Anggota DPR: Kok Anak-anak Bisa Mudah Akses Situs Judol?
Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang menilai wacana penerapan skema ?war ticket? haji berpotensi bertentangan dengan Undang-Undang tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah Yang baru disahkan.(KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA)
18:14
15 Mei 2026

Anggota DPR: Kok Anak-anak Bisa Mudah Akses Situs Judol?

- Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang mempertanyakan lemahnya pengawasan akses situs judi online atau judol, setelah muncul data hampir 200.000 anak di Indonesia terpapar praktik tersebut.

“Makanya patut kita pertanyakan kenapa bisa anak-anak terpapar? Kok mudah sekali anak-anak itu mengakses situs-situs itu,” kata Marwan saat dihubungi Kompas.com, Jumat (15/5/2026).

Baca juga: Anggota DPR Minta Pemerintah Awasi Judol Pakai AI: Patroli Siber!

Marwan menyoroti mudahnya anak-anak mengakses situs judol, dan meminta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menjelaskan langkah konkret yang sudah dilakukan untuk mencegah hal itu terjadi.

Menurut dia, Komdigi tidak cukup hanya merilis data anak yang terpapar judi online, tetapi juga harus membuka langkah-langkah pengawasan dan penindakan yang dilakukan.

“Nah kalau begitu Komdigi tolong jangan membuka data saja, tetapi boleh juga membuka sikap atau langkah-langkah yang akan diambil oleh Komdigi supaya tidak mudah diakses oleh anak-anak,” jelas Marwan.

Baca juga: 200.000 Anak Terpapar Judol, Ini Saran Pakar untuk Pemerintah

Marwan mengatakan, akses untuk membuka, mengunci, hingga menutup situs judi online berada di tangan Komdigi.

Oleh karena itu, dia meminta kementerian tersebut bertanggung jawab penuh terhadap maraknya akses judi online di kalangan anak.

“Kan yang bisa mengunci, membuka, bahkan menutup dia. Ada di dia sendiri,” kata politikus PKB itu.

Baca juga: Ada 200.000 Anak Terpapar Judi Online, Anggota DPR: Komdigi Harus Berani Hentikan

Marwan juga mengingatkan agar pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan korban di hilir, sementara sumber persoalan di hulu tidak diselesaikan.

“Nah sekarang bukan lagi hanya orang miskin, tapi bahkan anak-anak pun sudah terpapar. Saya mau tanya itu langkah yang dilakukan Komdigi apa? Kan hulunya dia. Sementara hilirnya, sampahnya dikasih ke kita,” ucap Marwan.

Menkjomdigi ungkap 200.000 anak terpapar judol

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengungkapkan hampir 200.000 anak di Indonesia terpapar judol, termasuk sekitar 80 ribu anak berusia di bawah 10 tahun menjadikan alarm serius bagi masa depan generasi muda.

“Judi online adalah scam yang sistemnya memastikan pemain hampir selalu rugi dan kalah dalam jangka panjang,” kata Meutya dalam kegiatan Indonesia GOID Menyapa Gass Pol Tolak Judol di Medan, Rabu (13/5/2026).

Untuk itu, lanjut Meutya, semua pihak harus menjadi garda edukasi, saling mengingatkan, serta melindungi keluarga dan anak-anak kita dari maraknya praktik ilegal tersebut.

Menurut Meutya, pemberantasan judi online tidak cukup hanya melalui pemutusan akses dan penindakan hukum, tetapi juga perlu memperkuat literasi digital dan kesadaran masyarakat.

“Kita tidak hanya menutup akses atau melakukan takedown. Yang terpenting adalah menjangkau masyarakat luas dengan fakta-fakta ini, sehingga kesadaran tumbuh dari dalam keluarga dan komunitas,” ujarnya.

Kementerian Komunikasi dan Digital, lanjut Meutya, terus melakukan pemblokiran terhadap situs dan konten judi online. Namun, dia menilai upaya tersebut perlu diperkuat melalui kerja sama lintas sektor.

“Kami akan terus memerangi aksesnya. Tapi kalau pelakunya tidak ditindak tegas, situs baru akan terus muncul. Karena itu, kami butuh dukungan penuh dari Polri, PPATK, OJK, perbankan, dan seluruh platform digital,” ujar dia.

Meutya juga menyoroti maraknya iklan judi online di media sosial yang dinilai semakin agresif menyasar pengguna di Indonesia. Kemkomdigi disebut telah meminta platform digital seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan YouTube untuk lebih aktif menurunkan konten terkait judi online.

Tag:  #anggota #anak #anak #bisa #mudah #akses #situs #judol

KOMENTAR