Hantavirus Disebut Tak Cukup Didiagnosis dari Gejala Saja, Ini Metode Tesnya
Infeksi Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) disebut tak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala klinis karena pada fase awal.
Sebab, penyakit ini sering menyerupai infeksi virus lain seperti flu atau demam berdarah.
"Diagnosis dini infeksi hantavirus bisa jadi sulit karena gejala awalnya mirip dengan penyakit demam atau pernapasan lainnya, seperti influenza, COVID-19, pneumonia virus, leptospirosis, demam berdarah, atau sepsis," tulis keterangan di laman WHO, dikutip Jumat (15/5/2026).
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, diagnosis hantavirus harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, terutama karena gejala awalnya tidak spesifik dan dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat.
Gejala awal sering tidak khas
CDC dan World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa pada tahap awal, pasien dapat mengalami:
- Demam
- Nyeri otot
- Kelelahan
- Sakit kepala
- Mual atau gangguan pencernaan ringan
Karena gejala ini umum pada banyak infeksi virus, dokter tidak bisa hanya mengandalkan keluhan pasien untuk menegakkan diagnosis.
Baca juga: Waspadai Hantavirus, Menkes Imbau Masyarakat Jaga Kebersihan dari Tikus
Tes darah menjadi pemeriksaan utama
CDC menjelaskan bahwa metode utama untuk mendeteksi hantavirus adalah tes serologi darah, yaitu pemeriksaan antibodi terhadap virus.
Pemeriksaan yang digunakan meliputi:
- ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay) untuk mendeteksi antibodi IgM dan IgG
- IgM menunjukkan infeksi akut atau baru terjadi
- IgG menunjukkan paparan sebelumnya terhadap virus
Dalam banyak kasus, hasil IgM positif yang disertai gejala klinis dan riwayat paparan sudah sangat mendukung diagnosis hantavirus.
RT-PCR untuk deteksi materi genetik virus
Selain tes antibodi, CDC dan berbagai referensi laboratorium kesehatan masyarakat juga menggunakan RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction).
Tes ini mendeteksi RNA virus secara langsung dalam darah dan paling efektif pada fase awal infeksi, sebelum antibodi terbentuk optimal.
Namun, sensitivitasnya dapat menurun seiring perjalanan penyakit.
Diagnosis harus kombinasi beberapa faktor
CDC menegaskan bahwa diagnosis hantavirus umumnya ditegakkan berdasarkan kombinasi:
Gejala klinis yang sesuai
- Riwayat paparan tikus atau lingkungan terkontaminasi
- Hasil laboratorium (ELISA dan/atau RT-PCR)
- Tanpa kombinasi tersebut, diagnosis tidak dapat dipastikan hanya dari satu jenis pemeriksaan.
Baca juga: Ciri-Ciri Infeksi Hantavirus yang Perlu Diwaspadai, Bisa Berawal dari Gejala Flu
Tantangan diagnosis di lapangan
WHO dan CDC juga menyoroti bahwa hantavirus sering sulit dikenali karena:
- Gejalanya mirip penyakit lain seperti influenza dan leptospirosis
- Tidak semua fasilitas kesehatan memiliki pemeriksaan spesifik hantavirus
- Dibutuhkan kecurigaan klinis berdasarkan riwayat paparan pasien
- Penularan dari lingkungan, bukan antar manusia
WHO menyebut hantavirus umumnya menular melalui paparan partikel dari urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi, bukan dari manusia ke manusia, kecuali pada beberapa strain tertentu yang sangat terbatas.
Kesimpulan
Hantavirus tidak dapat didiagnosis hanya dari gejala karena sifatnya yang tidak spesifik di awal.
Konfirmasi medis memerlukan pemeriksaan laboratorium seperti ELISA dan RT-PCR, disertai riwayat paparan serta evaluasi klinis.
Dengan diagnosis yang tepat dan cepat, pasien dapat segera mendapatkan perawatan suportif yang krusial untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Tag: #hantavirus #disebut #cukup #didiagnosis #dari #gejala #saja #metode #tesnya