Bukan Sekadar Data, Timing Berita Jadi 'Senjata Rahasia' Trader Cuan di Pasar Modal
Sejumlah finalis Putri Indonesia 2026 melihat grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Treasury BTN, Jakarta, Senin (2/2/2026). [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj]
18:10
20 Februari 2026

Bukan Sekadar Data, Timing Berita Jadi 'Senjata Rahasia' Trader Cuan di Pasar Modal

Baca 10 detik
  • Informasi tanpa kecepatan eksekusi hanya menjadi data basi bagi trader.
  • Sentimen investor lebih dominan menggerakkan pasar dibanding angka statistik mentah.
  • Investor pro lebih percaya riset broker dibanding opini finfluencer.

Di tengah dinamisnya pasar keuangan global, informasi mentah kini tak lagi menjadi jaminan keuntungan. Bagi para pelaku pasar, kekuatan sesungguhnya bukan lagi terletak pada apa yang mereka ketahui, melainkan seberapa cepat mereka bereaksi terhadap momentum tersebut.

Broker global independen, Kar Yong Ang, Elev8 Analyst mengungkapkan bahwa memantau pergerakan berita (news monitoring) telah berevolusi menjadi "kekuatan super" bagi seorang trader. Mengandalkan ringkasan keputusan bank sentral sehari setelah kejadian mungkin cukup bagi investor jangka menengah, namun bagi day trader, itu adalah resep menuju kegagalan karena momentum telah menguap.

"Tanpa informasi yang tepat waktu, strategi paling matang sekalipun bisa kandas. Trader tanpa informasi berita ibarat anak kucing buta yang menavigasi jalan raya yang ramai; mereka terpapar risiko yang sebenarnya bisa diantisipasi," tulis analisis Kar Yong Ang, dikutip Jumat (20/2/2026).

Elev8 menyoroti tiga alasan fundamental mengapa berita menjadi navigasi utama di pasar:

1. Volatilitas Mengikuti Narasi

Pasar seringkali tidak merespons data secara mentah, melainkan bagaimana data tersebut diinterpretasikan. Sebagai contoh, rilis data inflasi (CPI) bisa saja diabaikan pasar jika isu geopolitik sedang mendominasi obrolan investor. Sebaliknya, jika inflasi jadi fokus utama, pergeseran angka sekecil apa pun bisa memicu stop loss massal.

2. Fenomena 'Buy the Rumor, Sell the News'

Pasar keuangan bersifat prospektif atau melihat ke depan. Harga aset seringkali sudah naik jauh sebelum pengumuman resmi (seperti laporan keuangan atau bunga acuan) karena spekulasi. Begitu berita resmi keluar, harga justru berbalik turun karena trader melakukan aksi ambil untung (profit taking).

3. Mewaspadai Risiko 'Grey Swan'

Kesadaran akan berita membantu trader mengidentifikasi risiko yang sudah terlihat namun belum terwujud (grey swan). Contoh nyatanya adalah fenomena "melawan The Fed" pada 2013-2015, di mana banyak trader gagal saat melakukan short selling karena mereka mengabaikan narasi pelonggaran kebijakan bank sentral yang sangat kuat.

Menariknya, riset dari Yayasan FINRA menunjukkan bahwa 26% investor—terutama pemula dengan pengalaman di bawah dua tahun—masih sangat bergantung pada influencer media sosial (finfluencer) dalam mengambil keputusan.

Namun, investor berpengalaman cenderung menghindari opini subjektif tersebut. Mereka lebih mempercayai data dan alat analisis yang disediakan oleh perusahaan broker resmi.

"Broker seperti Elev8 menjembatani celah ini dengan menyediakan data real-time dan interpretasi ahli. Ini membantu trader memahami dampak peristiwa ekonomi secara objektif, bukan sekadar mengikuti tren media sosial yang berisiko tinggi," tutup laporan tersebut.

Editor: Mohammad Fadil Djailani

Tag:  #bukan #sekadar #data #timing #berita #jadi #senjata #rahasia #trader #cuan #pasar #modal

KOMENTAR