Sudah Budgeting, Tapi Masih Bocor? Ini Masalah Keuangan yang Sering Dialami Keluarga Muda
- Disiplin membuat anggaran pengeluaran bulanan saja ternyata tidak cukup ampuh untuk mengatasi masalah kebocoran keuangan bagi keluarga muda.
Kondisi itu pernah dirasakan Dian (35 tahun), seorang working mom. Dia mengaku sempat mengatur keuangan di satu rekening tabungan.
Namun karena seluruh uang kebutuhan tercampur, akibatnya dana yang seharusnya disimpan untuk pengeluaran tertentu 'bocor' atau kerap terpakai untuk kebutuhan lain.
Dia juga sempat mencoba memisahkan uang dengan rekening yang berbeda-beda.
Baca juga: Strategi Budgeting Ala Gen Z: Kelola Uang dengan Kantong Digital
Namun cara tersebut juga tidak berjalan efektif untuk mencegah kebocoran karena dia jadi harus membayar biaya admin bank untuk tiap rekeningnya.
"Tantangan utamanya biasanya memastikan semua kebutuhan terpenuhi tanpa kebablasan, apalagi kalau pengeluaran lagi banyak," kata Dian kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Setelah mencoba berbagai cara untuk mengatur keuangan keluarga agar tidak bocor, kini Dian mulai memisahkan uang berdasarkan kebutuhan melalui fitur kantong digital dalam satu aplikasi perbankan.
Cara tersebut, menurutnya, membuat alur pengeluaran lebih mudah dipantau.
Uang dapat dibagi menjadi beberapa kantong digital tapi tetap ada di satu rekening pengelolaan uang jadi lebih aman dan tidak gampang bocor untuk kebutuhan lain.
"Jadi lebih kelihatan alurnya, uangnya dipakai ke mana aja, dan lebih gampang ngontrol pengeluaran," ucapnya.
Bahkan dia juga menggunakan fitur sharing kantong dari salah satu bank digital untuk menabung bersama dengan suami, kerabat, dan teman untuk berbagai tujuan.
Misalnya, dengan suami, dia gunakan fitur itu untuk menabung biaya liburan keluarga.
Fitur ini juga dia gunakan untuk arisan bersama teman-teman. "Seru banget, bisa arisan sama teman. Dan waktunya pun tidak perlu ketemu lho, kocok arisannya langsung di fitur sharing itu," ungkapnya antusias.
Fenomena kebocoran keuangan meski sudah membuat budgeting sebenarnya banyak dialami keluarga muda.
Penyebab kebocoran
Perencana keuangan Andi Nugroho mengatakan, masalah tersebut umumnya terjadi karena pengeluaran keluarga terlalu mepet dengan pemasukan.
"Secara general kita bisa bilang karena penghasilannya lebih sedikit dibandingkan pengeluarannya, atau penghasilannya begitu ngepas dibandingkan dengan pengeluarannya," ungkap Andi kepada Kompas.com, Senin (4/5/2026).
Namun, menurut dia, hal tersebut wajar terjadi karena setelah berkeluarga tentu sumber pengeluaran menjadi jauh lebih kompleks dibanding saat masih lajang.
Kebocoran keuangan bagi orang yang sudah berkeluarga sering muncul dari pos-pos kecil yang terus bermunculan dan sulit diprediksi.
"Ada kemungkinan kebocorannya di kebutuhan-kebutuhan anak seperti uang jajan anak, ataupun apabila ada kebutuhan pemeliharaan kesehatan yang mendadak, serta ada kemungkinan timbulnya biaya-biaya sosial dari masyarakat seperti banyaknya undangan pernikahan yang harus dihadiri, uang tali asih bila ada warga yang kedukaan," bebernya.
Kendati demikian, Andi menilai, sistem pengelolaan keuangan keluarga sebenarnya tidak bisa disamaratakan.
Setiap pasangan memiliki kondisi dan pola pengaturan uang yang berbeda-beda.
Karena itu, menurut dia, sistem pengelolaan keuangan yang paling realistis adalah sistem yang paling memungkinkan dijalankan secara konsisten oleh masing-masing keluarga.
"Ada yang sistemnya semua kebutuhan keluarga dicover dari penghasilan suami, lalu penghasilan istri difokuskan untuk ditabung dan diinvestasikan. Mana yang dipilih, tentu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi keluarga tersebut masing-masing," ucapnya.
Ilustrasi tabungan, rekening.
Sementara itu, Head of Retail Banking Brand and Marketing Bank Jago Michael Hartawan mengungkapkan, masalah utama rumah tangga saat ini sebenarnya bukan sekadar menyimpan uang, melainkan mengelolanya secara disiplin dan terarah.
Salah satu penyebabnya, banyak rumah tangga yang masih mencampur dana kebutuhan harian dengan tabungan atau tujuan jangka panjang dalam satu rekening yang sama.
"Akibatnya, dana kebutuhan harian tercampur dengan tabungan, rencana jangka panjang sering terpakai, dan akhirnya tujuan finansial jadi tidak tercapai," ungkap Michael kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Kendati demikian saat ini masyarakat sudah banyak yang mulai memisahkan keuangannya berdasarkan tujuan finansial melalui fitur kantong digital.
Pasalnya, dengan fitur kantong digital ini nasabah memecah dananya ke beberapa kantong dengan tujuan spesifik, tanpa harus repot membuka banyak rekening.
Hingga Maret 2026, terdapat sekitar 43,2 juta kantong yang digunakan oleh 15,2 juta pengguna aplikasi Bank Jago.
Rata-rata setiap pengguna memiliki hampir tiga kantong khusus untuk kebutuhan berbeda, mulai dari pengeluaran harian, tagihan rutin, hingga dana musiman seperti THR dan kebutuhan Lebaran.
"Jadi bukan karena tabungan biasa tidak cukup, tapi karena kebutuhan nasabah sudah berkembang. Mereka butuh tools yang tidak hanya bisa menyimpan uang, tapi juga membantu mengelolanya secara lebih terarah dan relevan dengan gaya hidup digital," jelasnya.
Dengan pengelolaan yang lebih terstruktur, budgeting dinilai menjadi lebih mudah dijalankan secara konsisten dibanding hanya mencatat pengeluaran tanpa pemisahan yang jelas.
Terlebih selain untuk kebutuhan pribadi, Bank Jago juga memiliki fitur kantong bersama atau sharing pocket untuk mengelola keuangan kolektif bersama pasangan, keluarga, maupun teman.
Menurut Michael, fitur tersebut memungkinkan beberapa orang mengakses satu kantong yang sama untuk tujuan tertentu.
Seluruh aktivitas keuangan tercatat dalam satu wadah sehingga lebih mudah dipantau bersama. "Setiap pihak bisa melihat, menggunakan, dan berkontribusi sesuai kesepakatan yang dibuat," tuturnya.
Baca juga: Tren Menabung Bergeser ke Bank Digital, Punya Banyak Rekening Tak Lagi Relevan
Tag: #sudah #budgeting #tapi #masih #bocor #masalah #keuangan #yang #sering #dialami #keluarga #muda