitar 20 persen kasus kanker paru terjadi pada orang yang tidak pernah merokok.

Faktor risikonya mencakup paparan radon, asbestos, asap masakan, asap kebakaran hutan, serta riwayat keluarga non-perokok yang menderita kanker paru.

Mengapa seseorang bisa mengalami kanker paru?

Ahli dari UCLA Health, Dr. Amy Cummings menjelaskan, kanker paru umumnya muncul akibat ketidakstabilan genom, yaitu kondisi ketika sel-sel membelah dengan kesalahan yang kemudian berkembang menjadi kanker.

“Secara historis, kanker paru dikaitkan dengan merokok, meskipun paparan zat seperti radon, asbestos, debu silika, asap diesel, dan logam berat dapat menimbulkan kerusakan yang sama,” ujar Cummings.

Dokter yang berfokus pada penelitian imunoonkologi dan kanker paru stadium awal ini juga menambahkan, ada faktor-faktor biologis yang belum sepenuhnya dipahami.

“Kita tahu tidak semua perokok terkena kanker paru, dan kasus kanker paru pada non-perokok, terutama mereka yang tanpa riwayat paparan risiko, terus meningkat,” jelasnya.

Sementara itu, ahli bedah toraks UCLA, Dr. Sha’Shonda Revels menekankan pentingnya pemerataan akses skrining dan edukasi, terutama di komunitas yang lebih rentan.

Ia menyoroti bahwa kesadaran skrining masih rendah di kelompok tertentu meski risiko penyakit sama besarnya.

Pentingnya deteksi dini dan edukasi publik

Kasus kanker paru sering kali baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut. Pada tahap ini, pasien memiliki gejala berat, dan pilihan pengobatan menjadi semakin terbatas.

Skrining dini memungkinkan kanker ditemukan ketika ukurannya masih kecil dan belum menyebar.

Hal ini membuka peluang besar untuk operasi, terapi personalisasi, dan tingkat kesembuhan yang lebih tinggi.

Para ahli juga menggarisbawahi pentingnya memperhatikan gejala awal, utamanya pada individu dengan faktor risiko.

Masyarakat dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga medis jika mengalami batuk kronis, sakit dada, penurunan berat badan tanpa sebab, atau sesak napas berkepanjangan.

Kabar duka meninggalnya ibunda Raisa menjadi pengingat betapa seriusnya kanker paru dan pentingnya deteksi dini.

Dengan teknologi skrining yang semakin akurat dan cepat, masyarakat diharapkan lebih sadar bahwa pemeriksaan rutin dapat menyelamatkan nyawa.

Tag:  #ibunda #raisa #meninggal #dunia #karena #kanker #paru #pakar #ingatkan #pentingnya #skrining #dini

KOMENTAR