Rupiah Tembus Rp 17.500, Cadangan Devisa dan Arus Modal Jadi Sorotan
- Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp 17.500 per dollar Amerika Serikat (AS) dinilai bukan sekadar gejolak pasar jangka pendek, melainkan sinyal rapuhnya struktur ekonomi domestik di tengah tekanan global yang semakin berat.
Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menilai depresiasi rupiah saat ini merupakan hasil kombinasi antara tekanan eksternal dan persoalan fundamental di dalam negeri.
Ronny menyebut kondisi saat ini sebagai “perfect storm” yang mempertemukan gejolak global dengan kerentanan domestik.
Baca juga: Rupiah Sentuh Rp 17.529 per Dollar AS, Imbas Pertumbuhan Ekonomi RI Diragukan
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026).
“Penembusan level Rp17.500 ini adalah alarm keras bahwa fundamental ekonomi kita sedang rapuh dan rentan terhadap guncangan global,” tulis Ronny dalam laporan ISEAI tipe-tipe pada Kamis (14/5/2026).
Menurut dia, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh beberapa faktor global, mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah hingga kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS, Federal Reserve.
Konflik di Selat Hormuz antara AS dan Iran disebut menjadi salah satu pemicu utama lonjakan harga minyak dunia.
Kondisi itu berdampak langsung terhadap Indonesia sebagai negara net importir minyak.
Baca juga: Pelemahan Rupiah: Ekonom Ingatkan Kenaikan Biaya Hidup Semester II-2026
“Kenaikan harga minyak mentah Brent hingga di atas 110 dollar AS per barrel meningkatkan beban impor energi Indonesia,” tulis laporan tersebut.
Di saat bersamaan, suku bunga tinggi AS membuat investor global menarik modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia, dan kembali menempatkan dana mereka di aset-aset berbasis dollar AS yang dinilai lebih aman.
Namun Ronny menilai persoalan rupiah bukan hanya datang dari luar negeri.
Ilustrasi rupiah.
Ia menyoroti struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai terlalu bertumpu pada konsumsi domestik dan belanja pemerintah, sementara investasi dan sektor produktif belum cukup kuat menopang pertumbuhan jangka panjang.
Baca juga: Industri Makanan Minuman Kesulitan Sesuaikan Harga Karena Pelemahan Rupiah
Selain itu, kekhawatiran investor terhadap pasar keuangan Indonesia juga meningkat akibat isu MSCI, arus modal keluar, hingga ketidakpastian fiskal dan kelembagaan.
“Keraguan pasar terhadap transparansi bursa dan sustainabilitas belanja negara menjadi beban tambahan bagi aset berdenominasi rupiah,” tulis laporan tersebut.
Ronny juga mengkritik langkah intervensi Bank Indonesia yang dinilai belum cukup efektif meredam pelemahan rupiah.
Menurut dia, BI berada dalam posisi sulit karena harus menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan stabilitas nilai tukar.
Baca juga: Pelemahan Rupiah Naikkan Biaya Produksi Industri Tekstil
Dalam laporan itu disebutkan BI menghadapi “dilema trilema moneter”, yakni tidak bisa sekaligus menjaga kurs, mempertahankan suku bunga rendah, dan membiarkan arus modal bebas secara bersamaan.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia juga mulai tergerus akibat intervensi pasar dan pembayaran utang luar negeri.
Cadangan devisa per April 2026 tercatat turun menjadi 146,2 miliar dollar AS dari sebelumnya 148,2 miliar dollar AS pada Maret 2026.
Ronny memperingatkan dampak pelemahan rupiah kini mulai terasa di sektor riil.
Baca juga: Rupiah Sentuh 17.516, Konflik Timur Tengah dan Dollar AS Menguat Jadi Pemicu
Industri manufaktur menghadapi kenaikan biaya impor bahan baku dan energi, sementara masyarakat mulai terkena tekanan imported inflation pada produk pangan olahan, farmasi, hingga elektronik.
Meski demikian, ia menilai kondisi saat ini belum bisa disamakan dengan krisis 1998 karena sektor perbankan Indonesia dinilai masih jauh lebih kuat dan cadangan devisa relatif lebih besar.
Namun ancaman yang muncul saat ini disebut lebih bersifat jangka panjang.
“Ancaman saat ini lebih bersifat slow death akibat erosi daya saing dan tekanan fiskal yang berkepanjangan,” tulis Ronny.
Baca juga: Pelemahan Rupiah: Pentingnya Menjaga Volatilitas Nilai Tukar
Ronny pun meminta pemerintah dan Bank Indonesia memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, memperbaiki struktur pasar modal, hingga mempercepat pengurangan ketergantungan impor energi agar rupiah tidak terus menjadi titik lemah ekonomi Indonesia.
Tag: #rupiah #tembus #17500 #cadangan #devisa #arus #modal #jadi #sorotan