Rupiah Tembus Rp 17.600, DPR Ingatkan Risiko Harga Naik
Ilustrasi nilai tukar rupiah.(SHUTTERSTOCK/KINGN)
13:52
15 Mei 2026

Rupiah Tembus Rp 17.600, DPR Ingatkan Risiko Harga Naik

- Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.600 per dollar AS mulai memunculkan kekhawatiran terhadap dampaknya ke harga barang dan daya beli masyarakat. Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun meminta otoritas fiskal dan moneter memperkuat mitigasi agar tekanan kurs tidak berubah menjadi imported inflation.

Sebagai informasi, Komisi XI DPR RI membidangi ruang lingkup tugas di sektor Keuangan, Perencanaan Pembangunan Nasional, Moneter, dan Sektor Jasa Keuangan. 

Menurut Misbakhun, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi dinamika global, mulai dari pergeseran arus modal asing hingga meningkatnya ketidakpastian pasar internasional. Namun, ia menilai tekanan eksternal tidak boleh langsung membebani sektor riil dan masyarakat.

“Kalau pelemahan Rupiah ini tidak dimitigasi dengan cepat, dampaknya bisa langsung terasa ke biaya produksi, harga barang impor, sampai harga kebutuhan masyarakat,” tegas Misbakhun dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (15/5/2026).

Baca juga: Rupiah Melemah Mulai Hantam Dapur Warga: Harga Tahu, Tempe, hingga Mi Instan Terancam Naik

Ia menilai langkah stabilisasi perlu dilakukan secara presisi agar kepercayaan pasar tetap terjaga tanpa membebani cadangan devisa secara berlebihan.

Karena itu, Bank Indonesia didorong aktif menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi terukur di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar Surat Berharga Negara (SBN).

“Yang dijaga bukan cuma angka kursnya. Yang lebih penting itu kepercayaan pasar dan kepastian bagi pelaku usaha. Komunikasi kebijakan harus cepat, jelas, dan kredibel,” katanya.

Baca juga: Kurs Rupiah Anjlok ke Rp 17.600, Harga Tahu dan Tempe Berpotensi Naik

Rupiah Tembus Rp 17.600 per Dollar AS

Di tengah dorongan mitigasi tersebut, rupiah kembali melemah dan menembus level psikologis baru di atas Rp 17.600 per dollar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi.

Berdasarkan pantauan di platform Google Finance pada pukul 09.03 WIB, kurs 1 dollar AS tercatat setara Rp 17.603,20. Pergerakan tersebut terlihat dari data Morningstar yang tampil di Google Finance. Di platform Bloomberg, rupiah juga masih bergerak dalam tren pelemahan terhadap dollar AS.

Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp 17.529 per dollar AS pada perdagangan terakhir. Sementara pada pembukaan perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp 17.540 hingga Rp 17.550 per dollar AS sebelum akhirnya menembus level Rp 17.600 per dollar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dollar AS global, kenaikan harga minyak dunia, hingga meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan akibat konflik geopolitik Timur Tengah.

Baca juga: Rupiah Melemah, Begini Dampaknya ke Harga BBM dan Tiket Pesawat

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede sebelumnya memperkirakan pergerakan rupiah pada kuartal II 2026 berada di rentang Rp 17.200 hingga Rp 17.600 per dollar AS. Ia menilai tingginya harga minyak dunia dan belum pulihnya arus modal asing menjadi faktor utama pelemahan rupiah.

“Jika Brent bertahan di atas 110 dollar AS per barrel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp 17.800,” ujar Josua Pardede dikutip dari Kompas.com, Selasa (5/5/2026).

Senada, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan kenaikan harga minyak mentah dunia dan sentimen pasar global masih membebani mata uang regional, termasuk rupiah.

“Rupiah dan mata uang regional terpantau melemah cukup besar terhadap dollar AS oleh harga minyak mentah dunia yang kembali naik,” kata Lukman Leong dikutip dari Kompas.com, Selasa (12/5/2026).

Reuters juga melaporkan rupiah sempat menyentuh rekor terlemah baru di level Rp 17.535 per dollar AS akibat lonjakan harga minyak dan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Baca juga: Rupiah Melemah Tembus Rp 17.600 per Dollar AS pada Jumat Pagi

DPR Soroti Risiko Inflasi Impor

Misbakhun juga menyoroti pentingnya optimalisasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Ia meminta pemerintah memastikan devisa eksportir tetap masuk ke sistem keuangan domestik guna memperkuat pasokan dollar AS di dalam negeri di tengah tekanan global.

Selain itu, ia meminta Kementerian Keuangan menyiapkan skenario antisipasi pada APBN, terutama untuk menjaga sektor industri padat karya dan stabilitas harga pangan. Menurut dia, pemerintah perlu membuka ruang relaksasi fiskal atau insentif tertentu bagi bahan baku industri yang masih bergantung pada impor.

“Jangan sampai pelemahan Rupiah ujung-ujungnya menaikkan biaya produksi lalu dibebankan lagi ke harga barang di masyarakat,” ujarnya.

“Kalau itu terjadi, daya beli bisa ikut tertekan,” sambung Misbakhun.

Menutup pernyataannya, Misbakhun memastikan Komisi XI DPR RI akan terus memantau perkembangan indikator makroekonomi dan mengawal sinergi kebijakan dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) agar tekanan volatilitas global tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

“Momentum pertumbuhan ekonomi yang sudah terbangun ini harus dijaga bersama,” pungkasnya.

“Karena itu respons kebijakan tidak boleh lambat dan harus benar-benar terkoordinasi,” lanjut Misbakhun.

Tag:  #rupiah #tembus #17600 #ingatkan #risiko #harga #naik

KOMENTAR