Ciri-Ciri Infeksi Hantavirus yang Perlu Diwaspadai, Bisa Berawal dari Gejala Flu
Infeksi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus ke manusia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, infeksi ini dapat menyebabkan penyakit berat hingga kematian, meski kasusnya relatif jarang secara global.
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dr. Dicky Budiman, PhD, menjelaskan bahwa hantavirus sering kali sulit dikenali pada tahap awal karena gejalanya menyerupai infeksi virus umum seperti flu.
"Jadi pasien umumnya, awalnya-awal mengalami demam, ada otot, lemas, mual, tapi dalam beberapa hari bisa berkembang cepat jadi sesak napas berat, paru-paru terisi cairan, hingga penurunan secara oksigen drastis," ungkannya saat dihubungi Kompas.com, baru-baru ini.
Baca juga: Epidemiolog Sebut Risiko Hantavirus di Indonesia Rendah, tapi Perlu Waspada
Gejala awal mirip flu
Menurut WHO dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, gejala awal hantavirus biasanya muncul 1–8 minggu setelah paparan. Kondisi ini dapat dimulai dengan:
- Demam
- Nyeri otot, terutama di area punggung, paha, dan pinggul
- Lemas dan menggigil
- Sakit kepala
- Mual, muntah, atau gangguan pencernaan ringan
Karena gejalanya tidak spesifik, infeksi sering tidak langsung terdeteksi pada fase awal.
Baca juga: 5 Fakta tentang Hantavirus, dari Penularan hingga Risiko di Indonesia
Bisa berkembang cepat ke gangguan paru
Dalam beberapa hari setelah fase awal, kondisi dapat memburuk dengan cepat.
WHO menjelaskan bahwa pada kasus berat, hantavirus dapat menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan kebocoran pembuluh darah di paru-paru.
Gejala lanjut yang perlu diwaspadai meliputi:
- Batuk
- Sesak napas
- Penurunan oksigen secara drastis
- Penumpukan cairan di paru-paru
- Tekanan darah menurun
Kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal napas akut atau acute respiratory distress syndrome (ARDS).
Baca juga: Siapa yang Rentan Terpapar Hantavirus? Ini Penjelasan Epidemiolog
Termasuk penyakit dengan risiko fatal pada kasus berat
CDC mencatat, pada bentuk berat hantavirus di Amerika (HPS), tingkat kematian dapat mencapai sekitar 30–50 persen, terutama bila penanganan terlambat atau fasilitas medis terbatas.
Meski demikian, tidak semua kasus berkembang menjadi berat, dan sebagian pasien dapat pulih dengan perawatan intensif.
Baca juga: Curhat Jake Rosmarin Penumpang Kapal MV Hondius Saat Jalani Karantina Hantavirus
Penularan umumnya dari tikus, bukan antar manusia
WHO menegaskan bahwa hantavirus umumnya tidak menular dari manusia ke manusia. Penularan paling sering terjadi melalui:
- Menghirup partikel dari urine, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi
- Kontak dengan permukaan yang terkontaminasi
- Gigitan tikus (lebih jarang)
Namun, strain tertentu seperti Andes virus di Amerika Selatan dilaporkan memiliki potensi penularan terbatas antar manusia dalam kontak sangat dekat.
Tetap waspada tanpa panik
Meski tergolong serius, WHO dan CDC menekankan bahwa risiko hantavirus pada populasi umum tetap rendah.
Pencegahan utama adalah menghindari paparan tikus dan menjaga kebersihan lingkungan.
Masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam disertai nyeri otot setelah berada di lingkungan berisiko seperti gudang, area banjir, atau tempat dengan sanitasi buruk.
Tag: #ciri #ciri #infeksi #hantavirus #yang #perlu #diwaspadai #bisa #berawal #dari #gejala