Kulit Tropis Lebih Rentan Flek? Ini Penjelasan Dokter soal Hiperpigmentasi dan Cara Menanganinya
Ilustrasi perawatan kulit wajah. (Istimewa)
14:15
20 Februari 2026

Kulit Tropis Lebih Rentan Flek? Ini Penjelasan Dokter soal Hiperpigmentasi dan Cara Menanganinya

–Tinggal di negara tropis seperti Indonesia membuat masyarakat akrab dengan paparan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Di balik manfaatnya, radiasi ultraviolet (UV) yang tinggi ibarat pisau bermata dua, bisa juga menjadi salah satu pemicu utama hiperpigmentasi, kondisi ketika kulit memproduksi melanin berlebih sehingga muncul bercak gelap atau warna kulit tidak merata.

Sejumlah kajian dermatologi menunjukkan bahwa karakteristik kulit Asia yang cenderung memiliki kandungan melanin lebih tinggi membuat respons terhadap inflamasi dan panas lebih kuat. Akibatnya, flek hitam, bekas jerawat, hingga melasma lebih mudah muncul dan sering kali sulit hilang sepenuhnya.

Buat yang belum tahu, hiperpigmentasi bukan hanya persoalan kosmetik. Kondisi ini bisa dipicu berbagai faktor, mulai dari paparan sinar UV, perubahan hormonal, proses penuaan, hingga peradangan akibat jerawat atau luka.

Pada sebagian orang, kondisi tersebut berdampak pada rasa percaya diri, terutama ketika bercak muncul di area wajah. Menurut dr. Lanny Juniarti dari Miracle Aesthetic Clinic, setiap jenis hiperpigmentasi memerlukan pendekatan berbeda.

”Melasma, bekas jerawat, dan warna kulit tidak merata memiliki mekanisme yang berbeda. Karena itu, terapi tidak bisa disamakan,” ujar Lanny Juniarti melalui keterangannya.

Secara medis, hiperpigmentasi umumnya terbagi dalam beberapa kategori. Yakni post-inflammatory hyperpigmentation (PIH) berupa bercak gelap akibat peradangan, seperti bekas jerawat atau luka.

Lalu ada melasma, istilah pigmentasi yang dipengaruhi faktor hormonal dan sering memburuk akibat paparan panas dan lentigo atau freckles atau bintik kehitaman akibat akumulasi paparan sinar matahari jangka panjang.

Untungnya, dalam praktik dermatologi modern, penanganan hiperpigmentasi kini mengandalkan kombinasi terapi berbasis peeling kimia, teknologi laser, hingga radio frequency (RF).

Laser picosecond, misalnya, digunakan untuk memecah pigmen dengan energi cepat dan presisi tinggi. Sementara laser dengan panjang gelombang tertentu dapat menargetkan kemerahan akibat pembuluh darah yang rusak pasca inflamasi.

Pada kasus melasma, pendekatan berbasis gelombang radio dan microneedling dinilai lebih minim panas dibanding laser konvensional. Sehingga mengurangi risiko penggelapan ulang.

Selain tindakan berbasis energi, terapi topikal berbahan aktif seperti tranexamic acid, niacinamide, dan kojic acid juga kerap digunakan untuk membantu menstabilkan produksi melanin. Dr. Lanny menekankan bahwa evaluasi kondisi kulit menjadi tahap penting sebelum menentukan terapi.

”Tujuannya bukan hanya mencerahkan, tetapi memperbaiki kualitas kulit secara menyeluruh, tekstur, hidrasi, hingga elastisitasnya,” jelas Lanny Juniarti.

Dia mengingatkan bahwa hasil terapi hiperpigmentasi sangat bergantung pada perawatan lanjutan di rumah dan disiplin proteksi matahari. Penggunaan sunscreen dengan SPF memadai tetap menjadi langkah utama untuk mencegah pigmentasi kambuh.

Tanpa perlindungan yang konsisten, paparan UV dapat kembali mengaktifkan sel melanosit dan memicu bercak baru, bahkan setelah perawatan intensif. Selain itu, masyarakat diimbau berhati-hati menggunakan produk pencerah tanpa pengawasan medis.

Penggunaan bahan yang tidak terstandar justru dapat memicu iritasi dan memperparah kondisi kulit. Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan kulit mendorong sejumlah klinik estetika menghadirkan program edukasi tentang pigmentasi dan perawatan yang aman.

Namun para ahli menegaskan, konsultasi dengan tenaga medis tetap menjadi langkah pertama sebelum memutuskan terapi apa pun. Di negara tropis seperti Indonesia, menjaga kulit bukan hanya soal estetika, melainkan juga strategi jangka panjang untuk melindungi kesehatan kulit dari paparan lingkungan yang ekstrem.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah

Tag:  #kulit #tropis #lebih #rentan #flek #penjelasan #dokter #soal #hiperpigmentasi #cara #menanganinya

KOMENTAR