Gula Darah Tak Stabil, Penderita Diabetes Kapan Harus Berhenti Puasa?
Ilustrasi diabetes. Dokter menjelaskan bahwa penderita diabetes perlu menghentikan puasa jika gula darah tidak terkontrol dan berisiko membahayakan kesehatan.(Freepik/xb100)
14:06
20 Februari 2026

Gula Darah Tak Stabil, Penderita Diabetes Kapan Harus Berhenti Puasa?

Ramadhan sudah dimulai, tetapi penderita diabetes tetap perlu memastikan kondisi kesehatannya aman sebelum melanjutkan puasa.

Dokter spesialis penyakit dalam RS Raja Ampat, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD(K), mengatakan bahwa mayoritas penderita diabetes sebenarnya bisa berpuasa, selama gula darahnya terkontrol dengan baik. Hal tersebut ia sampaikan saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (10/2/2026).

Menurut Andi, meskipun Ramadhan sudah berjalan, pasien tetap dapat melakukan evaluasi kondisi gula darahnya.

Gula darah puasa sebaiknya tidak lebih dari 150. Gula darah dua jam setelah makan diharapkan tidak lebih dari 200. HbA1c juga perlu berada dalam rentang terkendali atau mendekati normal.

Jika selama beberapa hari puasa gula darah tidak stabil, pasien sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

“Kalau gula darahnya di atas 250, biasanya kita wanti-wanti untuk tunda dulu puasanya,” ujar dr. Andi.

Baca juga: Penderita Diabetes Tetap Boleh Makan Takjil, Asal Jangan Bablas

Konsultasi tetap penting di tengah Ramadhan

Ramadhan bukan berarti konsultasi medis dihentikan.

Pasien yang merasa gula darahnya sulit dikontrol, sering lemas, atau mengalami keluhan lain perlu segera memeriksakan diri.

Dokter akan mengevaluasi apakah puasa masih aman dilanjutkan atau perlu dihentikan sementara.

Penyesuaian obat juga bisa dilakukan jika diperlukan. Keputusan tersebut harus berdasarkan kondisi medis, bukan hanya keinginan pribadi.

Baca juga: Menu Sahur untuk Penderita Diabetes, Jangan Salah Pilih Karbohidrat

Kapan sebaiknya tidak melanjutkan puasa?

Ilustrasi pusing. Dokter menjelaskan bahwa penderita diabetes perlu menghentikan puasa jika gula darah tidak terkontrol dan berisiko membahayakan kesehatan.iStockPhoto/ATHVisions Ilustrasi pusing. Dokter menjelaskan bahwa penderita diabetes perlu menghentikan puasa jika gula darah tidak terkontrol dan berisiko membahayakan kesehatan.

Puasa sebaiknya tidak dilanjutkan jika gula darah terus berada pada angka tinggi dan sulit dikendalikan. Kondisi tersebut berisiko memicu komplikasi.

Jika secara medis dinilai tidak memungkinkan, dokter biasanya menyarankan untuk tidak berpuasa terlebih dahulu.

Dalam kondisi tertentu, diskusi juga dapat dilakukan bersama ustaz, ulama, atau guru ngaji pasien.

Tujuannya untuk mempertimbangkan penggantian puasa dengan fidyah sesuai kondisi kesehatan.

Baca juga: Minum Obat Diabetes Saat Puasa, Haruskah Dosis Diubah? Ini Penjelasan Dokter

Fidiah sebagai alternatif ibadah

Fidiah menjadi pilihan bagi pasien yang secara medis tidak mampu menjalankan puasa.  Keputusan ini dilakukan setelah mempertimbangkan aspek kesehatan dan agama.

“Biasanya kita akan diskusi untuk memutuskan apakah sebaiknya diganti dengan fidiah,” kata dr. Andi.

Pendekatan tersebut dilakukan agar pasien tetap menjalankan ibadah sesuai kemampuan fisiknya.

Utamakan keselamatan selama berpuasa

Andi menegaskan bahwa keselamatan pasien tetap menjadi prioritas utama. Puasa tidak boleh memaksakan kondisi tubuh yang sedang tidak stabil.

Mayoritas penderita diabetes bisa menjalankan puasa dengan aman jika gula darah terkontrol dan pengobatan sesuai anjuran.

Namun, jika kondisi tidak memungkinkan, menghentikan puasa dan menggantinya di lain waktu atau dengan fidyah merupakan keputusan yang lebih bijak.

“Kuncinya tetap konsultasi dan koordinasi dengan dokter,” ujar dr. Andi.

Dengan evaluasi yang tepat meski Ramadhan sudah berjalan, penderita diabetes dapat mengambil keputusan terbaik tanpa mengabaikan kesehatan.

Baca juga: Gula Darah Turun di Bawah 60, Penderita Diabetes Harus Segera Batalkan Puasa

Tag:  #gula #darah #stabil #penderita #diabetes #kapan #harus #berhenti #puasa

KOMENTAR