Bitcoin Turun ke 66.450 dollar AS, Jadi Sinyal Fase Konsolidasi?
Harga Bitcoin (BTC) kembali terkoreksi ke kisaran 66.450 dollar AS atau setara Rp 1,11 miliar pada Kamis (19/2/2026), di tengah tekanan sentimen global usai rilis notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru.
Vice President INDODAX Antony Kusuma mengatakan, koreksi harga Bitcoin yang terjadi pasca rilis FOMC merupakan reaksi pasar yang wajar dan bersifat sementara.
“Koreksi harga yang terjadi pasca rilis FOMC ini adalah reaksi pasar yang sangat wajar dan bersifat sementara,” ujarnya, melalui keterangan pers, Jumat (20/2/2026).
“Investor global saat ini hanya sedang melakukan penyesuaian terhadap timeline pemangkasan suku bunga The Fed.”
Bitcoin tercatat turun sebesar 1,25 persen dalam 24 jam terakhir. Menurunnya harapan akan pelonggaran suku bunga global dalam waktu dekat turut mendorong indeks sentimen pasar kripto turun ke level Extreme Fear.
Baca juga: Bitcoin (BTC) Tertekan Ketidakpastian Suku Bunga The Fed
Dampak Kebijakan Suku Bunga Global
Notulensi FOMC menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan hampir sepakat untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini. Namun, perbedaan pandangan terkait langkah lanjutan bank sentral AS memicu respons negatif di pasar.
Sebagian pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap persisten, sementara yang lain bersedia memangkasnya jika tekanan harga mereda.
Sikap higher for longer tersebut turut memberikan tekanan pada likuiditas global, tercermin dari penguatan Indeks Dolar AS (DXY) ke level 97,7 yang berdampak langsung pada terkoreksinya instrumen aset berisiko, termasuk kripto.
Data FedWatch Tool CME Group menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga minimal 25 basis poin sebelum pertemuan Juni kini berada di bawah 50 persen.
Baca juga: Bitcoin Naik Tipis ke 66.978 Dollar AS, Masih Ambruk 24 Persen Sebulan
Likuiditas Domestik dan Strategi Investor
Antony menilai fondasi Bitcoin saat ini masih terjaga di tengah fase konsolidasi pasar.
“Meskipun Bitcoin saat ini berada di bawah 67.000 dollar AS, pergerakan ini masih berada dalam rentang konsolidasi yang sehat. Area 64.000 dollar AS menjadi titik support yang kuat,” katanya.
“Secara historis, fase konsolidasi seperti ini justru sering menjadi fondasi yang baik sebelum pasar kembali menguat,” lanjutnya.
Ia juga menyoroti keputusan Bank Indonesia terkait BI Rate yang saat ini berada di 4,75 persen - 5,5 persen, yang dinilai akan menentukan arah likuiditas investor domestik.
“Langkah Bank Indonesia ke depan dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah tentu memberikan kepastian bagi perekonomian domestik,” ujar Antony.
“Di tengah dinamika suku bunga dan isu geopolitik global yang masih dinamis, investor kripto tidak perlu panik.”
Menurut Antony, strategi investasi bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) dapat menjadi opsi bagi investor dalam menghadapi volatilitas pasar saat tekanan makroekonomi meningkat.
Tag: #bitcoin #turun #66450 #dollar #jadi #sinyal #fase #konsolidasi